<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kampus dakwah Al-Hikmah</title>
	<atom:link href="http://alhikmah.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alhikmah.ac.id</link>
	<description>Kampus Pejuang Dakwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 07:35:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Rahasia Hidayah</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-hidayah/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-hidayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom DR. Amir Faishol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3620</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id – Hidayah artinya petunjuk. Dan Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk, Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin ( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id – </strong>Hidayah artinya petunjuk. Dan Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk, Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: <em>dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin</em> ( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai  petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita paham  bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus  bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman  kepada Al Qur’an,  tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh  kepada tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang  melanggar dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa  banyak yang dengan tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat,  berzina, korupsi, makan harta riba, padahal mereka secara ritual  menegakkan shalat, pergi haji, dan melaksanakan puasa Ramadhan.</p>
<p>Lebih  jauh, banyak dari para anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti  hati ibunya, padahal tuntunan mencintai orang tua dan  mengabdi kepada  mereka, adalah tuntunan yang sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang  Allah utus diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Al Qur’an  sangat jelas menceritakan syariah ini. Tidak ada keraguan di dalamnya  bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan.  Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan. Berapa banyak orang  tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan mengejar  harta. Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk menghindar  dari kewajiban membantu orang tua. Lebih parah, bahwa seringkali orang  tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat  kematiannya. Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin  melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Di manakah hidayah dalam hatinya.</p>
<p>Banyak  juga dari orang tua yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk  urusan mencari makan. Sementara untuk urusan agamanya diabaikan.  Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil secara duniawi, sementara  mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka tidak tahu cara  mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas, sementara di saat  yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa. Tidak  sedikit dari mereka yang terbiasa berzina. Dan itu dianggap sah-sah  saja. Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di  luar nikah. Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang  taat beribadah. Dalam kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah  peran hidayah Al Qur’an yang mereka yakini? Apa arti pengakuan beriman  kepada Al Qur’an, bila ternyata secara terang-terangan ajaran Al Qur’an  di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an, diartikan sebatas kepatuhan  ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?</p>
<p>Bila dilacak  lebih jauh, ternyata banyak dari para koruptor, adalah orang-orang yang  mengaku beriman kepada Al Qur’an. Demikian juga tidak sedikit dari para  pelacur yang memakai jilbab dan mengaku sebagai seorang muslim. Ketika  ditegur, mereka menjawab: inilah jalan yang bisa dilakukan untuk hidup.  Bukan hanya itu, sogok-menyogok juga dianggap jalan halal untuk  mendapatkan penghasilan. Lebih parah lagi, perampokan, pencurian,  melakukan sistem riba dan lain sebagainya, sengaja mereka lakukan demi  untuk mendapatkan tambahan income. Dan ini semua dianggap lumrah dan  boleh-boleh saja. Padahal di dalam Al Qur’an dan As sunnah itu semua  jelas diharamkan.</p>
<p>Bandingkan dengan kondisi para sahabat ketika  mereka mengambil hidayah ini. Seketika mereka langsung mengambilnya  secara utuh. Mereka menerima Al Qur’an secara maksimal, tidak main  tebang pilih. Ketika datang perintah shalat mereka langsung  menegakkannya secara maksimal. Ketika turun larangan minum khamer,  mereka seketika segera meninggalkannya. Sampai dikatakan bahwa pada saat  itu kota Madinah banjir khamer. Karenanya mereka berkah, sebagaimana  berkahnya Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka benar-benar mengambil Al  Qur’an secara lengkap, tidak sebagian-sebagian. Dari sini jelas bahwa  tidak akan berkah suatu umat yang hanya mengambil Al Qur’an  sepenggal-sepenggal. Perhatikan apa yang telah dicapai para sahabat,  sebagai bukti keberkahan. Mereka telah berhasil membangun peradaban yang  indah dan menyelamatkan kemanusiaan, belum pernah sebelum atau  sesudahnya ada kaum yang bisa membangun peradaban yang sama. Padahal  jumlah mereka sangat sedikit, dibanding dengan jumlah umat Islam saat  ini.</p>
<p>Kini kita sangat butuh cara mengambil hidayah Allah seperti  apa yang telah diperbuat oleh para sahabat. Hidayah yang mengantarkan  agar manusia benar-benar kenal siapa Tuhan mereka. Hidayah agar  orang-orang beriman tidak menjadi umat yang pasif, melainkan umat yang  bergerak dengan penuh keseimbangan (tawazun): seimbang antara ritual dan  sosial, pun seimbang antara dunia dan akhirat. Hidayah agar umat ini  benar-benar mengambil ajaran Allah secara utuh dan maksimal bukan  sepenggal-sepenggal. Sungguh rahasia keberkahan umat ini adalah ketika  mereka mengambil hidayah Allah secara komprehensif. Inilah langkah yang  harus kita buktikan. <em>Wallahu a’lam bish shawab</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-hidayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemanan Iman</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/pertemanan-iman/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/pertemanan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3983</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id – Dalam Islam, tidak ada satupun aspek yang tidak terkait dengan ketuhanan. Termasuk dalam etika pertemanan (al-suhbah). Imam al-Ghazali menyebutnya &#8212; pertemanan yang baik &#8212; sebagai salah satu rukun agama. Dikatakannya, bahwa agama (al-din) itu sesungguhnya safar (berpergian) menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id –</strong> Dalam Islam, tidak ada satupun aspek yang tidak terkait dengan ketuhanan. Termasuk dalam etika pertemanan (<em>al-suhbah</em>). Imam al-Ghazali menyebutnya &#8212; pertemanan yang baik &#8212; sebagai salah satu rukun agama. Dikatakannya, bahwa agama (<em>al-din</em>) itu sesungguhnya <em>safar </em>(berpergian) menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu pilar ber-safar adalah berbaik hati ketika berteman (Al-Ghazali, <em>al-Arba’in fi Ushul al-Din,</em>84).</p>
<p>Karena menjadi rukun agama, maka pertemanan yang baik (<em>husnu al-suhbah</em>) itu termasuk menjadi faktor baik tidaknya kualitas keberagamaan seorang muslim. Oleh sebab, itu ia -husnu al-suhbah &#8211; menjadi tanda pengenal seorang mu’min.</p>
<p>Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: <em>“Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengasihi anak-anak kecil kami dan tidak menghormati orang-orang yang tua kami.”</em> (HR. Bukhori).</p>
<p>Artinya, Rasulullah mendiskualifikasi orang-orang yang tidak berbuat baik terhadap anak-anak kecil dan orang yang tua. Bukan mendiskualifikasi keluar dari keislamannya, akan tetapi keluar dari akhlak sebagai seorang yang menyatakan diri umat Rasulullah. Seorang muslim sejati itu pasti berbuat baik kepada mereka. Jika tidak, keislamanya belum sempurna.</p>
<p>Sebagai salah satu rukun agama, maka perintah husnu al-suhbah itu tidak sembarangan. Ada aturan dan etikanya. Agar supaya pilar itu kokoh, tidak rapuh. Kuat dan tidak mudah digoyang godaan. Maka, pilar itu mesti diisi dengan sesuatu yang menguatkannya.</p>
<p>Sehingga hunsnu al-suhbah itu wajib dijalin kerena Allah bukan yang lain. Rasulullah bersabda: <em>“7 golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allah sendirian hingga meneteskan air mata.”</em> (HR.Bukhari Muslim).</p>
<p>Sahabat Mu’adz bin Jabal pernah mendengar nasihat dari Nabi tentang keutamaan menyambung persahabatan karena Allah. Diceritakan Mu’adz, bahwa orang-orang muslim yang mengikat persahabatan dan silaturahmi karena Allah dan saling mencintai di antara mereka akan mendapatkan cinta Allah di akhirat kelak. (HR. Ahmad).</p>
<p>Ini menjunjukkan memang <em>husnu al-suhbah </em>itu ajaran yang cukup agung dalam Islam. Betapa tidak, ia menjadi rukun agama, tanda keimanan dan faktor kebahagiaan di akhirat.</p>
<p>Maka, persahabatan yang baik sesama Muslim itu dibangun bukan untuk tujuan-tujuan yang sifatnya materialis dan sementara. Bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan untuk tujuan-tujuan ini sifatnya rapuh dan mudah runtuh. Karena sifatnya sementara dan sekedar memenuhi hasrat nafsu pribadi. Jika &#8212; dalam persahbatan itu &#8212; kepuasannya habis, maka persahabatannya terancam putus. Makanya persahabatan dengan niat yang ini bukan disebut <em>husnu al-suhbah. Husnu al-Suhbah </em>itu persahabatan yang dijalin dengan iman.</p>
<p>Jalinan dalam <em>husnu al-suhbah </em>itu merupakan jalinan rabbaniyyah, maka janganlah memilih teman secara sembarangan. Pilihlah yang bisa membimbing iman. Rasulullah telah memberi petunjuk agar tidak berteman duduk kecuali dengan teman yang memberi manfaat agama. Dan diperintah untuk berhati-hati berkawan dengan orang yang mengabaikan perintah agama (<em>ahl al-ghoflah</em>).</p>
<p>Rasulullah bersabda: “<em>Bersendirian itu lebih baik daripada berteman duduk dengan orang jahat. Berteman dengan orang sholih itu lebih baik daripada bersendirian.” </em>(HR. al-Hakim dan Baihaqi).</p>
<p>Dijelaskan oleh Imam al-Ghazali bahwa hadis tersebut di atas melarang untuk berkawan dengan orang yang melalaikan perintah agama. Bahwa sering-sering duduk-duduk bersama mereka bisa mengerus agama.</p>
<p>Rasulullah bersabda: “<em>Seseorang tergantung atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.”</em> (HR. Ahmad dan Abu Dawud).</p>
<p>Imam al-Ghazali menggambarkan seseorang yang berkawan akrab dengan mereka sama dengan orang yang benang bajunya terlepas satu persatu. Atau digamparkan seperti bulu jenggotnya terlepas satu persatu. Jika terus-terusan, maka bajunya sudah tidak berbentuk lagi kerena benangnya habis, atau bulu jenggotnya hilang seperti dicukur habis. Orang yang melepas benang dan mencabut bulu itu digambarkan sebagai teman yang ahl al-ghoflah. Artinya, jika terus-menerus berkawan akrab dengan mereka, maka iman kita akan luntur.</p>
<p>Karena begitu penting, maka menjalin <em>husnu al-suhbah </em>ada etikanya. Di antaranya, hendaklah <em>tawadlu </em>dengan teman sesama Muslim, jangan menunjukkan sikap bangga diri, sombong dan <em>hasud, </em>sebab akan merusak jalinan bersahabatan. Jangan sampai tidak menyapa lebih dari tiga hari. Rasulullah memperingatkan: “<em>Tidak dihalalkan bagi seorang muslim tidak menyapa saudara (sesama muslim) lebih dari tiga hari.” </em>(HR. Bukhari Muslim).</p>
<p>Hidari sikap menghibah apalagi mengadu domba. Rasulullah bersabda, <em>“Jangan kalian saling dengki, saling benci, saling menjerumuskan, saling membelakangi dan jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”</em> (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kepada teman, juga disunnahkan untuk selalu mengucapkan salam dan bersalaman ketika bertemu. Dan diutamakan kita memulai dulu mengucapkannya. Jika sakit, kita jenguk. Mendoakan dan memberi hadiah.</p>
<p>Mendoakan teman dianjurkan tidak didepannya, tapi yang utama mendoakannya ketika tidak dihadapan teman. Saling menasihati dengan kata santun dan penuh kecintaan.</p>
<p>Jika melakukan kesalahan, maka ingatkan dengan baik tanpa rasa membenci. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ</p>
<p><em>“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”</em> (QS. Al-Hijr: 85).</p>
<p>Jadi, pertemanan itu menjadi nilai ibadah jika diniati dan dijalin sesuai dengan perintah agama. Pertemanan akan sia-sia jika sekedar untuk mencari kesenangan sementara atau kepuasan sesaat. Jalinan ini akan menjadi penguat iman kita bila dijalin berdasarkan ilmu bukan nafsu. Oleh sebab itu, jangan sembarangan teman, pilihlah yang beriman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/pertemanan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amal Nyata Adalah Bukti Iman Dalam Dada</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/harta-rampasan-perang-dan-ciri-orang-yang-beriman/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/harta-rampasan-perang-dan-ciri-orang-yang-beriman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=4012</guid>
		<description><![CDATA[الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ &#160; &#8220;(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.&#8221; (QS. Al-Anfaal: 3) “(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat…” (QS. Al-Anfaal: 3) alhikmah.ac.id &#8211; Kita melihat bahwa iman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="isi" style="text-align: center;"><strong>الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ </strong>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan  sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.&#8221; (QS. Al-Anfaal:  3)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>“(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat…” (QS. Al-Anfaal: 3)</em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Kita melihat bahwa iman itu memiliki bentuk gerakan lahiriah sesudah  kita melihatnya dalam sifat-sifatya terdahulu sebagai perasaan hati dan  batin. Hal itu karena iman merupakan keyakinan yang tertanam di dalam  hati dan dibuktikan dengana amal perbuatan. Maka, amal ini merupakan  fenomena lahiriah bagi iman yang memang harus  memiliki bukti-bukti  lahiriah yang jelas.</p>
<p style="text-align: left;">Mendirikan shalat itu bukan sekadar mengerjakan shalat. Mendirikan  shalat adalah menunaikan shalat dengan merealisasikan hakikatnya. Yaitu,  penunaian yang sempurna dan sesuai dengan posisi seorang hamba yang  sedang mengabdikan diri di hadapan Al-Ma’bud (Tuhan yang disembah).</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, bukan sekadar membaca, berdiri, ruku, dan sujud, sedang hatinya  lalai. Shalat dalam wujudnya yang sempurna menjadi bukti riil adanya  iman.</p>
<p style="text-align: left;"><em>“Dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”</em></p>
<p style="text-align: left;">Baik yang berupa zakat maupun non-zakat. Mereka menafkahkan “sebagian   rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” Maka, apa yang mereka  nafkahkan itu adalah sebagian dari rezeki Yang Maha Pemberi rezeki yang  diberikan-Nya kepada mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Nash Alquran memang senantiasa memiliki bayang-bayang dan  kesan-kesan. Maka, mereka sama sekali tidak pernah menciptakan harta  ini. Tetapi, harta itu diberikan Allah kepada mereka di samping  rezeki-rezeki lain yang tak terhitung nilainya.</p>
<p style="text-align: left;">Apabila mereka memberikan infak, maka yang mereka infakkan itu hanya  sebagian saja dari rezeki itu. Sedangkan, sebagian yang lain mereka  pergunakan untuk keperluan mereka sendiri. Semua itu adalah rezeki dari  Allah semata.</p>
<p style="text-align: left;">Itulah sifat-sifat iman yang ditetapkan Allah dalam ayat-ayat ini.  Yaitu, yang meliputi keyakinan terhadap keesaan Allah, kepatuhan  perasaan untuk mengingat Allah, kesan hati terhadap ayat-ayat-Nya,  bertawakal kepada-Nya saja, mendirikan shalat karena Allah, dan  menginfakkan sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadanya.</p>
<p style="text-align: left;">Sifat-sifat ini belum menggambarkan detil-detil iman sebagaimana  disebutkan dalam nash-nash  lain. Namun, hanya dalam menghadapi satu  kondisi riil saja. Yaitu, perselisihan tentang harta rampasan perang dan  kerusakan hubungan yang ditimbulkan olehnya. Kemudian disebutkanlah  sifat-sifat orang mukmin di dalam menghadapi kondisi ini.</p>
<p style="text-align: left;">Pada waktu yang sama, ayat-ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang  yang tidak memiliki sifat-sifat ini secara total berarti tidak terdapat  hakikat iman pada dirinya, dengan menutup mata apakah syarat-syarat iman  diselidiki secara mendalam atau tidak.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, manhaj Rabbani  dengan Alquran inilah yang menetapkan  syarat-syarat dan pengarahan-pengarahan di dalam menghadapi  kondisi-kondisi riil yang bermacam-macam. Karena, manhaj Alquran  merupakan manhaj yang realistis, praktis, dan dinamis. Ia bukan cuma  teoritis yang ditekankan pada bangunan teori dan pemaparannya.</p>
<p style="text-align: left;">Sesuai dengan kaidah ini, maka datanglah komentar akhir pada ujung ayat,</p>
<p style="text-align: left;">“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan  memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan  serta rezeki (rahmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 4)</p>
<p style="text-align: left;">Sifat-sifat ini hanya terdapat pada diri dan amalan orang yang  beriman dengan sebenarnya. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat-sifat  ini secara total, maka dia tidak memiliki sifat iman. Pada waktu yang  sama, ayat-ayat ini untuk menghadapi kondisi saat ia diturukan.</p>
<p style="text-align: left;">Di antaranya, untuk menjelaskan tentang orang yang berkeinginan untuk  mati syahid sebagai ujian yang baik, bahwa orang-orang yang memiliki  sifat-sifat ini “akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi  Tuhannya”. Juga untuk menghadapi perselisihan dengan moralitas ang  buruk, sebagaimana dikatakan  oleh Ubadah ibnush-Shamit, bahwa orang  yang memiliki sifat-sifat iman ini akan mendapatkan “pengampunan” dari  Tuhan mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, ditutuplah seluruh keadaannya, semua perasaan dan sikap yang  meliputi dan melingkupinya. Pada waktu yang sama ditetapkan hakikat  temanya bahwa orang yang tidak memiliki sifat-sifat ini secara total,  maka dia akan mendapatkan hakikat iman.</p>
<p style="text-align: left;">“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya…”</p>
<p style="text-align: left;">Kelompok muslim pertama sudah diberi tahu bahwa iman itu memiliki  hakikat yang harus dijumpai oleh setiap orang di dalam dirinya. Iman itu  bukan pengakuan hampa, bukan sekadar pernyataan lisan, dan bukan pula  imajinasi kosong.</p>
<p style="text-align: left;">Al-Hafizh ath-Thabrani mengatakan bahwa telah diinformasikan  kepadanya oleh Muhammad bin Abdullah al-Hadhrami dari Abu Kuraib, dari  Zaid ibnul-Habbab, dari Ibnu Luhai’ah dan khalid bin Yazid as-Saksaki  dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Muhammad bin Abul Jahm, dari al-Harits  bin Malik al-Anshari, bahwa ia pernah melewati Rasulullah, lalu beliau  bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Harits?”  Al-Harits menjawab, “Pagi ini saya sebagai orang mukmin yang  sebenarnya.”</p>
<p style="text-align: left;">Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikanlah apa yang engkau  ucapkan itu, karena tiap-tiap sesuatu itu memiliki hakikat. Apakah  hakikat keimananmu?”</p>
<p style="text-align: left;">Al-Harits menjawab, “Diriku telah menjauhi keduniaan, aku berjaga  (tidak tidur) pada malam hari dan haus (berpuasa) pada siang hari,  seolah-olah aku melihat Arasy Tuhanku tampak jelas, seakan-akan aku  melihat para ahli surga sedang saling berkunjung, dan seakan-akan aku  melihat para ahli neraka sedang meliuk-liuk kelaparan dan kepanasan.”</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Harits, engkau sudah mengerti, maka konsistenlah!” Beliau mengucapkan perkataan ini tiga kali.</p>
<p style="text-align: left;">Sahabat yang telah mendapatkan kesaksian dari Rasulullah sebagai  orang yang mengerti keadaan dirinya ini, melukiskan perasaanya dan  amalan serta gerakan yang ada di belakang perasaan itu. Orang yang  seakan-akan melihat Arasy Tuhannya tampak jelas, melihat para ahli surga  saling mengunjungi, dan melihat para ahli neraka sedang meliuk-liuk  kelaparan dan kepanasan, bahwa ia tidak hanya sekadar melihat. (tafsir fidzilalil qur&#8217;an)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/harta-rampasan-perang-dan-ciri-orang-yang-beriman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Ayahku Bersahadat Setelah Menolaknya Selama 23 Tahun</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/akhirnya-ayahku-bersahadat-setelah-menolaknya-selama-23-tahun/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/akhirnya-ayahku-bersahadat-setelah-menolaknya-selama-23-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 09:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=4010</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Abdur Rahim Green seorang mualaf menjelaskan bagaimana hari-hari terakhir ayahnya di rumah sakit sebelum dia akhirnya meninggal dunia. Green adalah mantan Direktur Barclays Bank di Kairo, dan putranya Abdur Rahim Green menemukan Islam lebih dari 20 tahun yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Abdur Rahim Green seorang mualaf menjelaskan bagaimana hari-hari  terakhir ayahnya di rumah sakit sebelum dia akhirnya meninggal dunia.</p>
<p>Green adalah mantan Direktur Barclays Bank di Kairo, dan putranya  Abdur Rahim Green menemukan Islam lebih dari 20 tahun yang lalu, dan  saat ini menjadi tokoh terkenal di kalangan sarjana Muslim dan  pengkhotbah di Inggris.</p>
<p>Sebelumnya Abdur Rahim berpikir bahwa ayahnya tidak akan pernah  menjadi muslim, namun kehendak Allah berkata lain, ayahnya Green  akhirnya masuk Islam hanya sepuluh hari sebelum ia meninggal.</p>
<p>Mengutip sebuah hadits Nabi yang berbunyi: &#8220;Semoga wajahnya digosok  dalam debu (semoga dia menjadi terhina) serta masuk neraka orang yang  salah satu orangtuanya sudah mencapai usia tua namun dia tidak melayani  mereka.&#8221;</p>
<p>Abdul Rahim Green kemudian mengatakan &#8220;Itulah mengapa saya memutuskan  untuk meluangkan waktu saya di sini dengan ibu saya setelah kematian  ayah saya.</p>
<p>Kematian ayah saya adalah sesuatu yang membuat saya sangat bahagia,  dan merupakan kisah luar biasa tentang bagaimana hanya sepuluh hari  sebelum ia meninggal, ia diberkati untuk mengucapkan dua kalimat  Syahadat.</p>
<p>Allah SWT hanya menyuruh kita untuk berdakwah dan kita tidak bisa  mengubah siapa pun untuk berubah menjadi Islam kecuali dengan izin  Allah. Tugas kita adalah untuk menyampaikan dakwah, untuk menjelaskan  kepada orang dengan cara terbaik yang kita bisa, hidayah hanya ada di  tangan Allah SWT.</p>
<p>Saya tidak pernah berpikir bahwa ayah saya mengucapkan kalimat  Syahadah. Ayah saya adalah seorang ayah yang luar biasa, dia memiliki  kepribadian yang luar biasa dan tidak ada yang bisa menggambarkan dia  sebagai orang yang buruk.</p>
<p>Selama 23 tahun, sejak saya menjadi seorang Muslim, saya telah  mengajak ayah saya untuk masuk Islam. Dan saya memutuskan untuk  memberikan contoh terbaik saya yang mungkin bisa menggambarkan Islam  sebenarnya, tentang bagaimana Islam memandang hidup, tentang bagaimana  Islam mengajarkan saya untuk menghormati dia sebagai orangtua. Tapi saya  berpikir bahwa ayah saya berpikiran sangat tertutup terhadap Islam,  jadi saya tidak pernah berharap penuh bahwa ia akan menjadi seorang  Muslim.</p>
