KOIN PEDULI (untuk) IBU PRITA
Oleh : Ust.
Sofyan Rizal, M.Si.
Dosen STID DI AL-HIKMAH
Entah sudah berapa juta rupiah yang terkumpul dari aksi solidaritas para ibu rumah tangga ini terhadap teman mereka, karena aksi pengumpulan koin uang receh ini baru berjalan dua hari belakangan dari sekarang. Luar biasanya, pengumpulan koin ini dilakukan serentak dibeberapa kota besar, seperti Jakarta, Jogja, Aceh. Daerah lain susul menyusul membentuk posko koin peduli prita di seluruh Indonesia.
Inilah Aksi solidaritas yang unik, namun tetap terasa menggetarkan hati saya. Betapa tidak, sesaat setelah aksi ini diluncurkan lewat internet dan televisi, berbondong-bondong masyarakat terdekat mendatangi posko peduli ibu Prita untuk sekedar menyetorkan uang recehnya. Dari mulai ibu rumah tangga, anak-anak SD, bahkan para pemulung pun ikut. Yang lebih mengagumkan, ada seorang ibu yang rela menyetorkan uang tabungan recehnya yang dikumpulkannya selama tiga tahun dengan susah payah, hebat !!!!
Fenomena ini, sungguh mengagumkan dan membuat saya bangga. Inilah suara hati, inilah solidaritas murni, inilah watak asli bangsa ini, yang mulai terlupakan. Tolong menolong kepada orang yang menurut mereka "terzhalimi"dan rela berkorban untuk sesuatu yang diyakini kebenarannya.
Mereka yakin, bahwa ibu Prita tidak berbuat salah, mereka yakin bahwa ibu Prita adalah korban dari ketidakadilan hukum dinegeri ini. Mereka berontak dan melawan dengan cara mereka. Seorang penyumbang, mantan Menteri Perindustrian, Fahmi Idris, dalam wawancara dengan televisi swasta menyatakan bahwa inilah street justice, karena masyarakat sudah tidak percaya dengan lembaga penegak keadilan yang seringkali mengusik rasa keadilan. Tokoh lain, La Ode Ida, ketua DPD menyatakan bahwa memang keadilan menjadi milik pemodal. Hukum akan berpihak kepada orang yang memiliki modal/uang. Dengan kondisi demikian, maka wajar saja, kalau belakangan masyarakat banyak bereaksi dan "melawan" ketidak adilan. Mereka merasa rasa keadilan telah diciderai.
Diam-diam saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Menghadapi ketidakadilan, atau kemunkaran, saya sudah hapal hadits rasul diluar kepala, bahkan sekalian tafsir hadistnya. Diberbagai forum, kadang saya sampaikan hadist rasul tersebut, Barang siapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah Ia ubah dengan tangannya, atau dengan lisannya jika Ia tidak mampu, atau dengan hatinya, jika dengan lisanpun tak mampu, maka itulah selemah-lemahnya iman.
Mereka Ibu rumah tangga, yang mungkin belum tentu hafal hadist ini, sudah bergerak dengan kemampuan mereka, untuk menggalang apa yang mereka bisa buat, untuk "melawan" ketidakadilan yang mereka lihat didepan mata mereka. Sedangkan saya, hanya bisa menonton, kesal, gondok, dll. Padahal masih sangat banyak ketidakadilan, kemunkaran dihadapan kita, yang perlu kita ubah, yang perlu kita perbaiki.
Ketidakadilan, kemunkaran, dan permainan hukum, memang saat ini menjadi tren belakangan.
Hal yang sangat nyata membuat kita kesal adalah permainan hukum dan korupsi besar-besaran dinegeri ini. Kita merasa tak berdaya menghadapi kondisi yang carut marut ini. Kita menjadi penonton yang hanya bergumam dalam hati seraya berkata " Innalillahi", dan "Naudzu billah min dzalik".
Beberapa dari kita memang sudah berani bertindak lebih hebat lagi, seperti ibu rumah tangga pendukung ibu Prita.
Sebagian saudara-saudara kita dari Hizbut Tahrir Indonesia, bahkan pagi kemarin turun kejalan secara serentak diberbagai kota menuntut diusut tuntasnya sebuah kasus "korupsi" besar yang menggegerkan. Melihat mereka turun kejalan, saya bersyukur, masih ada kelompok ummat saat ini yang tergerak untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar yang lebih nyata dari hanya sekedar kesal hati bahkan sakit gigi dan kekenyangan yang mungkin dialami oleh saudara-saudara kita kelompok ummat Islam yang lain Aksi ini juga mudah-mudahan bisa jadi representasi dari Ummat dan Ormas Islam yang juga sudah gemas dengan korupsi dan permainan hukum dinegeri kita.
Aksi seperti solidaritas ibu Prita, aksi damai menentang korupsi, harusnya menjadi contoh bagi orang-orang atau kelompok dan organisasi massa maupun politik yang merasa anti korupsi, yang merasa bersih, yang selalu bicara solidaritas dan peduli kepada masyarakat, yang kebetulan berkuasa, memiliki jabatan, memiliki suara yang lebih didengar dari masyarakat biasa, untuk lebih menunjukkan kebencian dan perlawanannya pada korupsi dan kemunkaran yang lebih dahsyat dari sekedar mengumpulkan koin dan turun kejalan, karena mereka punya kekuasaan. Hal yang banyak terjadi malah, mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi wakil dalam memberikan suara, diam saja terhadap kemunkaran didepan mata, bahkan menjadi pembela kemunkaran atau malah menjadi pelaku kemunkaran itu.
Maka wajar, jika masyarakat yang punya hati nurani seperti Solidaritas Ibu Prita dan beberapa saudara kita seperti HTI, turun kejalan dan melakukan aksinya dengan cara mereka masing-masing.
Aksi koin untuk ibu Prita ini (yang jumlahnya mungkin tidak seberapa), menjadi simbol, bahwa masyarakat kita masih memiliki hati nurani untuk melawan dan menolak ketidak adilan dan kemunkaran dengan cara mereka sendiri-sendiri. Orang-orang yang "mempermainkan hukum", yang "mencederai rasa keadilan", yang memiliki kuasa untuk menyatakan salah atau benar manusia (didunia), harusnya malu dan tertampar dengan aksi ini.
Bagi saya, atau anda, saya yakin kita semuapun masih punya nurani untuk selalu mendukung kebenaran dan membenci kemunkaran, minimal dengan tidak mencurigai aksi-aksi solidaritas dan demo damai seperti ini, tidak bersuudzan terhadap mereka, dan tidak mengembangkan analisis macam-macam kepada mereka. Istilah anak muda sekarang, jangan Lebai lah...... Ibu-ibu rumah tangga yang saya yakin sangat ikhlas membantu Ibu Prita, dan saudara-saudara kita dari Hizbut Tahrir Indonesia, mungkin dimata Allah dalam kasus ini, lebih baik amalnya dari kita. Bahkan kalau bisa, kita membantu mereka dengan nyata, walau hanya dengan uang receh saja.
Anda tahu, dimana menyalurkan uang receh untuk ibu prita ???

88314 Pengunjung
kirim ke teman
versi cetak
versi pdf