kampus pejuang dakwah

Agar Malaikat Turun ke Bumi

Oleh: Tim kajian dakwah alhikmah

alhikmah.ac.id - Setelah semua upaya dilakukan. Setelah semua pengorbanan diberikan. Setelah semua doa dipanjatkan. Selebihnya adalah mengharapkan keajaiban. Ya keajaiban dalam perspektif keimanan bukanlah negatif. Bahkan kerap kali keimanan itu menciptakan hal-hal yang ajaib. Sejarah orang-orang beriman banyak dipenuhi dengan kejadian-kejadian ajaib dan di luar prediksi nalar manusia. Allah memberikan karunia keajaiban itu kepada mereka sebagai bukti dukungan-Nya kepada perjuangan mereka menegakkan kebenaran dan mempertahankannya. Maka dalam Islam kita mengenal mukjizat, karomah, dan lain-lain.

Setelah melakukan perdebatan raja Fir’aun yang menegangkan urat syaraf, lalu dilanjutkan dengan adu kehebatan antara nabi Allah Musa as. melawan para tukang sihirnya dalam rangka membela kebenaran dan menyelamatkan Bani Israel dari perbudakan raja Fir’aun. Keajaiban pun terjadi. Seorang nabi Musa berhasil mengalahkan kehebatan para tukang sihir itu; ular-ular tukang sihir mereka dilumat habis oleh ular Musa as dan mereka pun menyatakan keimanannya kepada Tuhannya Musa dan Harun. Peristiwa tidak berhenti di situ, raja Fir’aun yang dipermalukan di depan rakyatnya pun murka dan hendak membinasakan mereka semua; Musa dan Bani Israel. Lalu tejadilah peristiwa pengejaran terhadap Musa dan kaumnya hingga pelarian mereka terhadang oleh bentangan laut Merah di hadapan mereka. Logika manusia mengatakan, mereka akan segera tertangkap lalu menjadi bulan-bulanan amukan Fir’aun dan tentaranya.

Untuk kesekian kalinya Allah menurunkan keajaiban-Nya kepada mereka. Laut yang menghadang itu kemudian terbelah oleh hentakan tongkat Musa as. dan mereka pun menyebaringinya laksana menyeberangi daratan. Dan Musa beserta kaumnya selamat dari pengejaran Fir’aun. Sebaliknya, Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam ketika mereka mengikuti jejak Musa menyeberangi jalan laut yang telah diretas Musa atas izin Allah itu. Allah mengabadikan kisah ajaib ini dalam firman-Nya di As-Syu’ara’ ayat 61 -66

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain]. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.”
Keajaiban bagi manusia tentu bukan keajaban bagi Allah swt., yang memiliki kerajaan langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya dan menjadi tentara-Nya.

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan Allah swt. untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya. Seperti pada perang Badar, di mana Allah menurunkan para malaikat untuk membantu perjuangan kaum muslimin. Allah mengisahkan:

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal: 9)

Murdifin artinya malaikat yang diperbantukan Allah secara berkelompok dan bergelombang, satu kelompok datang lalu disusul oleh kelompok lain. Itu terasa lebih menakutkan musuh.
Perang Badar adalah peristiwa besar yang penuh dengan keajaiban. Jumlah pasukan yang tidak berimbang antara kaum muslimin dan kafir Quraisy, senjata yang tidak sebanding, perbekalan yang jauh lebih sedikit ketimbang lawan. Logika kita memahami bahwa 1 orang melawan 3 hanyalah tindakan bunuh diri. 314 pasukan dan 2 kuda perang Islam, melawan 950 pasukan dengan 200 kuda kafir Quraisy.

Rasulullah saw. menghabiskan malam itu dalam zikir kepada Allah swt., tasbih, dan doa. Agar Allah swt. berkenan menurunkan pertolongan-Nya kepada kelompok kecil ini. Sekelompok yang membela agamanya dan kehormatannya. Rasulullah saw. terus menerus berdoa dan bermunajat kepada Tuhannya sampai jubahnya terjuntai jatuh dari pundaknya. Terharu melihat kondisi beliau Abu Bakar ra. mengangkat jubah itu lalu meletakkannya kembali di pundak beliau sembil berkata:

“Tenang ya Rasulullah. Cukuplah kiranya engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Allah telah menjanjikanmu salah satu dari dua kelompok itu.”

