kampus pejuang dakwah

Hijrah dan Menata Ulang Peradaban Islam

alhikmah.ac.id – Tidak terasa tahun 1432 H telah berlalu. Mari kita sambut tahun 1433 H dengan perubahan yang berarti. Pergantian masa tidak akan bernilai apa-apa jika saja perubahan atau perpindahan tidak dilakukan dengan benar. Inilah momentum bagi umat islam untuk hijrah menuju kebangkitan berperadaban. Dengan arti lain, tahun yang berganti hendaknya dibarengi dengan perubahan dari hal-hal yang dulunya negatif berubah menjadi yang lebih positif, dari kemaksiatan menuju ketaqwaan, dari keterpurukan menuju kebangkitan.

Peristiwa hijrahnya Rasulullah pada tahun ke-13 kenabian meninggalkan Mekkah menuju Madinah telah banyak meninggalkan pelajaran yang penting dalam sejarah islam. Hijrah bukan hanya sekedar berpindahnya fisik dari Mekkah ke Madinah, melainkan peristiwa perpindahan mental, sikap dan budaya.

Dengan berkembangnya zaman berarti menunjukkan kehidupan alam semesta dan makhluknya semakin mendekati kehancuran yang di janjikan_Nya. Tahun demi tahun silih berganti, perkembangan dari segi keilmuan dan kebudayaan juga ikut berkembang. Hanya orang yang mampu memahami pentingnya “ilmu dominasi” sajalah yang bisa menjadi kaca peradaban pada suatu masa.

Keinginan untuk maju dan berkembang sebagai bangsa besar yang bermartabat seakan tidak pernah hilang dari dalam pikiran kita. Oleh sebab itu, masa demi masa kita tidak pernah berhenti untuk selalu melakukan perubahan dengan selalu memegang nilai-nilai positif peradaban yang telah dicapai oleh sejarah manusia.

Hampir setiap hari kita merasakan kehadiran nilai-nilai peradaban yang mampu memberikan inspirasi untuk selalu bergerak menuju yang lebih baik. Sebuah inspirasi akan menjadi batu pijakan yang kuat bagi manusia yang mau menggunakan kecerdasan berfikir serta mampu mengasah kreatifitasnya.

Sebab dengan inspirasi kita akan mendapatkan banyak hal untuk dijadikan langkah perubahan, seperti halnya mencari solusi untuk suatu permasalahan, kecerdasan memilih yang terbaik, serta melakukan ketepatan dalam bertindak. Ini semua akan lahir dari sebuah inspirasi positif yang dibarengi dengan ilmu yang benar.

Dengan lahirnya kecerdasan dalam berinspirasi inilah kita akan banyak mengembangkan kekuatan dasar yang dapat dijadikan landasan dalam menata kembali sebuah peradaban yang penuh dengan nilai keislaman.

Semua perubahan ini akan menuju satu hal yakni pembentukan peradaban umat. Untuk membentuk umat yang lebih berperadaban, sekiranya perlu untuk melakukan upaya menata kembali peradaban islam yang sempat terkubur cukup lama sejak kejayaan umat islam dulu. Sudah menjadi keharusan setiap muslim untuk menanamkan kembali hakekat peradaban islam, sehingga timbul upaya untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya.

Arti Peradaban

Islam yang diturunkan Allah swt sebagai din, pada hakekatnya telah memiliki konsep pembentukan peradaban. Hal ini dapat ditinjau dari kata din itu sendiri –meminjam Dr Hamid Fahmi Zarkasyi — telah membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil.

Dalam istilah din tersembunyi suatu sistem kehidupan. Oleh sebab itu ketika din (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Dari akar kata din dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.

Jika pengertian tersebut benar-benar dipahami oleh semua pihak, sudah seharusnya langkah-langkahnya diarahkan untuk mencapai sebuah peradaban yang syarat akan nilai islam. Namun yang terjadi saat ini bukanlah demikian, justru pengertian yang sedemikian kompleks seperti ini seakan tidak memiliki arti dan peran dalam membangun peradaban.

Kesadaran akan hakekat suatu peradaban belum bisa menjati diri dalam setiap muslim. Sehingga perlu waktu yang sangat lama untuk menimbulkan kesadaran berperadaban dari kalangan sendiri, hal ini mengakibatkan mudahnya orang Barat memposisikan diri mereka menjadi bangsa yang berperadaban.