<p>Ayah saya telah sakit selama beberapa tahun, dan ibu saya berpikir  bahwa ia tidak akan sembuh dari sakitnya. Sebagaimana yang terjadi,  beberapa minggu ketika saya kembali dari Inggris, saya tiba di rumah  sakit dan langusng pergi menemui ayah saya. Saya menatapnya dan saya  berpikir bahwa ia bisa mati malam ini. Jadi, saya berpikir, jika saya  tidak mengatakan sesuatu tentang Islam, saya tidak akan memaafkan diri  saya sendiri.</p>
<p>Saya tahu bahwa saya mencoba mengajaknya masuk Islam melalui banyak  cara. Tapi saya berpikir bahwa saya harus membuat upaya terakhir.</p>
<p>Saya telah menghabiskan waktu yang lama memikirkan apa yang bisa saya  katakan. Bagaimana saya bisa mengatakannya? Apa cara yang tepat untuk  mendekatinya? Dia sudah sangat sakit, jadi saya tidak ingin membuat dia  kesusahan, saya tidak ingin membuat dia menjadi lebih marah.</p>
<p>Sejujurnya saya takut bahwa ia mungkin mengatakan &#8220;Tidak,&#8221; dan  menolak ajakan saya. Dan saya bahkan khawatir bahwa jika ia memang  mengatakan Syahadat namun tidak masuk ke dalam Islam, kemudian ia sembuh  dan pulang ke rumah dan menjadi lebih arogan tentang Islam, hal itu  lebih menakutkan saya.</p>
<p>Ini benar-benar hal yang sulit. Setiap mualaf yang memiliki orang tua  yang belum muslim, mereka pasti mengalami dilema ini seperti yang saya  alami. Namun jangan pernah meremehkan kekuatan dari doa, karena itu maka  ketika saya bingung, saya meminta Allah untuk membantu saya menemukan  sesuatu untuk dikatakan kepada ayah saya.</p>
<p>Saat ia berbaring di tempat tidur, saya berkata kepadanya: &#8220;Ayah!  Saya punya sesuatu yang sangat penting untuk saya beritahukan kepada  ayah, apakah ayah mau mendengarkannya? Ayah saya tidak bisa benar-benar  berbicara dengan baik, jadi dia mengangguk. Lalu saya berkata: Saya  punya sesuatu untuk dikatakan, jika saya tidak mengatakannya, saya akan  menyesalinya.</p>
<p>Dan kemudian saya mengatakan kepadanya bahwa &#8220;di hari kiamat, seorang  pria akan datang di depan Allah dengan banyak perbuatan dosa serta  kemaksiatan, dan Allah akan berkata kepadanya, Anda memiliki sesuatu  yang melampaui semua itu. &#8221; Dan orang itu akan berkata, &#8220;Apa itu  Tuhanku?&#8221; Allah berfirman &#8216;Sebuah pernyataan tertulis yang bisa Anda  buat: Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.&#8221;</p>
<p>Saya berkata, &#8220;Jadi ayah, ini adalah kunci surga, ini adalah kunci  sukses dalam kehidupan yang akan datang, bagaimana menurut ayah?&#8221;</p>
<p>Dan ia menganggukkan kepalanya.</p>
<p>Saya berkata &#8220;Apakah itu berarti Anda ingin mengatakan kata-kata tersebut?&#8221;</p>
<p>Dan ayah saya berkata &#8220;Ya.&#8221;</p>
<p>Dia menginkuti kata-kata yang saya ucapkan, &#8220;Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.&#8221;</p>
<p>Saya harus meninggalkan rumah sakit pada hari itu, karena rumah sakit  memiliki beberapa aturan ketat. Saya mengunjunginya pada hari  berikutnya, dan dia sudah tidak ingat apa-apa. Dia tidak mampu mengingat  satu hal dari sehari ke hari yang lain, bahkan dari jam ke jam yang  lain, tapi itu bukan akhir semua itu.</p>
<p>Tiga atau empat hari sebelum ia meninggal, ayah saya berkata: Tolong, tolong bantu saya.</p>
<p>Saya berkata, &#8220;Ayah apa yang kau ingin saya lakukan?&#8221;</p>
<p>Dia mengatakan &#8220;Saya tidak tahu!&#8221;</p>
<p>Lalu ia berkata, &#8220;Beri saya sesuatu yang mudah untuk dilakukan.&#8221;</p>
<p>Saya teringat hadits Nabi: &#8220;Ada sesuatu yang ringan di lidah, namun  berat di sisi timbangan&#8221; Jadi, saya berkata &#8220;Ayah jika saya adalah ayah,  saya akan terus mengulangi kalimat syahadat berulang-ulang.&#8221;</p>
<p>Dan dia berkata, &#8220;Ya, itulah yang ingin saya lakukan.&#8221;</p>
<p>Dan kami menghabiskan setengah jam mengulang-ulang kalimat Syahadah itu.</p>
<p>Tidak beberapa lama kemudian, saya berangkat ke Inggris, dan di sana saya mendengar ayah saya telah meninggal dunia. Subhanallah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/akhirnya-ayahku-bersahadat-setelah-menolaknya-selama-23-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman dan Kepekaan Sosial</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/iman-dan-kepekaan-sosial-3/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/iman-dan-kepekaan-sosial-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 05:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=4003</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekadar keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang menghujam ke dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Iman itu bukan hiasan bibir dan  pemanis kata apalagi sekadar keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang  menghujam ke dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan  tindak nyata.</p>
<p>Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan  bukti amal shalih, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan  tidak berdasar. Di sini Allah Taala menjelaskan kepada kita tentang  senyawa keimanan dan amal shalih dalam surat Al-‘Ashr; “Demi masa,  sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali  orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan  nasihat-menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar  tetap sabar.” (QS 103:1-3)</p>
<p>Ayat-ayat qur’aniyah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap  “khithab ilahi” (panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu  disertai dengan perintah untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan  dengan ibadah dan larangan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan  Allah Taala.</p>
<p>Iman yang menshibghah akal, hati dan jasad seorang mukmin, hingga  ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti  jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ia senantiasa memutuskan  sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada  kebatilan. Jadi seorang yang telah tershibghah imannya, ia akan menjadi  cahaya bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Allah berfirman,  “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia Kami hidupkan dan Kami  berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat  berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang  keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke  luar dari padanya?…” (Al-An’am: 122)</p>
<p>Demikianlah Allah menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan  keilmuan. Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi riel tidak  saja bagi lingkungannya bahkan sampai pada skala ‘alamiah  (internasional). Rasulullah saw menganalogikan seorang mukmin yang  benar-benar memahami keislaman dan keimanannya seperti lebah. Lebah itu  mempunyai sifat tidak pernah melakukan kerusakan, lihatlah ketika  hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai bunga. Lebah  selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan  menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk  hidup yang berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman. Begitulah  seharusnya muslim dan mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam.  Melukiskan tinta emas kebaikan dalam kanvas kehidupan secara individu  dalam semangat kebersamaan. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya  dimiliki setiap mukmin. Kepekaan terhadap apa saja yang sedang menimpa  masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan puas dengan  urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat  sekitarnya.</p>
<p><strong>Interaksi Sosial</strong></p>
<p>Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh seorang mukmin dalam  ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona sosial yang  sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan berdampak  pada ‘atha ijtima’i (kontribusi sosial) dan keharmonisan sosial. Di  sini, Nabi kita Muhammad saw mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat  yang sarat dengan nilai-nilai perbaikan diri. Di saat beliau bersabda;</p>
<p>“Bertaqwalah kamu di manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan  kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya dan berinteraksilah pada  manusia dengan akhlaq yang baik.”</p>
<p>Dan salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita  adalah adanya hasasiyah (kepekaan) yang kuat terhadap permasalahan yang  terjadi di dalamnya. Perhatian dan fokus kita terhadap bi-ah  (lingkungan), baik yang berkaitan dengan bi-ah da’wiyah, bi-ah  ijtima’iyah, bi-ah ta’limiyah yang terjadi dalam tataran keluarga maupun  masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita yang telah  tershibghah dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Bagaimana Rasulullah saw  melakukan hal ini dalam keluarga dan masyarakatnya. Beliau dengan gigih  telah mempengaruhi pamannya, Abu Thalib untuk memeluk Islam sehingga  detik-detik akhir hidup sang paman. Ia telah menyeru bani-bani Quraisy  pada waktu itu seraya berkata di atas bukit Shafa:</p>
<p>“Wahai Bani Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Bani  Ka’ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka….., wahai Fathimah,  selamatkanlah dirimu dari api neraka..” (H.R. Muslim)</p>
<p>Begitu juga, beliau telah terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa  besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum nubuwah seperti berperan  aktif dalam perang fijar; peperangan yang terjadi antara Quraisy bersama  Kinanah dengan Ais Qailan, Hilful Fudlul; kesepakatan untuk melindungi  orang-orang yang terzhalimi dan pembangunan Ka’bah.</p>
<p><strong>Hasasiyah ‘Ailiyah</strong></p>
<p>Oleh karenanya seorang mukmin apalagi kader-kader dakwah harus  terlibat aktif dalam amal-amal kebaikan yang terjadi di lingkungan  keluarga maupun masyarakatnya. Baik yang bersentuhan dengan daur da’wi  (peran dakwah keluarga), daur ta’limi (peran pengajaran) dan daur  tarbawi (peran pembinaan).</p>
<p>Janganlah seseorang hanya sibuk dengan perbaikan dirinya dan  mengabaikan dakwah keluarganya. Semangat berbisnis, lalu lupa mengajar  dan membina anak-anaknya. Puas dengan kehebatannya, asyik dengan pesona  dirinya, akan tetapi terlena dengan apa yang sedang terjadi di  lingkungan keluarga. Bapak asyik dengan dakwah di luar, sementara anak  nyimeng dan ngeganja. Coba kita perhatikan dan merenungkan kembali  firman Allah berikut ini;</p>
<p>“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan  anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu  terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta  mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan  (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS 64:14-15)</p>
<p>“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu  melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian  maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS 63:9)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari  api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya  malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah  terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan  apa yang diperintahkan.” (QS 66:6)</p>
<p><strong>Hasasiyah Ijtima’iyah</strong></p>
<p>Interaksi sosial kita yang berujung pada hasasiyah ijtima’iyah,  mengharuskan kita untuk terlibat penuh dengan suatu yang terjadi di  tengah-tengah masyarakat kita. Hal ini bukan hanya dilakukan seorang  mukmin atau bahkan aktivis dakwah di saat membutuhkan mereka dan ketika  ada kepentingan. Akan tetapi kapan pun dan kondisi apapun seorang mukmin  harus menebar pesona Islam. Ia bekerja dan berkarya sesuai manhaj  rabbani. Seluruh waktu dan hidupnya agar bermanfaat bagi manusia lain.  Ia ingin menjadi salah satu dari kategori “qaumun ‘amaliyun” dan  mendambakan identitas “mukminin yang sebenarnya”.</p>
<p>Oleh karenanya, seorang mukmin harus bisa berperan aktif dalam  seluruh dimensi sosial. Baik dimensi da’wi yang mengharuskan dia sebagai  cahaya di tengah masyarakatnya, yang mengharuskan dia membawa obor  mas’uliyah amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai <em>agen of changes</em>.  Dimensi ukhrawi; yang mengharuskan dirinya mengkristalkan kembali makna  ta’aruf, tafahum dan takaful dalam kavas ukhuwah islamiyah. Benar-benar  menjadi kontributor dalam segala hal, apalagi yang bersentuhan langsung  dengan fuqara, masakin dan al-aitam (yatim piatu). Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Ya Abu Dzar, apabila kamu membuat sayur, perbanyak kuahnya dan perhatikan tetanggamu.” (HR Muslim)</p>
<p>“Tidaklah beriman seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (Muttafaqun Alaih)</p>
<p>“Penanggung anak yatim, baik miliknya atau orang lain, aku dan orang  itu di surga seperti ini (Malik mengisyaratkan dengan kedekatan jari  telunjuk dan tengah).” (HR Muslim)</p>
<p>Dan dimensi ta’limi wa tarbawi; yang mengharuskannya berperan aktif  dalam melakukan pengajaran dan pembinaan masyarakatnya. Sehingga  masyarakat setempat menikmati pencerahan jiwa dan pemikiran. Mereka  semakin dekat dengan nilai-nilai Islam dan akhirnya semangat  mengimplementasikannya dalam ruang kepribadiannya dan lingkungan  keluarganya. Allah berfirman:</p>
<p>“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada  kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;  merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)</p>
<p>“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di  antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan  mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan  sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”  (QS 62:2)</p>
<p>Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan hasasiyah ijtima’iyah dalam diri kita.  (dkwt)</p>
<p><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/04/Iman-Dan-Kepekaan-Sosial.docx">download</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/iman-dan-kepekaan-sosial-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Ruh Dicabut</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/ketika-ruh-dicabut/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/ketika-ruh-dicabut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 01:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenalilah agamamu]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[Syarakh hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Imam Ahmad dalam Musnad-nya, demikian juga Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah Al-Isfirayaini dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan dari Al-Manhal dari Zadan bin Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa ia berkata, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah untuk mengantar jenazah. Beliau duduk di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Imam Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya, demikian juga Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah Al-Isfirayaini dalam kitab <em>Shahih</em> keduanya, meriwayatkan dari Al-Manhal dari Zadan bin Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa ia berkata, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah untuk mengantar jenazah. Beliau duduk di atas kuburan dan kami duduk di sebelahnya. Kami diam dan tenang laksana di atas kepala kami terdapat seekor burung. Sambil menguburkan jenazah tersebut, Beliau berkata, “Aku berlindung diri kepada Allah dari siksa kubur.” Beliau mengucapkannya tiga kali.</p>
<p>Selanjutnya Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang beriman jika akan pindah ke alam akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat itu turun kepadanya. Wajah mereka seperti matahari dan setiap dari mereka membawa wewangian dari surga dan kain kafan. Mereka duduk di dekat orang yang beriman sebatas pandangan kemudian malaikat pencabut nyawa duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.”</p>
<p>Rasulullah kemudian bersabda, “Ruh orang beriman pun keluar dari jasadnya seperti halnya air keluar dari mulut teko. Malaikat pencabut nyawa segera mengambilnya. Ketika ruh orang itu telah berada dalam genggamannya, para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh orang beriman itu berada di tangan malaikat pencabut nyawa sekejap mata hingga kemudian mereka mengambilnya dan menaruhnya di atas kain kafan surga dan wewangian tersebut. Dari ruh orang beriman, keluarlah wewangian paling harum yang pernah ada di bumi.”</p>
<p>Kata Rasulullah selanjutnya, “Kemudian para malaikat naik membawa ruh orang beriman dan setiap kali mereka melewati para malaikat, maka mereka bertanya, “Ruh siapa yang harum ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” sembari menyebutkan nama terbaik yang pernah menjadi sebutannya ketika di dunia hingga kemudian mereka berhenti di langit kedua. Mereka minta dibukakan bagi ruh tersebut kemudian dibukakanlah untuknya. Ruh tersebut disambut seluruh makhluk di langit kedua dan mereka mendekatkan ruh tersebut ke langit berikutnya hingga mereka membawa ruh itu tiba di langit di mana Allah berada. Allah kemudian berfirman, “Tuliskan kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi. Sebab, dari bumi itulah Kami menciptakan mereka, ke dalamnya Kami kembalikan mereka, dan darinya pula Kami keluarkan mereka sekali lagi.”</p>
<p>Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Dan sesungguhnya orang kafir itu jika meninggal dunia menuju ke akhirat, maka para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah yang hitam dan membawa kain kafan kasar, lalu duduk di dekatnya sebatas pandangan.</p>
<p>Malaikat pencabut nyawa datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya lantas berkata, “Wahai ruh yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah!” Lalu ruhnya berpisah dari jasadnya dan malaikat mencabutnya seperti mencabut besi pembakar dari wol yang basah. Selanjutnya malaikat pencabut nyawa mengambilnya dan jika sudah ia ambil, maka para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh tersebut di tangannya sekejap mata hingga kemudian mereka meletakkannya di dalam kain kasar tersebut. Dari padanya keluar bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi.</p>
<p>Para malaikat membawanya naik dan setiap kali mereka melewati malaikat, mereka bertanya, “Ruh busuk siapa ini?” Para malaikat menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” sembari menyebutkan sejelek-jeleknya nama yang dialamatkan kepadanya ketika di dunia. Ruh itu terus dibawa naik hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar pintu langit itu dibuka, namun tidak juga dibukakan untuknya.</p>
<p>Kemudian Beliau membacakan firman Allah swt., <em>“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”</em> (Al-A’raf: 40).</p>
<p>Allah swt. kemudian berkata, “Tuliskan kitabnya di Sijjin, di bumi yang terbawah!” Lalu ruh tersebut dilemparkan begitu saja. Selanjutnya Rasulullah membacakan firman Allah, <em>“Barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”</em> (Al-Hajj: 31) [Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/287 dan 295) dan Abu Dawud (4753)] (dkwt)</p>
<p><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/04/Ketika-Ruh-Dicabut.docx">download</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/ketika-ruh-dicabut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Kata “Ad-Diin”</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/makna-kata-%e2%80%9cad-diin%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/makna-kata-%e2%80%9cad-diin%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 07:21:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenalilah agamamu]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Islam adalah sebuah ad-diin. Secara umum kita memadankan kata itu dengan kata agama dalam bahasa Indonesia. Dan jika mendefinisikannya kata itu kita pahami sebagai agama yang mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya. Ternyata pengertian kata ad-diin tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Islam adalah sebuah ad-diin. Secara umum kita memadankan kata itu dengan kata agama dalam bahasa Indonesia. Dan jika mendefinisikannya kata itu kita pahami sebagai agama yang mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya. Ternyata pengertian kata ad-diin tidak sesederhana itu. Tahukah Anda bahwa secara etimologi saja kata ad-din memiliki cakupan arti yang sangat luas, sesuai dengan substansinya. Setidaknya seperti empat pengertian di bawah ini.</p>
<p><strong><em>1. As-sulthah wal al-qahru</em></strong><strong> (artinya kekuasaan atau memaksa).</strong></p>
<p>Pengertian ini seperti perkataan orang Arab: <em>dintu al-qauma</em>, artinya aku paksa kaum itu atau aku kuasai. Maksudnya, ketika seseorang memeluk dan mengikuti suatu <em>ad-diin</em>, ia telah menyerahkan dirinya untuk dikuasai olehnya dan pada gilirannya bersedia dipaksa untuk menjalankan aturan-aturan. Tentu saja hal itu dilandasi oleh keyakinan terhadap kebenaran yang ada pada ad-diin itu, dan keyakinan bahwa orang itu akan mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu berupa kebahagiaan.</p>
<p>Dengan menggunakan pengertian seperti itu, di surat Al-Waqi’ah ayat 85-86, Allah swt. bertanya setara retoris, apakah manusia, kita, ingin lepas dari penguasaan Allah swt? Jika ingin lepas dari penguasaan Allah, manusia ditantang oleh Allah untuk mengembalikan ruh ke jasad setelah dicabut dan dipisahkan darinya. Namun, kenyataannya manusia tidak mampu karena kita memang tidak memiliki kekuasaan untuk itu.</p>
<p>“Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah: 85-86).</p>
<p>Karena itu, adalah wajar dan rasional jika Allah swt. yang menciptakan manusia memaksakan sebuah aturan hidup kepada kita berupa Ad-Diin Al-Islam.</p>
<p><strong><em>2. </em></strong><strong>Tunduk kepada kekuasaan itu.</strong></p>
<p>Konsekuensi dari mengikuti sebuah ad-Diin adalah ketundukan terhadap semua ajaran dan aturannya. Seseorang dikatakan tidak menjadi pemeluk agama dengan baik ketika ia tidak tunduk dan taat dalam menjalankan aturan agama tersebut. Hal ini berlaku bagi semua <em>ad-diin</em> atau yang dianggap sebagai ad-din seperti ideologi, aliran, dan kepercayaan.</p>
<p>Kita bisa lihat dalam kehidupan keseharian kita, setiap orang yang mengikuti sebuah ideolog atau kepercayaan, mereka akan tunduk kepada kepercayaannya itu, kendatipun ideologi itu menurut orang banyak sebagai aliran dan ideologi sesat. Itulah yang terjadi di beberapa aliran. Para pengikutnya rela mati karena mereka yakin betul bahwa hal itu adalah implementasi dari ketundukan mereka kepada keyakinan yang mereka anut.</p>
<p>Islam adalah ad-diin yang diturunkan Allah swt., Sang Pencipta alam semesta, bagi manusia. Karena itu, Islam adalah <em>diinul haqq</em> (agama yang benar). Kenapa manusia tidak tunduk dengan total dengan semua ajaran dan aturan yang ada di dalam Islam?</p>
<p><em>3. </em><strong>Undang-undang yang bersumber dari kekuasaan tersebut</strong>.</p>
<p><em>Ad-diin</em> juga identik dengan semua aturan dan undang-undang dari <em>Sulthah</em> (kekuasaan). Karena setiap kekuasaan pasti mempunyai undang yang berlaku bagi yang dikuasainya demi tercapainya keinginan dari kekuasaan itu.</p>
<p>Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya. Yusuf membuat skenerio seolah-olah saudaranya mencuri piala miliknya agar bisa bertemu dengan saudaranya itu. Dan tidak sepatutnya baginya untuk menghukum saudaranya itu dengan undang-undang kerajaaan. Allah berfirman,</p>
<p>“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76).</p>
<p>Allah juga berfirman, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Al-Kafirun: 6)</p>
<p>Ayat ini adalah penolakan Allah atas tawaran damai orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw. Mereka tidak mengusulkan agar Nabi memeluk agama mereka dan mereka memeluk agama Islam. Tetapi orang-orang kafir itu mengusulkan Rasulullah dan mereka menjalankan aturan dan ibadah selama satu tahun secara bergantian. Tentu saja usulan itu ditolak Rasulullah saw. sebab sebuah diin tidak mungkin dicampuradukan aturan-aturannya dengan aturan-aturan diin yang lain. Tidak mungkin aturan hidup yang diturunkan Allah swt. dicampuradukan dengan aturan hidup yang dikarang-karang oleh setan laknatullah.</p>
<p><strong><em>4. </em></strong><strong>Balasan bagi orang yang taat kepada undang-undang tersebut dan siksa bagi yang tidak taat.</strong></p>
<p><em>Ad-diin</em> juga bermaknakan balasan bagi siapa yang taat menjalankan aturan itu serta siksa bagi siapa yang tidak taat. Allah berfirman di surat Al-Fatihah, dimana <em>yaum ad-diin</em> artinya hari kiamat dan hari pembalasan. Allah swt. menisbatkan kekuasaan kepada Hari Pembalasan karena pada hari itu tidak ada lagi klaim kekuasan selain klaim Allah. Di hari itu tidak satu makhluk pun bisa melakukan sesuatu tanpa izin Allah swt.</p>
<p>“Yang menguasai di hari Pembalasan.” (Al-Fathihah: 4)</p>
<p>Kata <em>maalik</em> (yang menguasai) jika dibaca dengan memanjangkan kata “mim” artinya pemilik. Sedangkan jika dibaca pendek, <em>malik</em>, artinya raja. Sedangkan frase <em>yaumi ad-diin</em> disebut juga <em>yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa’</em>. Jadi, <em>yaumi ad-diin</em> (hari Pembalasan) adalah hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Begitulah hakikat kekuasan Allah swt. di pada hari itu. Allah swt. adalah satu-satunya Raja yang memiliki kekuasaan penuh di hari pembalasan itu. Ia memaksakan undang-undang dan aturan-Nya diterapkan untuk memberi balasan pahala kepada orang yang telah beriman, tunduk secara total, dan mengamalkan Ad-Diin (aturan-aturan) yang dibuat-Nya di dunia. Di hari itu Allah juga memaksakan undang-undangnya ditegakkan dengan menghukum setiap orang yang membangkang dari aturan-aturan-Nya selama hidup di dunia.</p>
<p>Begitulah makna ad-diin secara bahasa. Semoga Allah swt. mengilhamkan kepada jiwa kita untuk beriltizam (memegang teguh) kepada Al-Islam secara total. Amiin. (dkwt)</p>
<p><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/04/Makna-Kata-Ad-Din.docx">download</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/makna-kata-%e2%80%9cad-diin%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlaq Da&#8217;i</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/akhlaq-dai/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/akhlaq-dai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 06:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Seorang penyeru pada kebaikan harus memiliki akhlak yang mulia. Sebelum membenahi umat ia harus dapat membenahi dirinya sendiri. Di antara sifat-sifat yang harus dimiliki adalah: 1. Ikhlas dalam setiap pekerjaan Ikhlas adalah memurnikan amal perbuatan kita dari perhatian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Seorang penyeru pada kebaikan harus memiliki akhlak yang mulia. <strong> </strong>Sebelum membenahi umat ia harus dapat membenahi dirinya sendiri. Di antara sifat-sifat yang harus dimiliki adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ikhlas dalam setiap pekerjaan </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Ikhlas adalah memurnikan amal perbuatan kita dari perhatian orang lain. Ikhlas adalah pokok dari sebab diterimanya setiap amal. Allah tidak akan menerima amalan seorang hamba sebesar apapun tanpa didasari keikhlasan padaNya. <em>Ikhlas</em> adalah produsen semua perbuatan, jika diletakkan amal apapun maka akan dirubahnya menjadi ibadah. Amalan yang <em>ikhlas</em> adalah yang semat-mata mengharap keridhoan dan balasan Allah semata. (Qudomah, 1997; As-Syarif,2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan ( mukhlis) kepadaNya dalam menjalankan gama.” (QS. Al Bayyinah : 5).”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada-Nya” ( QS Al Kahfi : 110 )</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Amalan yang tidak iklas ibarat kain putih yang ternoda. Amalan tersebut sama sekali tidak ada nilai dan pahalanya disisi Allah SWT. Namun, dalam masalah nilai dan pahala ini, perlu ada pengkategorian sesuai dengan kadar motivasi atau kekuatan pendorong dalam melakukan amalan tersebut. Jika pendorong untuk agamanya sebanding dengan pendorong nafsu, maka amalan itu tidak mendatangkan dosa dan pahala. Jika pendorong riya’ lebih kuat dan dominan, maka amalan itu mendatangkan dosa. Jika pendorong agamanya lebih kuat dari yang lain maka amal itu mendatangkan pahala. Hal ini diperkuat oleh kesepakatan ulama dimana jika seseorang pergi haji dengan mambawa barang dagangan maka hajinya tetap sah dan juga mandapat pahala, sekalipun ada bagian nafsu dari amalan ini. Demikian juga dengan orang yang berperang dengan tujuan untuk berperang sekaligus mendapat harta rampasan perang. Jika tujuan untuk mendapatkan harta harta itu mengekor di belakang tujuan berperang membela agama Allah maka ia tetap mendapat pahala.(Qudamah, 1997).</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sebuah kewajaran kalau kita mengharap penghargaan dari hasil jerih payah kita. Namun, janganlah penghargaan, uang dan gaji menjadi pendorong utama dalam bekerja. Bekerjalah karena Allah karena kecintaan kita kepada-Nya. Ingatlah, tidaklah sebanding Surga dan Ridha Allah dengan hanya sekedar harta dunia. Ingatlah, bahwa sebaik upah dan penghargaan adalah dari Allah. Sungguh beruntung, orang-orang yang bisa menjaga keikhlasan dalam berpikir, bercakap, dan bertindak. Oleh karenanya, wahai saudaraku tercinta, ketika akan melakukan kebaikan apapun bentuk dan namanya, hendaklah kita selalu bertanya dalam diri: &#8220;apakah yang hendak saya lakukan ini semata-mata hanya karena mengharap pujian, sanjungan, cinta, sayang, dan ridho Allah?” Jika, ternyata pujian dan sanjungan manusia yang diharapkan hendaknya kita segera meluruskan niat, agar kebaikan yang kita lakukan tidak sia-sia dihadapan-Nya. Ingatalah, pesan Rosulullah &#8220;Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya”. (H.R. Bukhori dan Muslim) <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Jujur dalam setiap permasalahan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kejujuran. Sebaliknya, Islam sangat membenci kemunafikan dan kepalsuan. Hal ini menunjukkan dengan dibebankan-nya siksaan yang berat bagi orang yang hatinya telah terpatri sifat munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal didalamnya. Cukuplah neraka bagi mereka. Dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka azab (siksa) yang kekal.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> (Q.S. At Taubah : 68)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran adalah amalan yang mulia dan mendatangkan kemuliaan baik di hadapan Allah maupun manusia. Rasulullah mendapat predikat Al Amin ( yang dapat dipercaya ) dari penduduk Makkah adalah karena kejujurannya. Kejujuran dapat menuntun seseorang menuju surga yang dijanjikan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Hendaklah kalian jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebajikan, dan kebjikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa jujur dan mencari kejujuran, hingga dia ditetapkan di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dapat berlaku untuk beberapakeadaan. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Jujur      dalam perkataan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang harus menjaga perkataannya. Tidak berkata kecuali yang benar dan secara jujur. Dia juga harus menghindari perkataan yang dibuat-buat karena hal ini termasuk kedustaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Jujur dalam niat dan kehendak</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masalah ini ternasuk dalam pembahasan masalah ikhlas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.   Jujur dalam hasrat.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang berjanji atau berkomitmen dam dirinya, maka dia harus               memenuhinya (Qudamah, 1997).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;">” <em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rosulnya, maka ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS. Al Ahzab : 70-71)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Luar biasa balasan yang Allah berikan kepada orang-orang yang jujur. Tidak tertarikkah kita? Maka, jadilah kita orang-orang yang jujur ibarat mutiara yang akan selalu dicari orang. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Sabar<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sabar merupakan akhlak Islami yanga paling penting dan menjadi keharusan seorang hamba (Asy-Syarif,2002). Allah telah menyebutkan kata-kata sabar di 90 (sembilan puluh)  tempat dalam Al-Quran (Qudamah, 1997). Salah satunya adalah firman Allah :</p>
<p style="text-align: justify;">” <em>Dan sesungguhnya kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 96)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Secara bahasa, <em>sabar </em>berarti memenjara atau menahan. Secara istilah, <em>sabar</em> adalah menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota tubuh dari hal yang merusak (As- Syarif,2002), <em>Sabar</em> dapat berkaitan dengan fisik dan psikis. Contoh kesabaran yang berkaitan dengan fisik adalah ketabahan menanggung beban dengan fisik. Sedangkan kesabaran yang berkaitan dengan psikis seperti kesabaran dalam menahan amarah yang disebut hilm (kemurahan hati) dan <em>sabar</em> dalam menghadapi masalah yang pelik dan berat (sa’atus shadri) (Qudamah,1997).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika dilihat dari pengertian di atas, dalam manajemen modern, salah satu model dari <em>sabar</em> adalah Adversity Quotient (AQ) yaitu ukuran ketahanan seseorang dalam menghadapi permasalahan, tantangan dan hambatan yang menghadangnya. AQ (Adversity Quotient) dapat disamakan sa’atus shadrin yang merupakan manivestasi psikis dari<em> sabar.</em> Dalam konteks perilaku organisasi, tentu masalah ini menjadi teramat penting karena ketahanan sebuah organisasi menghadapi permasalah tetentu sangat tergantung pada ketahana individu di dalamnya dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. <em>Sabar</em> dalam menghadapi masalah yang diluar kehendak dan pilihan seseorang adalah kedudukan yang paling tinggi (Qudamah,1997). Bahkan, musibah yang ditimpakan kepada seseorang hamba dalam Islam merupakan salah satu tanda kebaikan seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Rosulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, maka Dia menimpakan masalah (bencana) kepadanya” (HR. Bukhari)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk dalam kategori ini adalah kesabarab dalam menghadapi gangguan orang lain, seperti orang yang menyakiti dengan perkataan, perbuatan, atau suatu tindak kejahatan lainnya. Sabar dalam hal ini adalah tanpa harus membalasnya. Sabar menghadapi sikap orang yang menyakitkan termasuk tingkat sabar yang paling tinggi (Qudamah,1997). Sabar jaga tampak pada perilaku untuk manghadapi tekanandan tugas-tugasnya sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri sehingga dirinya kuat menghadapi beban tugas (tolerance to stress) karena mereka yakin allah tidak akan memberibeban diluar kemampuan hambanya (Tasmara,2001). Mari kita bercermin pada kesabaran Rosulullah dalam mengemban amanah dakwah. Sungguh berat ujian yang harus beliau terima. Hinaan, cacian, cemoohan, fitnah, bahkan sampaipercobaan pembunuhan. Tetapi, sangat menukjubkan kesabaran yang dimiliki Rasul. Beliau memiliki kesabaran yang melimpah laksana mata air yang tak pernah kering.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, <em>Maha Benar Allah yang telah berfirman:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(QS. Ali Imran : 200)</em> <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7.  Kerja Ikhsan (optimal)<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Maka apabiala sholatmu telah usai, menyebarlah kamu di muka bumi dan carilah kemurahan (karunia) Allah, serta banyaklah mengingat Allah supaya kamu berjaya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(QS. Al Jumu’ah : 10)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat diatas secara jelas menyuruh kepada setiap muslim untuk bekerja keras mencari rezeki yang dijanjikan Allah SWT (Majdid, 1999). Dalam Islam, antara bekerja mencari mata pencaharian dengan ibadah yang khusus seperti sholat, puasa, dan haji berada pada garis lurus (Qutb, 2000). Islam tidak menghendaki kita membuat kaki kita kepayahan dalam beribadah tetapi orang lain menjadi payah karena melayani kita. Islam juga tidak menyukai kelemahan dan kemiskinan. Luqman Al Hakim pernah menasehati putranya dengan perkataan ” Wahai anakku perhatikanlah mata pencaharian yang halal. Jika seseorangmiskin, ia bisa terkena satu dari tiga masalah yaitu kelemahan agama, kelemahan akal, dan kelemahan kepribadian. Yang lebih besar dari tiga perkara ini adalah adanya orang lain yang menganggap remeh dirinya.”( Qudamah,1997).</p>
<p style="text-align: justify;">Etos kerja dalam islam juga terwakili  dengan kata ihsan yang tergambar dalam sebuah hadist Rasulullah:</p>
<p style="text-align: justify;">”Sesungguhnya Allah menghendaki ihsan ( berbuat baik ) atas segala sesuatu. Karena itu , jika kamu membunuh berihsanlah dalam membunuh. Jika kamu menyembelih  berihsanlah dalam menyembelih&#8230;” ( HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpilan yang dapat diambil dari hadist ini, ihsan adalah optimalisasi hasil kerja dengan jalan melakukan pekerjaan sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin ( kosasih, 1999 ). Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;">”<em>Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. </em><em>Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” ( QS. Al Mulk : 2 )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya kita selalu berfikir dan berbuat yang terbaik dalam segala hal. Ingat, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” ( QS. Ar Rahman : 60 ) <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8. Itqan (Profesional)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain kata <em> ihsan, </em> Allah juga memakai kata itqan  yang bermakna membuat atau mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti sehingga rapi, indah, tertib serta bersesuaian antara satu dengan yang lain ( kosasih, 1999). Sehubungan dengan ini , Allah berfirman : <em> ”&#8230;perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ( Qs. An Naml : 88).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bekerja Itqan, Niscaya kita akan memperoleh banyak kemudahan; saat mencari arsip, saat pekerjaan kita dialihkan pada orang alain karena cuti atau adanya mutasi, dan yang pasti Allah akan makin cinta kepada kita. Allah telah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(QS.Ash Shaff :4)</em> <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>9. Tawadhu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tawadhu” adalah kerendahan hati ( Al Jauziyah, 1998). Ini adalah akhlaq orang-orang yang beriman. Tidaklah sesorang berakhlak  dengan-Nya kecuali Allah pasti akan menambahkan kemualiaan kepada-nya. Namanya akan harum ditengah-tengah manusia. Sebaliknya, tidaklah seseorang berpisah denganyya  kecuali pasti akan ditimpa kehinaan, dimusuhi, dibenci dan dijauhi orang lain ( As Syarif,2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda: <em>“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada daku, “ Hendaklah kalian bersikap rendah hati sehingga tidak ada seseorang yang membangga-banggakan dirinya atas orang lain  dan tidak ada seorangpun yang berbuat zalim kepada orang lain.” </em> ( HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Bentuk <em>tawadu’</em> yang nyata dalam perilaku organisasi adalah tidak meremehkan orang lain. Orang yang tawadhu” akan menganggap orang lain lebih baik dari dirinya sebagaimana sebuah hadist dari Rasulullah yang diriwayatkan imam tirmidzi. Budaya <em>tawadhu&#8217;</em> juga nampak dari tidak adanya penghormatan yang berlebih-lebihan kepada atasan atau yayasan. Hendaknya siapa saja dalam organisasi harus menyadari hal ini walaupun ia seorang peminpin organisasi atau yayasan sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tawadu’</em> bukanlah berarti tidak boleh memakai pakaian yang bagus, rapi dan menarik karena hal itu adalah wajar sebagai manusaia. Jadi bukanlah sebuah kesombongan jika karyawan memakai baju yang bagus untuk menyenangkan pelanggan atau menghias ruangan kerja dan pelayanannya sedemikian rupa dengan keindahan. (As- Syarif,2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, jadilah kita prang yang <em>tawadu’</em> (rendah hati) tapi tidak rendah diri, niscaya orang lain akan mencintai kita. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>10. Disiplin memanfaatkan waktu </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Waktu adalah aset Illahianh yang paling berharga. Waktu bahkan merupakan kehidupan yang tidak dapat disia-siakan. Sungguh benar apa yang difirmankan Allah agar kita memperhatikan waktu (Tasmara,2001). Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“ <em>Jangan mencerca waktu karena Allah-lah pemilik waktu.”( HR. Ahamd )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks perilaku berorganisasi, cara menghargai waktu diantaranya:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- </strong>Dengan adanya perencanaan waktu (<em>time sceduling)</em> yang tepat dan sungguh-        sungguh. <em>Time scheduling</em> itu kemudian ditepatidengan penuh disiplin dan rasa tanggung jawab. Termasauk di dalam masalah ini adanya perencanaan jangka panjang <em>(long term planning)</em> dan penerjemahannya berupa perencanaan jangka pendek <em>(short term planning)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- </strong>Menjadikan seluruh kegiatan didalam organisasi tepat waktu. Bagi organisasi Islam yang menghargai waktu, tidak boleh ada lagi istilah jam karet atau waktu yang molor. Harus ada mekanisme untuk dapat elakukan setiap kegiatan tepat waktu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- </strong>Tidak menunda-nunda pekerjaan (pending job). Dengan menunda pekerjaan artinya kita menembah pekerjaan dan membuang-buang waktu (Tasmara, 2001). Termasuk menghargai waktu adalah menggunakan waktu untuk hal yang bermanfaat danmeninggalkan hal yang tidak bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">” <em>Salah satu dari tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal-yang tidak berguna baginya.” (HR. Ibnu Majah)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah, sesungguhnya waktu itu laksana pedang. Jika tidak pandai memanfaatkannya niscaya kitalah yang akan tepotong menjadi korbannya. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>11. Menuntut Ilmu<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu adalah pelita. Dengan ilmu manusia dapat menerangi jalannya dari kegelapan sehingga ia tidak terkena duri atau terperosok kedalam jurang yang dalam. Ilmu dapatmengatarkan manusia untuk mengetahui kebenaran dan mengenal Tuhannya. Dengan ilmu pula manusia dapat membuat peradapan yang maju sehingga dapat berfungsi sebagai wakil Allah dimuka bumi <em>( khalifah Allah fil art )</em> .</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abbas, ulamanya kalangan sahabat Rasul pernah berkata : Orang-orang yang berilmu mempunyai derajat sebanyak tujuh ratus kali derajat diatas orang-orang mukmin. Jarak diantara dua derajat ini terbentang sejauh perjalanan selama lima ratus tahun ( Qudamah,1997 ). Hal ini didasarkan kepada firman Allah :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantarakalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujahadah : 11 )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks organisasi, tiap individu didalamnya haruslah mempunyai gairah dalam menuntut ilmu baik itu ilmu tentang agamanya maupun tentang dunia pekerjaannya. Setiap individu harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi <em>( coriousty)</em> (Tasmara,2001). Inilah dasar bagi terbentuknya <em>” Learning Organization”</em> (Organisasi Pembelajar). Budaya menuntut ilmu ini harus sifasilitasi dengan baik oleh oihak manajemen misalnya dengan menyelenggarakan ceramah-ceramah, kuliah-kuliah, pelatihan-pelatihan, maupun memberikan bea siswa bagi pegawainya. Organisasi juga diharapkan dapat memiliki perpustakaan yang lengkap dan mutakhir sebagai sarana up grading ilmu pengetahuan yang selalu berkembang. Perpustakaan diharapkan dapat diperdayakan untuk menumbuhkan budaya baca dan diskusi dikalangan karyawan. <em>Sharing of knowledge </em>dari senior kepada yunior juga merupakan usaha yang strategis ntuk mendorong skill dan pemahaman kasus di lapangan. Sungguh luar biasa hasilnya jika dorongan Islam yang kuat untuk menuntut ilmu dapat diresapi tiap anggota organisasi dan difahami sebagai amal ibadah yang sangat agung di sisi Allah. Rasulullah secara tegas bersabda bahwa kelebihan orang yang berilmu dengan seorang ahli ibadah adalah seperti kelebihanku terhadap orang yang paling hina diantara kalian. Kita bekali diri dengan ilmu agar kita mendapat banyak kemudahan dalam melakukan kebaikan, menjaga konsistensi dalam beramal kebajikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Seandaianya ilmu tanpa ketaqwaan merupakan suatu kemuliaan, niscaya makluk Allah yang paling mulia adalah iblis”</em>, demikian perkataan Imam Ghazali dalam Ihya Ulmuluddin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>12. Budaya menasihati (Amar ma’ruf nahi munkar)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Islam adalah agama nsehat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bahkan Allah mengatakan dalam firman-Nya bahwa salah satu indikator kaum yang merugi adalah meninggalkan nasehat diantara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriaman, beramal sholeh dan saling menasehati untukmenetapi kebenaran dan kesabaran.”( QS. Al Ashr : 1-3 )</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat diatas secara jelas mengetengahkan janji Allah yang bahwa jika sebuah organisasi ingin beruntung di duia dan akhirat, maka harus tercipta sebuah budaya untuk saling menasehati Setiap anggota organisasi, apapun jabatannya, merasa senantiasa rindu terhadap nasehat. Nasehatapapun bentuknya, apakah itu berupa kritik maupun teguran harus sianggap sebagai cermin sosial untuk memperbaiki kualitan diri. Kunci bagiterciptanya iklim menasehati tentunya adalah adanya keterbukaan. Simbol-simbol ketidaksamaan antar manusia harus dikikis habis karena memang hanya ketaqwaanlah yang dapat membedakan kedudukan seseorang di mat Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasehat dalam Islam harus dilakukan dengan cara yang terbaik, tidak menyakiti, dan tidak proporsional. Dan yang paling penting, harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, bukan untuk saling menjatuhkan dan mencari popularitas. Tidak pula dibenarkan menuduh seseorang berbuat salah tanpa data dan saksi yang jelas karena hal itu dapat berbuah fitnah yangmrngancam keharmonisan organisasi. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13. Menjauhi budaya menggunjing (ghibah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Islam telah menyebutkan larangan menggunjing dan menyerupakanpelakunya dengan pemakan bangkai. Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya namun belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka karena siapa yang mencari aib orang lain maka Allah akan mencari-cari aib dirinya.” (HR. Abu Dawud, At Tirmizi dll)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ghibah</em> (menggunjing) dalam Islam adalah menyebut-nyebut orng lain yang tidak ada di sisi kita dengan perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyagkut kekurangan fisik, perangai, keturunan, pakaian, dll.(Qudamah,1997)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks organisasi, budaya ghibah akan merusak sendi-sendi kerjasama dan harmoni. <em>Ghibah</em> sebenarnya merupakan manifestasi dari adanyasumbatan yang besar dalam jalur komunikasi organisasi tersebut. Karyawan atau anggota organisasi tidak memiliki saluran yang jelas dan berdayaguna untuk menampung keluhan-keluhannya, akibatnya keluhan maupun ketidakpuasan itu keluar dalam bentuk <em>ghibah</em> yang tercela dalam agama. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>14. Menjauhi budaya dengki (hasad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengki adalah tidak senang melihat orang lain mendapat kenikmatan dari Allah dan senang bila kenikmatan tersebut hilang dari orang itu (Qudamah,1997). Iklim atau budaya dengki adalah iklim kerja yang sangat berbahaya bagi sebuah organisasi. Dengki akan menimbulkan sebuah iklim kompetisi yang tidak sehat, saling menjegal, memfitnah dan segala macam akhlak buruk lainnya. Tujuannya hanya satu yaitu agar kenikmatan allah baik berupa jabatan, harta, maupun pengaruh bisa hilang lenyap dari rekan sekerjanya. Sebaliknya, hilangnya iklim kedengkian akan menumbuhkan kompetisi yang sehat karena Islam memang menyuruh kita berkompetisi dalam kebaikan <em>(fastabiqul</em> <em>khairat)</em>. Islam adalah agama persaudaraandan persatuan <em>(jama’ah)</em> dan dengki adalah musuh utama dari sebuah persaudaraan. Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>” Janganlah kalian saling membenci, saling memutuskan hubungan, saling mendengk, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba-hambayang bersaudara.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> (HR. Bukhary dan Muslim) </em> (dkwt)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/akhlak-dai1.doc"> </a><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/akhlak-dai.doc">Download</a></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/akhlaq-dai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pilar Etos Kerja Muslim</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/tiga-pilar-etos-kerja-muslim/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/tiga-pilar-etos-kerja-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 09:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3985</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Perkembangan zaman yang begitu ganas seakan tidak memberi ruang bagi penghuni bumi ini terbuai oleh hegemoni budaya hedonis. Tidak terkecuali umat Islam yang memiki sejarah emas di masa lampau dan pada perkembangannya menjadikan umat Islam itu sendiri terpuruk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Perkembangan <strong> </strong>zaman yang begitu ganas seakan tidak memberi ruang bagi penghuni bumi ini terbuai oleh hegemoni budaya hedonis. Tidak terkecuali umat Islam yang memiki sejarah emas di masa lampau dan pada perkembangannya menjadikan umat Islam itu sendiri terpuruk oleh gemerlap zaman globalisasi.</p>
<p>Banyak faktor yang melandasi dan mendorong miskinnya umat Islam di era modern sekarang ini, namun ada tiga hal yang merupakan perintah Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala di dalam Al-Qur’an. Dan tiga hal inilah yang menarik untuk kita bahas demi secercah pemahaman.</p>
<p>Di antara sekian banyak orang sering salah memahami perintah Tawakal, Sabar dan Qana’ah yang begitu jelas tertuang di dalam kitab suci Al-Qur’an, mengantarkan kita sebagai umat Islam semakin terpuruk.</p>
<p>Pengertian Tawakal, Sabar dan Qana’ah masih terbatas dalam sikap pasrah, menahan diri dan nrimo (menerima apa adanya, red). Jika tawakal dimaknai sebatas pasrah maka tidak ubahnya katak dalam tempurung yang diam menanti hujan, dan katak itu tidak akan pernah tahu ada tempat yang basah di sekitarnya. Begitu juga dengan sabar yang jika hanya diartikan menahan diri, sudah tentu definisi sederhananya adalah menahan diri untuk tidak melakukan apapun. Diperparah lagi bila qana’ah diasumsikan hanya sebagai menerima apa adanya, maka perbudakan tidak akan terhapuskan di muka bumi.</p>
<p><strong>Tawakal</strong></p>
<p>Memaknai tawakal berdasarkan hadist, maka kita akan menemukan anjuran Rasulullah <em>Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> untuk bekerja keras dan tidak sekedar bergantung pada doa. Rasulullah <em>Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> sangat menghimbau kita mencari rezeki  meskipun harus merantau ke negeri seberang dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah <em>Subhanahu wa-ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa-ta&#8217;ala</em> yang artinya :</p>
<p style="text-align: right;">فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)</p>
<p><em>“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ </em>(QS. Alam Nasyrah : 7-8).</p>
<p>Kebanyakan dari umat Islam yang condong mengutamakan pasrah sebagai bentuk tawakal mereka. Pasrah menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya. Misalnya, saat parkir kendaraan di depan masjid tanpa memberi kunci pengaman karena cukup pasrah akan kuasa Tuhan dalam menjaganya. Kasus lainnya, ketika seorang hamba cukup berdiam diri untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT  karena kesulitan membayar hutangnya. Dia pasrah kepada Allah yang maha kaya dan mengharap diberi kekayaan itu tanpa secuil upaya.</p>
<p>Ada kisah menarik ketika seorang lelaki datang ke masjid menunggangi kuda. Sesampainya di Masjid, ia menghadap Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam tanpa mengikat kudanya terlebih dahulu. Lelaki itupun berkata, “Aku melepaskan untaku, lalu bertawakal kepada Allah .”</p>
<p>Rasulullah pun bersabda, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kamu kepada Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala .” (HR. Tirmidzi).</p>
<p>Artinya tawakal itu bukanlah berarti kita meniadakan upaya, harus ada kerja konkrit dalam menjaga barang kita. Apabila bekerja harus ada usaha dalam mencapai hasil kerja yang terbaik, meski hasilnya itu hanya Allah lah yang menentukan. Sekelompok semut saja harus bekerjasama mengangkat makanan cadangan untuk disimpan ketika menemukan makanan sejauh apapun tempatnya. Seekor merpati pun harus terbang lagi mencari makan walau tuan pemiliknya telah meletakkan makanan di depan kandangnya.</p>
<p>Saatnya untuk merevisi pemahaman kita terhadap makna tawakal jika itu masih sebatas pengetahuan orang pada umumnya. Tawakal yang sesungguhnya akan menjadikan manusia senantiasa bekerja keras dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala, Karena janji Allah pasti datang.</p>
<p style="text-align: right;">وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” </em>(QS. Ath-Thalaaq : 3).</p>
<p><strong>Sabar</strong></p>
<p>Teramat sering kata sabar masuk ke alam bawah sadar kita, terutama kala seseorang dalam keadaan terpuruk. Nasehat-nasehat yang datang dari berbagai penjuru akan senada dan seirama, sabar semua pasti ada hikmah-Nya atau sabar lebih baik ngalah karena ngalah belum tentu kalah. Kondisi ini menunjukkan lemahnya seseorang ketika keterpurukan itu mendera hidupnya. Dan begitulah fenomena yang ada dalam masyarakat muslim pada umumnya dalam memaknai sabar. Sabar hanya sebatas menahan diri dan menerima apa adanya yang sudah menjadi nasibnya.</p>
<p>Sementara makna sabar yang ada di dalam Al-Qur’an menuntut seseorang untuk senantiasa siap-siaga dalam segala kondisi, baik itu sedang berjaya maupun sedang terpuruk. Sabar dan terus menguatkan keimanan dengan tetap bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala (سبحانه و تعالى‎) demi meraih keberuntungan yang telah dijanjikan-Nya.<br />
Demikian jelasnya firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”</p>
<p>Teramat naïf jika seseorang mengatasnamakan sabar, dia senantiasa mengalah dan menahan diri dalam kesulitannya tanpa melakukan apapun sebagai upaya keluar dari kesulitan tersebut. Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib telah menjelaskan bahwa orang yang mencapai derajat shabir (sabar) akan mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tak terhitung jumlahnya. Jadi, sabar menuntut seseorang untuk melakukan usaha secara terus-menerus dengan semangat dalam bekerja, walaupun kegagalan akan silih berganti menerpanya.</p>
<p><strong>Qana’ah</strong></p>
<p>Pemahaman masyarakat yang berkembang terkait makna Qana’ah sebatas menerima apa adanya. Fenomena yang umum kita jumpai di masyarakat sekarang ini terutama umat Islam. Banyak saudara-saudara kita seiman yang rutin bekerja berpuluh-tahun dengan upah yang segitu-gitu saja, mereka merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan itu. Jika demikian, maka umat Islam tak ubahnya hewan peliharaan yang dimanfaatkan tenaganya dan hanya diberi makan secukupnya oleh sang majikan.</p>
<p>Berbahayanya lagi jika Qana’ah ini diterapkan di pemerintahan negara liberal seperti Indonesia, sudah pasti rakyat kecil yang mayoritas muslim akan tertindas oleh pemimpin dzolim seperti yang terjadi sekarang ini. Menerima apa adanya semua aturan negara yang otoriter dengan pemimpinnya yang juga hanya mementingkan perutnya sendiri, menjadikan rakyat kecil semakin terkotak dalam keterpurukan tanpa jalan keluar. Qana’ah inilah yang mendoktrin rakyat agar tidak berani melakukan apapun meskipun sudah jelas para pemimpinnya curang dan munafik.</p>
<p>Semestinya, dengan Qana`ah kita dapat menghadapi kehidupan dengan kesungguhan yang energik dalam mencari rezeki. Berteguh hati dan fikiran terbuka serta mengharapkan pertolongan-Nya merupakan obat mujarab dalam menghindari segala keraguan dalam hidup. Berikut Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala tegaskan dalam firman-Nya yang artinya,</p>
<p style="text-align: right;">وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“Dan Katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” </em>(QS. At-Taubah: 105)</p>
<p>Begitulah teladan kita Rasulullah adalah manusia yang paling Qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala (سبحانه و تعالى‎). agar diberikan qana’ah, beliau berdoa:</p>
<p>“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi).</p>
<p>Semoga seluruh umat Islam khususnya di Indonesia dapat segera bangkit dengan menggenggam sikap tawakal, sabar dan qana’ah untuk kembali merajut kejayaan. Dengan ber-tawakal, sabar dan qana’ah yang sesuai Al-Qur’an kita bangun etos kerja, mensejahterakan perekonomian umat, serta mendelegasikan diri untuk menjadi pemimpin yang amanah. Insya Allah impian berdirinya Islam kaffah akan segera terwujud, peradaban umat yang bermartabat pun mewarnai dunia layaknya zaman ke-khalifah-an dulu dengan ijin Allah, amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/tiga-pilar-etos-kerja-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Sebagai Jalan Hidup</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 06:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3892</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; &#8220;SETIAP anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi,&#8221; demikian kutip sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim Fitrah Allah  maksudnya ciptaan Allah. Sebab manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span> </span></p>
<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong><em>&#8220;SETIAP anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi</em>,&#8221; demikian kutip sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim</p>
<p>Fitrah  Allah  maksudnya ciptaan Allah. Sebab manusia diciptakan Allah  mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak  beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama  tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan sosial. Jadi <em>gharizah tadayyun </em>adalah permanen, kecenderungan kepada kekafiran adalah susulan.</p>
<p>Batasan  agama yang lurus menurut arahan Allah SWT dan Rasulullah SAW diatas   menggunakan terma fitrah, sedangkan agama yang lain menggunakan istilah  Yahudi, Nasrani dan Majusi. Maka, makna fitrah yang benar adalah Islam  itu sendiri. Agama yang melekat dalam diri manusia sejak di alam rahim  ibu.</p>
<p>Al-Quran mengatakan, “<em>Maka hadapkanlah wajahmu dengan  lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah  menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah  Allah. (Itulah) agama yang lurus (dinul qayyim), tetapi kebanyakan  manusia tidak mengetahui.”</em> (QS. Ar Rum (30) : 3).</p>
<p>Sebelum  menjadi janin, manusia sudah bersyahadat di hadapan Allah SWT. Ketika  lahir diingatkan ulang kalimat tersebut di telinga kanan dengan suara  adzan dan di telinga kiri dengan suara iqamat. Agar dalam kehidupan yang  penuh ujian nanti, tidak sampai tergoda/tergelincir/terperosok ke dalam  jurang kehancuran (<em>darul bawar</em>), dan meninggalkan Islam. Baik, diuji dengan jabatan, kekayaan dan ilmu.</p>
<p><em>“Dan  (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari  sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya  berfirman): &#8220;Bukankah aku ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau  Tuban kami), Kami menjadi saksi&#8221;. (kami lakukan yang demikian itu) agar  di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Kami (Bani Adam)  adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).&#8221; </em>(QS. Al Araf (7) : 172).</p>
<p>Berpaling  dari Islam adalah menyiksa dirinya sendiri. Karena ia melempar dimensi  spiritual di dalam dirinya. Maka kehidupan manusia akan mengalami  kehampaan (krisis makna). Apa yang diburu dan dimilikinya tidak menambah  kebaikan dirinya, keluarganya dan lingkungan sosialnya (tidak barakah).</p>
<p>Jadi,  karunia yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah lazzatur ruh  (keezatan spiritual), lazzatul Iman wal Islam (kenikmatan beriman dan  berislam). Sekalipun kita menggenggam kekayaan dunia tujuh turunan,  kekuasaan yang tanpa pensiun, ilmu yang tinggi (<em>sundhul langit</em>,  Bhs Jawa), kehidupan yang memiliki pengaruh yang besar, popularitas,  tetapi tidak ditemani oleh Islam akan membuat kita kecewa seumur hidup.  Sedangkan, sekalipun kita tinggal di gubug reot, di balik jeruji, di  rumah kontrakan, kehidupan pas-pasan, jika islam bersama kita, justru  disitulah rahasia kemuliaan, dan kebahagiaan kita.</p>
<p>Berbeda dengan <em>dunya </em>(sesuatu yang dekat), <em>mata’ </em>(kepuasaan  sesaat), nikmat dinul Islam hanya diberikan kepada hamba yang  dicintai-Nya. Itulah sebabnya banyak sekali orang yang menyatakan  dirinya secara formal memeluk Islam, tetapi dalam realitas kehidupannya  ada yang merasa tidak nyaman dengan atribut keislaman. Bahkan Islam yang  indah dan mulia tersebut disalahpahami. Dahulu Islam ditambah-tambah.  Kemudian Islam dikurangi. Islam tanpa jihad, Islam tanpa hudud (hukum pidana). Sekarang  ini Islam diberi embel-embel lain. Islam radikal, Islam moderat dll.  Islam masih dipandang belum sempurna. Sehingga memerlukan pengurangan  dan penambahan, sehingga dia tidak merasa at home untuk memakainya.</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinullah</strong></p>
<p>Nama  Muslim bukanlah nama yang diberikan oleh orangtua kita, bukan pula  warisan nama yang diberikan oleh nenek moyang kita, bukan pula nama yang  dibuat oleh Rasulullah SAW. Yang memberi nama seseorang sebagai Muslim  adalah Allah SWT sendiri.<br />
Allah SWT memberi standar (ukuran),  criteria (sifat), status (posisi) orang tertentu yang memenuhi  kelayakan sebagai Muslim. Tentu, Muslim disini adalah Muslim hakiki,  lahir dan batin, <em>hissiyyan wa ma’nawiyyan </em>(penampakan lahiriyah dan batiniyah).</p>
<p>Jadi,  Muslim adalah sebuah nama yang agung, yang bersumber dari Tuhan Yang  Maha Mulia. Sejak sebelum Rasulullah SAW diutus di muka bumi ini.</p>
<p><em>“Dan  berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.  Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu  dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia  (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu  [kitab-kitab yang diturunkan sebelum Rasulullah SAW], dan (begitu pula)  dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan  supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah  sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia  adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik  penolong.” </em>(QS. Al Hajj (22) : 78).</p>
<p>Dahulu para sahabat  sangat bangga menjadi Muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam.  Tiada lagi selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa,  kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku  adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya,  ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak  mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang,  ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan  bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian  dari keluarga Muhammad saw.”</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinul Insaniyyah </strong></p>
<p>Jika  merujuk nama manusia menggunakan istilah ‘Al-Insan’ mengandung  pengertian yang mendalam. Dari kalimat tersebut melahirkan makna turunan  ‘<em>al-Uns’</em> (harmonis). Ini menunjukkan sesungguhnya sifat dasar manusia mudah untuk menjalin komunikasi dengan yang lain (<em>makhluqun madani</em>),  meminjam istilah Ibnu Khaldun. Sesungguhnya inti dinul Islam adalah  pandai bergaul (ad-Dinu huwal mua’amalah). Indikator kecintaan Allah SWT  kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut dicintai orang-orang  terdekatnya.</p>
<p>Jika terhadap komunitas terdekat tidak memiliki jiwa besar. Mustahil  bisa berinteraksi dengan lingkungan social yang lebih luas. Lingkungan  terdekat secara minimal terdiri dari 160 KK. Empat puluh KK arah depan.  Empat puluh KK arah belakang. Empat puluh KK arah kiri. Dan empat puluh  KK arah kanan.</p>
<p>Karena fitrah manusia itu senang kepada perbuatan yang dikenali hati  (al-Ma’ruf). Senang kepada kejujuran, keadilan, keberanian dalam membela  kebenaran, dermawan. Dan tidak senang kepada sesuatu yang diingkari  hati (al-Mungkar). Misalnya, kebohongan, ketidak jujuran, kelemahan,  kikir, egois, mau benar sendiri sekalipun tidak benar.</p>
<p>Jika dalam kehidupan manusia memarginalkan dimensi naluri kepada  sifat-sifat kemanusiaan ini, maka manusia akan menjadi srigala bagi yang  lain. Ia menjadi keras hati, tertutup.Ada sebuah pameo “ Hari ini makan  apa, besok dan lusa makan siapa”.</p>
<p><strong>Islam sebagai Manhajul Hayah</strong></p>
<p>Dalam tata bahasa Arab, Muslim adalah <em>isim fa’il </em>(pelaku) yang berasal dari kata &#8211; <em>aslama-yuslimu-islaman </em>– yang bermakna berserah diri. Dari akar kata aslama melahirkan kata turunan (derivat) – <em>at-Taslim </em>(berserah diri), <em>as-Silmu </em>(damai), <em>salima minal mustaqdzirat </em>(steril dari motivasi yang kotor), <em>as Salamu </em>(kesejahteraan), <em>as-Salamah </em>(keselamatan  lingkungan). Dari turunan terma Al-Islam telah tergambar sistem  kehidupan secara utuh. Yaitu sistem aqidah dan ibadah, sistem sosial,  sistem akhlak, sistem ekonomi, sistem penyelamatan lingkungan.</p>
<p><em>Manhajul hayah </em>artinya  menjadikan  Islam (al-Quran) sebagai panduan aturan kehidupan manusia.  Jadi seorang Muslim adalah orang yang telah menyerahkan jiwa dan  raganya, pikiran, hati dan perilakunya untuk mengabdikan diri sepenuhnya  kepada Allah SWT. Dan ia yakin dengan cara demikian ia akan merasakan  kehidupan yang damai, bisa berbuat dengan tulus, makmur, sejahtera, bisa  menyelamatkan lingkungan social dari berbagai bencana.</p>
<p>Seorang Muslim menjalankan segala aspek kehidupannya dengan merujuk  referensi Islam. Dalam skala kehidupan individu, keluarga, masyarakat,  bangsa. Sejak kelahirannya (<em>fiqh aqiqah</em>) hingga kematiannya (<em>fiqh janazah</em>). Menyangkut system ideology, politik, social budaya, pendidikan, ekonomi, pertahanan kemanan dll.</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinul Kaun</strong></p>
<p>Sudah  kita maklumi, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tunduk kepada  suatu peraturan tertentu dan menginduk kepada undang-undang tertentu.  Matahari, bulan dan bintang-bintang semuanya patuh kepada suatu  peraturan yang permanen (tetap), tidak dapat bergeser atau menyeleweng  darinya sedikitpun meskipun seujung rambut (hukum alam).</p>
<p>Bumi berputar mengelilingi sumbunya. Ia tidak dapat beranjak dari  masa, gerak dan jalan yang telah ditetapkan baginya. Air,  udara, cahaya  dan panas semuanya tunduk kepada suatu sistem yang khas (unik).  Benda-benda yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang  tunduk kepada sesuatu ketentuan yang pasti, tidak lahir dan tidak mati  kecuali menurut ketentuan itu.</p>
<p>Demikian pula setiap fase kehidupannya, secara sistematis tunduk  kepada pemilik dan pencipta kehidupan. Sejak fase kehidupannya di rahim  ibu (berupa janin), ia hidup dengan tenang. Ia dilindungi oleh-Nya dari  gangguan suara, panas dan dingin. Kemudian menjadi bayi (shobi), ia  diajari oleh Allah menangis ketika dalam keadaan lapar. Kemudian menuju  masa kecil (thifl). Ia diajari oleh Allah SWT berbicara, merangkak,  berjalan dan berlari. Lalu menuju masa ABG (murahiq). Kemudian melawati  masa dewasa (kuhulah). Dan melewati masa syaikh (umur 40 keatas). Dua  kelemahan yang melekat pada diri anak Adam adalah masa kecil dan masa  tua. Semua fase kehidupan diatas tunduk pada ketentuan Allah SWT.  Siapapun tidak bisa menolaknya. Sekalipun mulutnya mengatakan bahwa  dirinya Yahudi, Nasrani dan Majusi. Jika manusia bisa memilih, tentu ia  ingin tidak melewati masa kecil dan masa tua. Karena masa kecil  merepotkan orang tuanya. Dan masa tua merepotkan anak-anaknya.</p>
<p><strong>Islam sebagau Dinul Hadharah</strong></p>
<p>Islam  yang diturunkan sebagai din, sebenarnya telah memiliki konsep  seminalnya (ilmiah) yang spesifik (unik) sebagai peradaban (kemajuan  hidup secara lahir dan batin). Sebab kata din (<em>dal-yak-nun</em>) itu  sendiri telah mengandung keragaman makna, ketundukan, keberhutangan  manusia kepada Tuhan, struktur kekuasaan, susunan hukum, dan  kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan  mencari pemerintah yang adil. Memiliki makna pula, kecenderungan  manusia secara fitrah kembali kepada Perjanjian Pertama Dengan Allah SWT  ketika di alam rahim ibu.</p>
<p style="text-align: right;">وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي  آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ  أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ  الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab:  &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang  demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya  kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan  Tuhan).&#8221; </em>(QS. Al-A’raf (7) : 172).</p>
<p>Dari din muncul berbagai derivasi (kata turunan), <em>daana </em>(berhutang), <em>da’in </em>(pemberi hutang), <em>dayn</em> (kewajiban), <em>dayunah </em>(hukuman/pengadilan), <em>idanah </em>(keyakinan).  Artinya dalam istilah din itu tersirat sistem kehidupan yang utuh.  Dinul Islam berarti pola kehidupan yang dibingkai oleh spirit Islam.  Paham, perilaku dan kultur kehidupan yang diserap dari nilai-nilai  ilahiyah (ketuhanan).</p>
<p>Karena itulah, pada pesan terakhir Allah pada Nabi Muhammad, menyatakan bahwa Islam sebagai agama (din) yang telah sempurnya.</p>
<p><em>“Pada  hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” </em>(QS. Al-Maidah (5) : 3).</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ  الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ  الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ  وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya  agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih  orang-orang yang telah diberi Al Kitab [yang diturunkan sebelum Al  Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena  kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap  ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”</em> (QS. Ali Imran (3) : 19).</p>
<p>Mudah-mudahan,  kita dan keluarga kita semakin istiqomah untuk berislam dan bangga  kepada pada agama Islam. Sebagaimana Allah telah mengatakan  keridhoannaya pada agama ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