Lalu perang tanding pun dimulai. Rasulullah tak henti-hentinya bermunajat kepada Allah:

اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ فَلَنْ تُعْبَدَ فِي الأَرْضِ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Ya Allah, jika pasukan ini kalah. Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini setelah ini.”
Selain munajat, doa, harap, segenap kekhawatiran. Rasulullah juga memotivasi dan memberikan instruksi dan komando kepada para sahabat. Bahkan menjanjikan mereka dengan janji-janji surga.
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah hari ini salah seorang di antara kalian bertempur lalu dia terubunuh karena bersabar dan mengaharapkan pahala Allah, ia maju dan tidak mundur, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
Rasulullah meneruskan motivasinya:

“Bangkitlah kalian untuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Demi mendengar ucapan itu, Umair bin Al-Humam berkata, “Bakh. Bakh.” Rasulullah bersabda, “Apa yang membuatmu mengucapkan bakh bakh?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah ya Rasulullah, selain harapan agar aku termasuk penghuni surga.” Rasulullah bersabda, “Kamu termasuk penghuninya.” Umair mengambil kurma di tangkainya lalu melemparkannya seraya berkata, “Jika aku hidup sampai menghabiskan kurma ini, tentu itu merupakan kehidupan yang panjang.” Lalu ia bertempur melawan mereka hingga terbunuh.
Allah swt. memberikan kemenangannya kepada pasukan kecil ini. Yang terbunuh dari pihak kafir 70 orang dan kaum Muslimin 14 orang.

Begitulah dukungan dan pertoloangan Allah selalu datang kepada orang-orang yang beriman. Di sepanjang sejarah perjuangan wali-wali Allah itu. Tidak hanya perjuangan di medan perang. Bahkan semua medan perjuangan di jalan Allah yang tujuannya menegakkan kebenaran dan kalimat Allah di muka bumi. Perjuangan dakwah, pendidikan, bahkan politik. Ketika cita-cita perjuangannya adalah mendamba ridha Allah.

Seorang ibu tinggal di sebuah komplek di Bekasi bercerita, bahwa selama ini diri dan keluarganya adalah fungsionaris dan pendukung partai tertentu. Semua orang tahu bahwa dia dan keluarganya pendukung partai itu. Akan tetapi pada pemilihan umum 2004 lalu dia tidak memilih partai yang selama ini dipilihnya. Ibu itu bercerita, “Saya memasuki bilik suara, terdapat tiga lembar kertas suara yang akan saya coblos. Aneh sekali, pada lembaran lembaran itu tidak jelas, kecuali partai (tertentu) yang berasaskan Islam, ya saya coblos aja partai itu. Gak apa lah, masih ada dua lembar kertas suara lagi, keduanya akan saya berikan untuk partai saya. Lembar kedua saya buka, ternyata tidak berbeda dengan lembar pertama, semua gambar tidak jelas kecuali gambar partai nomor di atas, saya cobloslah gambar itu. Ya, saya masih punya harapan untuk lembar ketiga, suara saya akan saya berikan untuk memilih calon wakil rakyat di tingkat kabupaten dari partai saya. Ternyata saya mendapatinya seperti dua lembar kertas sebelumnya, akhirnya suara saya berikan nomor tersebut. Jangan bilang siapa siapa ya. Inikah yang namannya hidayah itu…”

Seorang ibu-ibu juga, tinggal di Tangerang. Sewaktu memasuki bilik suara ia blank. Tidak ada bayangan akan memilih apa. Sampai ketika hendak mencoblos, juga tidak ada kecenderungan untuk memilih apa. Tiba-tiba bayangan ustadz di pengajiannya muncul. Sepertinya ustadz orang partai Islam (tertentu), maka serta merta ia pun memilih partai itu. Padahal selama ini sang ustadz tidak pernah menyarankan apalagi mendoktrin untuk memilih partai tertentu.

Di sebuah daerah di Papua. Mayoritas penduduknya Kristen. Jelas mereka akan memberikan aspirasi politiknya ke partai yang bukan partai Islam. Pada pemilihan umum tahun 2004 itu, sebagian besar warga diangkut dengan beberapa truk untuk sampai ke TPS. Sebelum berangkat mereka semua didoktrin untuk memlilih partai se idioleogi mereka, berulang kali tokoh setempat mengingatkan partai yang akan mereka pilih. Dan secara mengejutkan, usai penghitungan suara salah satu partai Islam meraup suara yang cukup signifikan dan berhasil menempatkan seorang wakilnya ke kursi dewan. Usut punya usut, ternyata sebagian besar mereka salah pilih, partai se-idiologi mereka yang akan mereka pilih, eh partai Islam yang mereka coblos.

Keikhlasan, totalitas perjuangan, keteladanan pemimpin dan ketaatan tentara, kerendahan diri di hadapan Allah, kekuatan ruhiyah, totalitas dalam tawakal adalah deretan kata kunci untuk memancing pertolongan Allah swt., agar berkenan menurunkan tentara-Nya memenangkan kebenaran. Wallahu A’lam. (dkwt)

download

Share:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Technorati
kategori: Aqidah, Fiqih dakwah

Artikel berkaitan: