kampus pejuang dakwah

Makna Ilah

alhikmah.ac.id – Kalimat Laa ilaha illa Allah tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu ma’na ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya kita mesti mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu. Ada empat makna utama dari aliha yaitu sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi dan wull’a bihi. Aliha bermakna abaduhu (mengabdi/menyembahnya) kerana empat perasaan itu demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut. Dalam hal ini ada tiga sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu kamalul mahabah, kamalut tadzalul, dan kamalul khudu’. Al ilah dengan ma’rifat yaitu sembahan yang sejati hanyalah hak Allah saja, tidak boleh diberikan kepada selainNya. Dalam menjadikan Allah sebagai Al Ilah terkandung empat pengertian yaitu al marghub, al mahbub, al matbu’ dan al marhub. Al ma’bud merupakan sesuatu yang disembah secara mutlak. Kerana Allah adalah satu-satunya Al Ilah, tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah dan diabdi oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia. Pengakuan Allah sebagai al Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala loyalitas, pemilik ketaatan dan pemilik hukum.

1.         Aliha.

Mereka tentram kepadanya (sakana ilaihi) yaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia merasa tenteram.

Merasa dilindungi oleh-Nya (istijaara bihi), karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.

Merasa selalu rindu kepadanya (assyauqu ilaihi), ada keinginan selalu bertemu dengannya, baik terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.

Merasa cinta dan cenderung kepadanya (wull’a bihi). Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.

Dalil:

  1. Perkataan orang Arab: “saya merasa tenteram kepadanya”, “si fulan meminta perlindungan kepadanya”, “si fulan merasa rindu kepadanya”, “anak itu cenderung kepada ibunya”.
  2. Q.10: 7-8, manusia yang mengilahkan kehidupan dunia merasa tenteram dengan hidup dunia, Q.7: 138, bani Israel yang bodoh menghendaki adanya ilah yang dapat menenteramkan hati mereka.
  3. Q.72: 6, manusia memperilah jin dengan meminta perlindungan kepadanya. Q.36: 74-75, orang-orang musyrik mengambil pertolongan dari selain Allah padahal semuanya tidak dapat menolong kita, lihat Q.7: 197.
  4. Q.2: 93, 20: 91, bani Israel larut dalam kerinduan yang berlebihan terhadap ijla (anak lembu) yang dijadikannya ilah. Q.26: 71, para penyembah berhala sangat tekun melakukan pengabdian karena selalu rindu padanya.
  5. Q.29: 25, berhala-berhala adalah menyatukan bangsa yang sangat disenangi oleh orang-orang musyrik. Q.2: 165, tandingan (andad) merupakan sembahan-sembahan selain Allah yang dicintai oleh orang-orang musyrik sama dengan mencintai Allah karena mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.

2.         Abadahu.

Dia amat sangat mencintainya (kamalul mahabbah), sehingga semua akibat cinta siap dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh dan sebagainya.

Dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya (kamalut tadzulul). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.

Dia amat sangat tunduk, patuh (kamalul khudu’). Sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.

Dalil:

  1. Perkataan orang Arab aliha adalah abadahu. Seperti aliha rajulu ya-lahu (lelaki itu menghambakan diri pada ilahnya).
  2. Q.39: 45, orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya serta tidak suka apabila nama Allah disebut. Hadits, sabda Rasulullah Saw, “Celakalah hamba dinar (wang emas), celakalah hamba dirham (wang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka ia akan kesal. Ini disebabkan kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
  3. Q.71: 23, orang-orang kafir sangat mengharmati berhala-berhalanya sembahannya. Q.21: 59, 68, reaksi orang musyrik yang marah karena berhala-berhalanya dipermalukan oleh Nabi Ibrahim AS. Mereka menghukum Nabiyullah untuk membela berhala-berhala. Ini karena rasa rendah diri dan hormat terhadap berhala-berhala tersebut.
  4. Q.36: 60, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang memperdaya mereka. Q.6: 137, orang-orang kafir demikian patuhnya sehingga bersedia membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.

3.         Al Ilah.

Al Marghub yaitu dzat yang senantiasa diharapkan. Karena Allah selalu memberikan kasih sayangNya dan di tangan Nyalah segala kebaikan.

Al Mahbub, dzat yang amat sangat dicintai karena Dia yang berhak dipuja dan dipuji. Dia telah memberikan perlindungan, rahmat dan kasih sayang yang berlimpah ruah kepada hamba-hambanya.

Al Matbu’ yang selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan segala kemampuan sedang semua laranganNya akan selalu dijauhi. Selalu mengikuti hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah saja yang sesuai diikuti secara mutlak, dicari dan dikejar keridhaanNya.

Al Marhub, sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah saja yang berhak ditakuti secara syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap siksaNya, dan takut terhadap hal-hal yang akan membawa kemarahanNya. Rasa takut ini bukan membuat ia lari, tetapi membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Dalil:

  1. Q.2: 163-164, Allah adalah ilah yang esa tiada Ilah selain Dia, dengan rahmat dan kasih sayangnya yang teramat luas.
  2. Q.2: 186, 40: 60, 94: 7-8, hanya Allah yang sesuai diharap karena Ia maha memberi atau mengabulkan do’a hambaNya. Q.21: 90-91, orang-orang mukmin menghambakan diri kepada Allah dengan harap dan cemas.
  3. Q.2: 165, Allah adalah kecintaan orang yang mukmin dengan kecintaan yang amat sangat. Q.8: 2, sehingga ketika disebut nama Allah bergetar hatinya. Q.9: 24, Allah berada diatas segala kecintaan.
  4. Q.51: 50, perintah Allah untuk bersegera menuju Allah karena hanya Allah saja yang sesuai diikuti. Q.37: 99, menuju Allah untuk memperoleh bimbingan dan hidayahNya untuk diikuti.
  5. Q.2: 40, 9: 13, 33: 39, hanya Allah saja yang sesuai ditakuti dengan mendekatkan diri kepadaNya.

4.         Al Ma’bud.

Pemilik kepada segala loyalitas, perwalian atau pemegang otoritas atas seluruh makhluk termasuk dirinya. Dengan demikian loyalitas mukminan hanya diberikan kepada Allah dengan kesadaran bahwa loyalitas yang diberikan pada selain Nya adalah kemusyrikan.

Pemilik tunggal hak untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Mukmin meyakini bahwa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah saja. Seorang mukmin menyadari sepenuhnya bahwa mentaati mereka yang mendurhakai Allah adalah kedurhakaan terhadap Allah.

Pemilik tunggal kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak menentukan aturan bagi seluruh ciptaanNya. Maka hanya hukum dan undang-undangNya saja yang adil. Orang mukmin menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal di alam semesta dan menolak kerajaan manusia.

Dalil:

  1. Q.109: 1-6, pernyataan mukmin bahwa pengabdianNya hanya untuk Allah saja dan sekali-kali tidak akan mengabdi selainNya. Q.16: 36, Rasul diutus dengan risalah pengabdian pada Allah saja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah. Q.2: 21, perintah Allah untuk mengabdi kepadaNya saja dengan tidak mengambil selain Allah sebagai tandingan-tandingan.
  2. Q.7: 196, pernyataan mukmin bahwa wali (pemimpin) nya hanya Allah saja. Q.2: 257, berwalikan kepada Allah melepaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
  3. Q.7: 54, hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah. Mukmin hanya mengakui kerajaan Allah. Hadits, mukmin hanya akan taat pada sesuatu yang diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiat kepada Allah.
  4. Q.12: 40, hak menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah. Q.24: 1, Allah mewajibkan manusia melaksanakan hukum-hukumNya. Q.5: 44,45,47 mereka yang menolak aturan atau hukum Allah adalah kafir, zalim dan fasik. Ini artinya pemerintahan Allah saja yang boleh tegak sedang pemerintahan manusia adalah batil.

 

Share:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Technorati
kategori: Aqidah, Kenalilah Rabmu

Artikel berkaitan: