headerphoto
.: UPDATE INFORMASI PENDAFTARAN MAHASISWA BARU TAHUN 2010 bisa di KLIK DISINI, Segera daftarkan diri anda.....! Hubungi SMS CENTER 0856-7144402 - CALL CENTER 021-70322423 :.

Selamat Tahun Baru Hijriyah

Senin, 21 Desember 2009 18:08:47 - oleh : admin

bulanOleh: Ust. Sofyan Rizal, M.Si.

Dosen STIDDI AL-HIKMAH

 

Setiap mendengar tahun baru, biasanya banyak terlintas di pikiran orang tentang pesta dan perayaan. Tahun baru, sebagaimana tradisi, diisi oleh berbagai macam keriyaan, dari mulai malam hari sampai pagi hari. Melepas tahun lama, menyambut tahun baru, begitu kata beberapa teman yang merayakan.

 

Suasana berbeda, jika tahun baru yang diperingati adalah tahun baru hijriyah. Selama ini, tahun baru hijriyah, alhamdulillah dilakukan dengan hal-hal yang begitu positif. Pengajian malam menyambut tahun baru hijriyah marak dimana-mana. Bahkan mabit dan qiyamullail (shalat malam), menjadi menu utama perayaan tahun baru hijriyah di beberapa masjid di Jakarta. Setidaknya itulah yang terjadi di masjid Al-hikmah, Masjid dekat rumah saya.

 

Pengurus masjid yang merupakan anak-anak muda yang penuh semangat dan idealisme, menggelar acara meriah, menyambut tahun baru dengan pengajian akbar, disusul dengan shalat tahajjud melepas tahun yang lama. Karena kebetulan saya hadir saat itu (walau sebentar), rasanya tidak salah jika saya membagi ilmu yang saya dapat dari sang kyai penceramah yang kebetulan sangat saya kagumi ( KH. Abdul Hasib Hasan)

 

Setiap tahun baru hijri, menurut Pak Kyai, adalah momentum memulai langkah sederhana, agar kita kembali menggalakkan memakai penaggalan tahun hijri. Kenapa ?? memang kelihatan sederhana, namun ternyata berefek luar biasa. Penaggalan hijri, sambung sang Kyai, adalah penanggalan yang sarat dengan pengingatan kita akan ibadah kepada Allah. Sebagai contoh, puasa sunnah setiap tanggal 13, 14, 15 (ayyamul bidh), buat kita yang memakai penaggalan masehi, tentu tidak akan ingat, kecuali diingatkan. Belum lagi hari ‘asyura, dan lain sebagainya. Dengan memakai penaggalan hijri itu, diharapkan kita selalu ingat akan hari-hari ibadah, terutama ibadah sunnah.

 

Selanjutnya, Pak Kyai pun memberikan wejangan, tentang kemana kita seharusnya berhijrah. Ada empat tujuan kita dalam berhijrah, antara lain :

 

 

  1. Hijrah dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu, kepada mengikuti petunjuk (ittibaul hawa ke ittibaul huda). Pak Kyai menekankan, kecenderungan mengikuti hawa nafsu, bukan hanya hawa nafsu kita saja, namun juga hawa nafsu keluarga kita, hawa nafsu orang sekitar kita, bahkan hawa nafsu pemimpin kita, orang yang mungkin kita hormati, atau bahkan guru dan ustadz kita, kalau ternyata mereka mengikuti hawa nafsu. Kadangkala, pekerjaan kita teramat berat untuk mengatasi hawa nafsu kita. Ketika kita berhasil mengatasinya, ternyata kita terjebak kepada mengikuti hawa nafsu orang lain, entah karena kasih sayang kita, kecintaan kita, kebodohan kita, rasa hormat kita, dan lain sebagainya yang membuat kita tertipu.
  2. Hijrah yang kedua, sang Kyai melanjutkan, hijrah dari tasahul fi dzunub. Hijrah dari kebiasaan kita yang seringkali menganggap ringan dan enteng sebuah dosa. Saat ini, memang saat dimana banyak manusia, (termasuk kita mungkin??)  yang punya kebiasaan atau mungkin karena sesuatu hal yang menganggap enteng dosa. Dosa, telah kita klasifikasikan menjadi dosa kecil, yang kita anggap tidak apa-apa kalau kita langgar, toh mungkin kita beranggapan Allah SWT akan memaklumi sikap kita, atau kita orang yang berorientasi pada tujuan, yang kemudian bisa mentolerir cara-cara yang berdosa kecil-kecilan, toh Allah SWT mungkin akan mengerti dan mengampuni, atau (ini yang paling parah), karena hati kita tertutup karena seringnya kita berbuat dosa tersebut, sehingga kita biasa-biasa saja berbuat dosa.
  3. Sang Kyai mengingatkan lagi, akibat dari hal kedua tadi, kecenderungan orang menjadi permisif, atau bahasa sang Kyai kecenderungan ibahiyah, kecenderungan selalu membolehkan sesuatu yang diharamkan Allah, kemudian kita hijrah kepada kecenderungan hanifiyah. Sikap permisif, bersikap membolehkan adalah hal yang sangat berbahaya. Orang yang berkecenderungan ibahiyah akan bersikap liberal. Yang lebih  gawat lagi, kadangkala kecenderungan ibahiyah ini dibungkus oleh hal yang sangat masuk akal, akademis, argumentative dan lain sebagainya, sehingga membuat orang awam menjadi terpukau dan ikut-ikutan.
  4. Terakhir, sang Kyai mengingatkan, agar kita hijrah dari kecenderungan bersikap materialis sebagaimana gaya yahudi. Gaya dan karakteristik yahudi ini, dalam ayat lain disambung lagi oleh sang Kyai, adalah selalu menolak kebenaran (sombong). Karakteristik lain ialah, menjual ayat dengan harga yang murah. Bukan berarti kalau menjual dengan harga yang mahal dibolehkan, karena saat ini banyak pula orang menjual ayat, menebar dalil, dengan nilai ratusan juta bahkan miliaran. Namun maksud menjual ayat dengan murah ini adalah menukar ayat, dengan kainginan dan syahwat hawa nafsunya. Nafsu berkuasa, nafsu harta, nafsu jabatan, nafsu ketenaran, dll. Semua itu, bagi Allah adalah hal yang murahan, seberapapun harganya. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah dakwah tanpa qudwah, hanya bicara, namun kenyataan objektifnya (begitu bahasa pak Kyai) jauh dari apa yang dibicarakan.

 

 

Empat hijrah itu, setidaknya kita perlukan agar hijrah kita memiliki makna dan tujuan yang benar disisi Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua dapat berhijrah dengan benar dan penuh dengan makna.

 

Selamat tahun baru Hijriyah.......

 

 

kirim ke teman | versi cetak | versi pdf

Artikel "Resonansi" Lainnya