Peradaban Yang Hilang

Kemerosotan kedudukan umat islam menjadi masalah yang kian lama makin menghawatirkan. Umat islam sebagaimana diterangkan dalam buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas telah banyak melakukan kesalahan dalam memahami penyebab dan permasalahan inti yang sedang mereka hadapi. Mereka berusaha mencari kekuatan politik dari masyarakat dan Negara, hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa kepemimpinan yang korup tidak bersih merupakan permasalahan utama yang dihadapi umat islam.

Beliau menegaskan lagi bahwa kebingungan dan kekeliruan terus-menerus pada berbagai tingkat kepemimpinan masyarakat ini yang disebut dengan keadaan ketiadaan adab (the loss of adab). Hal ini bisa dijabarkan sebagai “Kekeliruan dan kebingungan persepsi mengenai ilmu pengetahuan akan menciptakan ketiadaan adab di masyarakat kemudian kedua kebingungan ini akan mampu menimbulkan munculnya para pemimpin yang tidak layak dijadikan panutan”.

Berbicara mengenai peradaban, tentu kita tidak bisa lari dengan pembahasan ilmu pengetahuan yang dengan sengaja telah dipisah-pisahkan dengan nilai keislaman oleh orang Barat. Pada dasarnya semua permasalah yang timbul ke permukaan masyarakat disebabkan oleh ketiadaan adab dalam diri manusia.

Islam saat ini belum memposisikan dirinya untuk menjadi kaca peradaban dunia. Hal ini dapat dilihat dari segi mentalitas keagamaan umatnya yang dari tahun ke tahun dengan mudahnya di gerogoti oleh paham-paham yang dapat menjatuhkan kualitas keislaman seseorang. Keterpurukan yang dialami saat ini hanya dijadikan ajang ketakutan untuk berubah, namun tidak melakukan upaya perubahan sebagaimana yang telah dilakukan umat islam pada era keemasan.

Kontes peradaban baru saja dimulai. Jika kita meminjam perkataan Ahmad Muflih Saefuddin dalam majalah Hidayatullah (2010 : Ed. 08, XXIII) yang mengatakan bahwa peradaban itu silih berganti setiap 7 abad. Era Keemasan (Golden Age)  islam terjadi selama 7 abad, begitu juga dengan Yunani kuno yang masa kejayaannya 7 abad, kemudian hilang dan digantikan oleh masa Isa as yang tidak menghasilkan apa-apa karena Isa as adalah nabi untuk kaumnya, bukan untuk seluruh manusia.

Masih menurut Ahmad Muflih, setelah itu kemudian digantikan oleh masa Nabi Muhammad, pada masa itu, islam mengalami kejayaan selama 7 abad hingga abad ke-14, karena kelalaian umat islam kemudian kejayaan tersebut direbut oleh Yunani Modern atau Barat.

Jadi, masa yang dibutuhkan untuk membentuk kejayaan suatu peradaban umat yaitu mulai abad ke-14 sampai ke-20 nanti. Hanya saja, siapa yang lebih dahulu mempercepat proses kejayaannya maka ialah yang akan mewarnai kebudayaan dunia.

Menurut Ibn Khaldun dalam The Muqaddimah: an Introduction to history (1978 : 54-57), suatu peradaban akan mampu terwujud apabila 3 hal pokok telah terpenuhi, yaitu, (1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, (2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan (3) kesanggupan berjuang untuk hidup.

Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen dasar suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemampuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan terwujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya.

Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup (WorldView) akan ilmu pengetahuan tersebut.

Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan.

Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana muslim kontemporer secara umum menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, jadi, menolak agama adalah suatu bentuk kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban.

Senada dengan Sayyid Qutb, Muhammad Abduh menekankan juga bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa terdahulu seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Maka terciptalah peradaban yang berjaya pada masanya sehingga dunia pun berkaca kepadanya.

Dari pemaparan diatas, kita dapat ambil poin penting yaitu pentingnya menata ulang peradaban Islam. Tatanan peradaban bisa kokoh jika dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam. Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Mungkin mayoritas orang mengutamakan pembangunan ekonomi, social, politik dll. Namun, hal ini tidak sepenuhnya salah sebab semua itu akan berperan meningkatkan taraf kehidupan guna memenuhi pra-sarana membangun peradaban islam.

Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang yang lainnya. Artinya, pembangunan pemikiran ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Wallahu a’lam bissawab. (hdyt)

download

Share:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Technorati
kategori: Fiqih dakwah

Artikel berkaitan: