<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kampus dakwah Al-Hikmah</title>
	<atom:link href="http://alhikmah.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alhikmah.ac.id</link>
	<description>Kampus Pejuang Dakwah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 09:25:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Firasat Mukmin Bukan Kekuatan Supranatural</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/hati-hati-dengan-firasat-seorang-mukmin/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/hati-hati-dengan-firasat-seorang-mukmin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 09:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekal dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3899</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Qadhi Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim salah seorang murid Imam Abu Hanifah bercerita: “Saya biasa duduk bersama khalifah Harun ar-Rasyid dan makan dari hidangannya. Suatu hari, disajikan kepadanya faludzaj (sejenis makanan mewah), maka khalifah berkata, “Hai Ya’qub, makanlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Qadhi Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim salah seorang murid Imam Abu Hanifah bercerita: “Saya biasa duduk bersama khalifah Harun ar-Rasyid dan makan dari hidangannya. Suatu hari, disajikan kepadanya <em>faludzaj </em>(sejenis makanan mewah), maka khalifah berkata, “Hai Ya’qub, makanlah ini, sebab makanan seperti ini tidak dibuat setiap hari untuk kami.” Saya bertanya, “Apa ini, wahai Amirul Mu’minin?” Dijawab, “Ini adalah faludzaj yang disiram dengan minyak fustuq.” Saya pun tertawa. Khalifah bertanya, “Mengapa engkau tertawa?” Saya jawab, “Tidak apa-apa. Semoga Allah mengekalkan Amirul Mu’minin.” Khalifah berkata, dan benar-benar mendesak saya, “Sungguh, ceritakan kepadaku!”</p>
<p>Saya pun menceritakan sebabnya: “Ayah saya – Ibrahim bin Habib – meninggal dunia, sedang saya masih kecil dan diasuh ibu. Saya pun diserahkan kepada tukang binatu untuk magang bekerja padanya. Suatu hari, saya meninggalkan tukang binatu dan melewati halaqah Abu Hanifah. Saya pun duduk mendengarkan. Ibu menyusul saya ke halaqah itu, menarik tangan saya dan membawa saya kembali kepada tukang binatu. Abu Hanifah sangat memperhatikan saya, sebab beliau melihat keinginan kuat saya untuk belajar. Karena peristiwa itu terus berulang dan ibu merasa bosan dengan “pelarian” saya ke majlis Abu Hanifah.” Ibu pun berkata kepada beliau, “Anak ini tidak memiliki kekurangan selain kamu! Ia anak yatim yang tidak punya apa-apa. Aku memberinya makan dari alat pemintal benangku. Aku berharap ia bisa bekerja mendapatkan uang satu daniq untuk menghidupi dirinya sendiri.” Beliau pun menjawab, “Pulanglah, bu. Anak ini sebenarnya sedang belajar makan <em>faludzaj </em>yang disiram dengan minyak <em>fustuq</em>.” Ibu pun pergi sambil berkata, “Engkau ini orang tua yang sinting dan tidak waras!”</p>
<p>Khalifah Harun ar-Rasyid sangat takjub mendengar kisah itu, lalu berkata, “Sungguh, aku bersumpah, ilmu itu benar-benar mengangkat derajat seseorang dan bermanfaat baginya, baik bagi agamanya maupun kehidupan dunianya. ”Khalifah kemudian mendoakan Abu Hanifah, dan berkata, “Beliau melihat dengan mata hatinya, sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dilihat dengan mata kepalanya.”</p>
<p>Inilah yang – dalam Islam– disebut firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala. Sejenis dengannya adalah karamah, yaitu tampilnya hal-hal ajaib dari seseorang yang bukan Nabi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa firasat dan karamah adalah karunia Allah; bukan hasil latihan, belajar maupun warisan. Ia muncul begitu saja sesuai kehendak-Nya, bukan karena permintaan yang bisa terjadi setiap saat. Maka, kekuatan firasat maupun karamah tidak bisa dipertontonkan di panggung-panggung hiburan, apalagi menjadi profesi.</p>
<p>Di zaman ini, ternyata “kemampuan” seperti itu tetap menggoda manusia. Sulap, magic, hipnotis, kekuatan supranatural, atau entah apapun itu namanya, selalu menarik perhatian. Terselip kekaguman, rasa ingin tahu, sekaligus kengerian dan misteri. Kita sering mendapati orang-orang yang dengan “kemampuannya” bisa memberitahukan apa yang tertutup dan tersembunyi, mengetahui penyakit tanpa memeriksa pasien, atau “mengobati” dari jarak jauh.</p>
<p>Bisa kita saksikan, banyak orang di zaman seperti ini “bersandar” pada kekuatan supra-natural. Ingin menjadi presiden, direktur BUMN, gubernur, bupati, walikota lari kepada orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan lebih.</p>
<p>Umumnya, yang seperti ini kebanyakan adalah para dukun.Padalah, Rasulullah <em>Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) </em>bersabda :</p>
<p>“<em>Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam.” </em>(HR. Muslim ).</p>
<p>Firasatnya orang beriman</p>
<p>Bagaimana cara kita memastikan bahwa  semua itu benar dan identik dengan firasat serta karamah? Untuk memastikan, sebenarnya kita – terlebih dahulu – harus memeriksa siapa orang itu; agar diketahui dari mana “kemampuannya” bersumber.</p>
<p>Rasulullah bersabda, “<em>Berhati-hatilah kamu terhadap firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan (diterangi) cahaya Allah.” </em>(Riwayat Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudry).</p>
<p>Hadits ini, memang diperselisihkan ulama. Sebagian mereka bahkan mengkategorikannya sebagai hadits <em>maudhu </em>(palsu), seperti Ibnul Jauzi dan ash-Shaghani. Namun, Ibnu Hajar, al-Haitsami, as-Suyuthi dan asy-Syaukani menyatakannya sebagai hadits <em>hasan </em>(baik), karena maknanya memiliki penguat dari sumber lain. Jadi, ia bisa dijadikan pegangan.</p>
<p>Yunus bin Abdul A’la pernah berkata kepada Imam Syafi’i, “Tahukan Anda, wahai Abu ‘Abdillah, apa yang dikatakan oleh teman kami?” Maksudnya, al-Laits bin Sa’ad atau lainnya. Bahwa ia berkata, “Andaikan engkau melihat dia (penganut bid’ah) bisa berjalan di atas air, maka jangan percaya, jangan perdulikan, dan jangan pula berbicara dengannya.” Beliau pun menanggapi, “Sungguh, demi Allah, dia telah berkata dengan ringkas dan padat.” (lihat: Syarh I’tiqadi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya al-Lalika’iy).</p>
<p>Artinya, “kemampuan” semacam itu takkan Allah berikan kepada pelaku <em>bid’ah, </em>apalagi ahli maksiat dan orang kafir. Menurut Syarif Ali al-Jurjani dalam at-Ta’rifat, jika saja hal itu muncul dari mereka, maka namanya <em>istidraj, </em>yakni kemuliaan semu yang akan menyeret mereka ke dalam kehinaan dan siksa-Nya perlahan-lahan. Benar bahwa tebakan-tebakan mereka adakalanya tepat, namun bangsa jin suka mencuri dengar berita dari langit, lalu dibisikkannya ke telinga orang-orang fasik atau kafir yang bekerjasama dengannya, setelah dicampur dengan sejuta kebohongan.</p>
<p>Dalam kitab <em>“Bariqah Mahmudiyah” </em>dikatakan bahwa firasat hanya bisa dicapai dengan komitmen yang kuat kepada Allah, seperti menundukkan pandangan (<em>ghaddhul bashar</em>), menahan diri dari syahwat, memakmurkan jiwa dengan muraqabah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah), dan membiasakan diri memakan yang halal.</p>
<p>Artinya, hal-hal ajaib yang keluar dari sosok yang terjauh dari jalan Allah (apalagi pelakukan keluar dari syariah), pasti merupakan bagian dari tipuan syetan untuk menyesatkan manusia. Biasanya, setelah itu syetan akan menggiring kepada kemaksiatan yang sesungguhnya. Syetan punya maksud-maksud lain di balik itu, yang tidak selalu kita tahu. Oleh karenanya, waspadalah serta jauhilah!.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/hati-hati-dengan-firasat-seorang-mukmin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermunculan Tanda-Tanda Akhir Jaman</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/bermunculan-tanda-tanda-akhir-jaman/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/bermunculan-tanda-tanda-akhir-jaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 07:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3897</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Dari Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas; ia berkata, bersabdalah Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), &#8220;Tiada suatu kaum itu mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan kecuali Allah akan mencegah hujan kepada mereka. Dan tiada nampak perzinaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Dari Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas; ia berkata, bersabdalah Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), &#8220;<em>Tiada suatu kaum itu mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan kecuali Allah akan mencegah hujan kepada mereka. Dan tiada nampak perzinaan pada suatu bangsa kecuali akan timbul maut atas mereka. Tidak lahir pada suatu kaum perbuatan riba kecuali Allah akan mengangkat penguasa yang gila. Tiada muncul pembunuhan pada suatu bangsa kecuali Allah akan memberi kekuasaan kepada musuh-musuh mereka. Dan tiada timbul suatu perbuatan homoseksual kecuali akan timbul pada mereka kehinaan (kemusnahan). Dan tiada suatu bangsa meninggalkan amar ma&#8217;ruf nahi mungkar, kecuali amal-amal mereka tidak akan terangkat dan doa-doa mereka tidak didengarkan.&#8221;</em> (HR.Tabrani).</p>
<p>Informasi Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ini sudah disampaikan 14 abad lamanya dan rupanya telah menjadi kenyataan hari ini. Kasus-kasus sosial dan moral;  mengurangi takaran/ timbangan, legalnya perzinahan, riba, pembunuhan, perbuatan homoseksual, dan meninggalkan <em>amar ma&#8217;ruf nahi munkar </em>bisa kita rasakan hari ini. Bahkan akhir-akhir ini kasus-kasus tersebut banyak sekali dilansir oleh media massa.</p>
<p>Fenomena ini disadari atau tidak, namun kenyataan membuktikan semakin hari problematika masyarakat makin tambah pelik akibat fitnah-fitnah tersebut.</p>
<p>Diceritakan oleh Urwah dari Aisyah ra dalam Musnad-nya, &#8220;Telah datang ke tempatku, Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), beliau tampak sedih. Saya mengetahui dari wajahnya, bahwa beliau sedang dirisaukan oleh sesuatu. Beliau tidak berbicara hingga berwudhu, lalu keluar. Saya tetap tinggal di kamar. Kemudian beliau naik ke mimbar, lalu membaca tahmid dan berkhutbah: &#8220;<em>Wahai saudara-saudara, sesungguhnya Allah Subhanahu wa-ta&#8217;ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman kepada kalian: &#8220;Serukanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa kepada-Ku. Kalau tidak, Aku tidak akan menjawab kalian (tidak mengabulkan) ketika kalian memohon pertolongan kepada-Ku, Aku tidak akan menolongmu, kalau kalian minta, Aku tidak akan memberimu&#8217;.&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Hadits di atas menginformasikan kepada kita betapa dahsyat akibatnya, jika seorang mukmin &#8216;meninggalkan kewajiban beramar <em>ma&#8217;ruf nahi munkar </em>di tengah kehidupan masyarakatnya. Di mana Allah tidak akan mengabulkan doa-doanya. Disamping Allah juga tidak akan memberikan pertolongan-Nya di saat-saat dibutuhkan-Nya. Tentunya, untuk menyikapi kondisi sosial semacam ini kita harus melakukan <em>muhasabah </em>(instropeksi diri). Tidak perlu menuding sana menuding sini, dan siapa yang harus disalahkan. Akan tetapi secara jantan, kita harus berani mengakui kealfaan kita dan perbuatan dosa kita. Sikap ini harus dilakukan sebelum Allah benar-benar menghisab kita kelak di hari pembalasan yang amat berat itu.</p>
<p>Sudahkah kita melakukan <em>amar ma&#8217;ruf nahi munkar? </em>Sudahkah para pemimpin kita melakukan amar ma&#8217;ruf nahi mungkar? Sikap ini harus dimiliki semua orang. Dari tingkat presiden, menteri, pejabat eselon, anggota dewan, <em>manager, </em>pengelola TV/Koran, rektor, kepala sekolah, bupati, camat, lurah, ketua RT hinggap kepala rumah tangga.</p>
<p>Tidak pantas rasanya kita mencari kambing hitam untuk menyelesaikan persoalan ini. Marilah secara arif kita tumbuhkan rasa kasih sayang dan sampaikan <em>amar ma’ruf </em>di tempat kita dan di tempat kekuasaan kita<em>, </em>secepatnya melakukan <em>taubatan nasuha, </em>sebelum maut menjemput kita atau malapetaka lebih besar ditimpahkan kepada kita.</p>
<p>Imam Ahmad menyebutkan dari Umar bin Khaththab ra mengatakan, &#8220;<em>Hampir negeri itu dihancurkan padahal ia makmur.&#8221;</em></p>
<p>Ditanya, &#8220;Mengapa akan dihancurkan sedangkan ia subur?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab, <em>&#8220;Karena orang-orang yang jahat di situ mengungguli orang-orang yang baik, dan orang-orang munafik telah memimpin suku bangsa di sana.&#8221;</em></p>
<p>Apa yang dikatakan Umar itu bukan telah menjadi kenyataan. Fenomena sekarang bisa dilihat. Suami istri berselinkuh, ayah menghamili anak, anak memperkosa ibunya, homoseksual dan lesbian merajalela. Bahkan diseminarkan, dikampanyekan terang-terangan dan film-nya dipamerkan dengan difasilitasi media massa.</p>
<p>Seks remaja bebas di jalanan tanpa rasa malu dan sedikit orang mengingatkan maksiat terang-terangan seperti ini. Masyarakat seolah menerima ketika waria, kaum homo/lesbi mendaftar menjadi wakil rakyat. Seolah menandakan perilaku mereka sudah benar menurut agama. Sementara di sisi lain, lembaga-lembaga <em>amar ma’ruf nahi munkar </em>dimusuhi (juga difasilitasi media massa). Jika mereka berani melakukan aksinya, pers, polisi, pemerintah dan LSM menyebutkan organisasi pelaku kekerasan.</p>
<p>Nabi sendiri jauh-jauh sudah memperingatkan, &#8220;<em>Akan datang suatu masa, saat hati seorang mukmin bagaikan meleleh sebagaimana garam mencair dalam air.&#8221;</em></p>
<p>Melelehnya orang mukmin, dikarenakan ia melihat kemungkaran dan kedhaliman, tetapi ia membiarkannya begitu saja. Tanpa ada kemauan untuk merubahnya. Seolah sekarang ini &#8216;mafia&#8217; kamaksiatan telah terorganisir dengan apik dan teratur secara sistemik. Sampai orang-orang mukmin, seolah &#8216;tak berdaya&#8217; untuk melakukan tindakan pengembalian manusia tersesat dari jalan Allah (<em>inabah</em>).</p>
<p>Puncak kondisi sosial semacam ini, maksudnya bila kaum mukmin sudah tidak lagi mampu melakukan amar makruf nahi mungkar, tunggu saatnya Allah akan menghacur-leburkan dan meluluh-lantakkan ummat manusia tersebut dengan meratanya siksaan (musibah). Sebagaimana dikatakan Nabi, &#8220;<em>Tiada suatu kaum berbuat maksiat di tengah-tengah mereka (orang-orang mukmin), sedangkan mereka lebih kuat dan lebih banyak daripada yang berbuat itu, kecuali Allah akan meratakan pada mereka siksanya.&#8221;</em></p>
<p>Wanita dan seks</p>
<p>Dalam banyak riwayat, Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengingatkan masalah wanita dan aurat. Dalam sebuah riwayat,  Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengatakan, &#8220;<em>Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa ummat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya); dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, &#8220;Alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya&#8217;la tersebut di atas akan menjadi kenyataan, manakala ummat manusia telah melegalkan dan menghalalkan perzinahan dan pakaian mewah. (Shahih Bukhari). Rasulullah Shalallaahu &#8216;Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) juga pernah mengatakan, tidak hanya perzinahan, akan tetapi ummat manusia telah melegalkan juga akan minuman yang memabukkan dengan segala rekayasanya. (Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).</p>
<p>Pada zaman ini ummat manusia banyak yang mengindap penyakit bakhil. Mereka mau berkorban, bila ada maunya saja. Niat ikhlas karena Allah, mereka gantikan dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Ummat Islam lebih suka memperindah masjid-masjidnya. Bahkan karena masalah sepele, mereka dengan teganya memutuskan tali persaudaraan sesama muslim.</p>
<p>Selain itu adalah semakin banyaknya penyanyi-penyanyi wanita, yang semakin berani membuka auratnya (HR.Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani).</p>
<p>Sekarang, semua sudah dinampakkan di depan mata kita. Ketika para artis melawan –bahkan melecehkan fatwa ulama&#8211; ketika mereka diingatkan apa yang dilakukannya itu keliru. Dan lagi-lagi, fitnah zaman seperti ini justru difasilitasi media massa.</p>
<p>Telah banyak tanda-tanda yang dikabarkan dalam hadits Nabi. Dan telah banyak pula di antara tanda-tanda itu diperlihatkan di sekitar kita. Sementara belum banyak yang kita lakukan untuk perbaikan zaman. Lantas, apa modal kita menghadap Allahu Ta’ala  bila sewaktu-waktu Allah <em>Subhanahu Wa ta&#8217;ala</em> memanggil kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/bermunculan-tanda-tanda-akhir-jaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shuhaib bin Sinan, Sang Pendamping Setia Rasulullah</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/shuhaib-bin-sinan-sang-pendamping-setia-rasulullah/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/shuhaib-bin-sinan-sang-pendamping-setia-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 07:45:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3895</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang-orang yang paling pertama dan utama masuk Islam ada empat. Pertama, Rasullulah sendiri, sebagai tokoh dari Arab. Kedua, Shuhaib bin Sinan sebagai tokoh dari Romawi. Ketiga, Bilal sebagai tokoh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang-orang yang  paling pertama dan utama masuk Islam ada empat. Pertama, Rasullulah  sendiri, sebagai tokoh dari Arab. Kedua, Shuhaib bin Sinan sebagai tokoh  dari Romawi. Ketiga, Bilal sebagai tokoh dari Abyssina. Dan keempat,  Salman al-Farisi sebagai tokoh dari Farsi.</p>
<p>Shuhaib bin Sinan  memang berasal dari Romawi. Bahkan, nama al-Rumi yang kerap digandengkan  kepada namanya berasal dari kata Romawi. Namun, catatan sejarah  menunjukkan, nenek moyang Shuhaib sebetulnya berasal dari Arab, dan  merupakan keluarga terhormat.</p>
<p>Nenek moyang Shuhaib pindah ke  Iraq jauh sebelum datangnya Islam. Di negeri ini, ayah Shuhaib diangkat  menjadi hakim dan walikota oleh Kisra, Raja Persia . Shuhaib dan  orangtuanya tinggal di istana yang terletak di pinggir sungai Eufrat ke  arah hilir Jazirah dan Mosul . Mereka hidup dalam keadaan senang dan  bahagia.</p>
<p>Suatu ketika datang orang-orang Romawi menyerbu dan  menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib. Setelah ditawan, Shuhaib  dijualbelikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar lain. Ia  menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja di Romawi  sebagai budak. Akibatnya, dialeknya pun sudah seperti orang Romawi.</p>
<p>Pengembaraannya  yang panjang sebagai budak akhirnya berakhir di Makkah. Majikannya yang  terakhir membebaskan Shuhaib karena melihat kecerdasan, kerajinan, dan  kejujuran Shuhaib. Bahkan, sang majikan memberikan kesempatan kepadanya  untuk berniaga bersama.</p>
<p><strong>Memeluk Islam</strong></p>
<p>Perihal keislaman  Shuhaib, diceritakan oleh sahabatnya, &#8216;Ammar bin Yasir. Suatu ketika,  &#8216;Ammar berjumpa Shuhaib di muka pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Saat  itu Rasulullah masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah  tersebut.</p>
<p>“Kamu mau kemana?” tanya `Amar.</p>
<p>Shuhaib balik bertanya, “Dan kamu hendak kemana?”</p>
<p>“Aku mau menjumpai Rasulullah untuk mendengarkan ucapannya,” jawab &#8216;Ammar.</p>
<p>“Aku juga mau menjumpainya,” ujar Shuhaib pula.</p>
<p>Lalu  mereka masuk ke dalam rumah Arqam menemui Rasulullah. Keduanya  mendengar secara khidmat penjelasan tentang aqidah Islam hingga petang  hari. Setelah itu, keduanya menyatakan diri memeluk Islam. Secara  sembunyi-sembunyi mereka kemudian keluar dari rumah itu.</p>
<p><strong>Hijrah</strong></p>
<p>Ketika  Rasulullah hendak berhijrah ke Madinah, Shuhaib ikut serta. Ada yang  mencatat bahwa Shuhaib telah menyembunyikan segala emas, perak, dan  kekayaan yang dimilikinya sebagai hasil perniagaan bertahun-tahun di  Makkah sebelum pergi hijrah. Catatan lain menyebutkan bahwa harta  tersebut hendak ia bawa ke Madinah.</p>
<p>Rencananya, Shuhaib akan  menjadi orang ketiga yang akan berangkat ke Madinah setelah Rasulullah  dan Abu Bakar. Namun, orang-orang Quraisy telah mengetahui rencana  tersebut. Mereka mengatur segala persiapan guna menggagalkannya.</p>
<p>Ketika  hijrah akan dilakukan, pasukan Quraisy menyerbu. Malang nasib Shuhaib.  Ia masuk perangkap dan tertawan. Akibatnya, kepergian Shuhaib ke Madinah  tertunda, sementara para sahabat yang lain bisa meloloskan diri.</p>
<p>Saat  orang-orang Quraisy lengah, Shuhaib langsung naik ke punggung unta dan  memacu sekencang-kencangnya menuju gurun yang luas. Tentara Quraisy  segera memburu dan hampir berhasil menyusulnya. Tiba-tiba Shuhaib  berhenti dan berteriak:</p>
<p>“Hai orang-orang Quraisy, kalian  mengetahui bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah,  kalian tak akan berhasil mendekatiku sebelum kulepaskan semua anak panah  yang berada dalam kantong ini. Dan setelah itu aku akan menggunakan  pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tangan ini habis semua.  Nah, majulah ke sini kalau kalian berani! Tetapi kalau kalian setuju,  aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta benda milikku asal kalian  membiarkan aku pergi.”</p>
<p>Ibnu Mardaweh meriwayatkan dari Utsman  an-Nahdiy dari Shuhaib bahwa pasukan Quraisy saat itu berkata, “Hai  Shuhaib, dulu kamu datang kepada kami tanpa harta. Sekarang kamu hendak  pergi hijrah sambil membawa pergi hartamu? Hal ini tidak boleh terjadi.”</p>
<p>“Apakah kalian menerima tawaranku?”</p>
<p>Tentara  Quraisy akhirnya tertarik dan sepakat untuk melepaskan Shuhaib  sekaligus menerima imbalan harta. Reputasi Shuhaib sebagai orang jujur  selama ini telah membuat tentara Quraisy itu percaya bahwa Shuhaib tak  akan berbohong.</p>
<p>Setelah kaum Quraisy balik arah, lalu  melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menyusul Rasulullah yang  sedang berada di Quba’.</p>
<p>Waktu itu Rasulullah sedang duduk  dikelilingi para sahabat. Ketika mendengar salam dari Shuhaib, Nabi  langsung berseru gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”  Ucapan itu diulangnya sampai dua kali.</p>
<p>Beberapa saat kemudian  turunlah Surat Al-Baqarah ayat 207. Ibnu Abbas, Anas bin Musayyab, Abu  Utsman an-Nahdiy, Ikrimah, dan yang lain berkata, ayat ini diturunkan  Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenaan dengan peristiwa yang menimpa  Shuhaib. Sementara kebanyakan ulama berpendapat, ayat ini umum untuk  setiap mujahid yang berperang di jalan Allah, seperti halnya fiman Allah  dalam Surat at-Taubah ayat 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari  orang-orang mukmin diri dan harta mereka. Mereka berperang pada jalan  Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji  benar Allah dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih  menepati janjinya (selain Allah)? Maka bergembiralah dengan jual-beli  yang kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”</p>
<p>Sebuah  catatan menunjukkan, Shuhaib baru mengetahui turunnya ayat mengenai  dirinya setelah bertemu Umar bin Khattab dan kawan-kawannya di Tharf  al-Hurrah. Mereka berkata pada Shuhaib, “Perniagaanmu beruntung.”</p>
<p>“Kalian  sendiri bagaimana? Saya tidak merugikan perniagaanmu di jalan Allah.  Apa yang kalian maksud dengan perniagaanku beruntung?” tanya Shuhaib.</p>
<p>Para sahabat kemudian memberitahu bahwa Allah telah menurunkan ayat yang berkaitan dengan dia.</p>
<p><strong>Pendamping Setia</strong></p>
<p>Setelah hijrah, Shuhaib menjadi pendamping setia Rasulullah. Ia dikenal berani dan andal menggunakan lembing dan panah.</p>
<p>Shuhaib  pernah berkata, “Tidak ada sesuatu peperangan yang dilakukan Rasulullah  dengan pihak lain yang aku tidak ada di sampingnya. Tidak pernah suatu  perjanjian yang dibuat Rasulullah dengan pihak lain yang aku tidak ada  di sampingnya. Tidak pernah suatu angkatan perang yang disiapkan oleh  Rasulullah untuk pergi bertempur yang aku tidak ada di dalamnya. Tidak  ada sesuatu peperangan yang sedang berkecamuk yang aku tidak ada di  kanan kiri baginda. Tidak pernah terjadi sesuatu persiapan untuk  mengirim bantuan yang aku tidak hadir di tempat itu. Pendek kata, aku  adalah orang yang berdiri di tengah-tengah antara musuh dan Rasulullah.”</p>
<p>Setelah  Rasulullah wafat, Shuhaib menyumbangkan baktinya kepada Sayyidina Abu  Bakar dan Sayyidina Umar bin Khaththab ketika keduanya menjadi khalifah.  Ketika Umar ditikam dari belakang saat memimpin shalat Shubuh, Shuhaib  langsung ditunjuk sebagai pengganti imam.</p>
<p>Kata Umar, “Shalatlah  kalian bersama Shuhaib.” Padahal saat itu kaum Muslimin belum memutuskan  siapakah yang bakal menggantikan Umar sebagai khalifah.</p>
<p>Selanjutnya,  Umar berkata, “Jangan kalian takut kepada Shuhaib karena dia seorang  maula (hamba yang dimerdekakan). Dia tidak akan memperebutkan jabatan  khalifah ini.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/shuhaib-bin-sinan-sang-pendamping-setia-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Efektif dalam Berdakwah</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/komunikasi-efektif-dalam-berdakwah/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/komunikasi-efektif-dalam-berdakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 07:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3890</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Di antara sifat Allah SWT yang menonjol adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Dia Maha bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya. Seorang muslim yang kecipratan sifat-Nya ini akan menggabungkan akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati nurani yang bersih. Hikmah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Di antara  sifat Allah SWT yang menonjol adalah <em>Al-Hakim </em>(Maha  Bijaksana). Dia Maha bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya. Seorang  muslim yang kecipratan sifat-Nya ini akan menggabungkan akal budi yang  mulia, dada yang lapang, hati nurani yang bersih. Hikmah terkadang  dimaknai sebagian orang dengan filsafat. Padahal hikmah adalah inti  filsafat, lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dijangkau oleh orang  yang terlatih kecerdasannya dan lebih tinggi cara berpikir. Sedangkan  hikmah bisa dipahami oleh orang awam dan tidak bisa terbantahkan oleh  ilmuan. Hikmah tidak sebatas ucapan verbal, tetapi jelmaan dari tindakan  dan akal budi.</p>
<p><span> </span></p>
<p>Imam Syafii dikenal memiliki <em>qoul qadim </em>(fatwa lama) dan <em>qaul jadid </em>(fatwa baru). Ini menunjukkan kedalaman ilmu syariah (<em>tafaqquh fiddin</em>) dan pemahaman terhadap obyek dakwah (<em>fiqh dakwah</em>).</p>
<p>Beliau mengatakan, Memahami syariat merupakan fann (ilmu) tersendiri dan cara mengkomunikasikannya merupakan fann yang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika seorang komunikator Allah SWT (dai/muballigh) itu matang secara spiritual maka yang keluar dari lisannya adalah <em>qaulan tsaqila </em>(ucapan yang berbobot), (al-Muzzammil (73) :5), <em>qaulan layyina </em>(ucapan yang lembut) (Thaha (20) : 44), <em>qaulan tsabita </em>(ucapan yang meneguhkan), (Ibrahim (14) : 27), <em>qaulan ma’rufa </em>(ucapan yang dikenali hati), (al-Baqarah(2) : 263), <em>qaulan karima </em>(ucapan yang mulia), (al-Isra (17) : 23), <em>qaulan sadida </em>(ucapan yang tepat), (al-Ahzab (33) : 70) <em>qulan baligha </em>(ucapan yang memiliki ketinggian nilai sastra), (an Nisa (4) : 63), <em>qulan maisura </em>(ucapan yang mudah dan memudahkan), (al-Isra (17) : 28).</p>
<p>Stigma  negatif yang  dicitrakan oleh pihak tertentu terhadap Islam belakangan  ini, diantaranya diakibatkan oleh pelaku dakwah yang dangkal pemahaman  keislamannya dan picik (sempit pandangan dan sempit dada) dalam memahami  realitas medan dakwah (<em>maidanud dakwah</em>).</p>
<p>Dahulu, para  muballigh yang dikirim di kepulauan Nusantara ini sejak zaman Umar bin  Khathab, mereka menjalankan misi dakwahnya sukses secara damai.  Sekalipun Indonesia kala itu masih dipengaruhi Hindu dan Budha.</p>
<p>Di antara faktor utamanya mereka dikenal <em>faqih fiddin</em>, pula memahami secara mendalam dimana materi dakwah itu dikomunikasikan.</p>
<p>Abu Bakar Ash Shiddiq sukses memerangi kaum <em>murtaddin</em>,  meredam gejolak dan pergolakan yang terjadi, karena khalifah yang  pertama ini disamping faqih fiddin pula pakar ilmu ethnologi (ahli di  bidang etnis, bagian dari ilmu manejemen). Beliau memahami suku mana  yang perlu digertak dengan paksa, diplomasi dan suku mana yang  memerlukan pendekatan individual (<em>dakwah fardiyah</em>).</p>
<p>Berikut  sebelas alasan agar kita bisa meneladani kebijaksanaan para pendahulu  kita yang shalih (salafus shalih) dalam berdakwah :</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, <em>tafqquh fiddin </em>(mendalam dalam pemahaman keagamaan)</p>
<p style="text-align: right;">
مَا  كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ  فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ  وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ  يَحْذَرُونَ</p>
<p><em>“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke  medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka  tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk member  peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka  dapat menjaga dirinya</em>.” (QS. At Taubah (9) : 122).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, <em>ikhlas dalam berdakwah </em></p>
<p style="text-align: right;">
ذَلِكَ  الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ  فِي الْقُرْبَى وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً  إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُو</p>
<p style="text-align: left;"><em>Itulah (karunia) yang  diberitahukan Allah  untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman  dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad) “Aku tidak meminta  kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam  kekeluargaan.” </em>(QS. Asy Syura (42) : 23).</p>
<p>Pesan Nabi kepada Muadz bin Jabal ke negeri Yaman. &#8220;<em>Murnikan motivasi dirimu, maka cukup bagimu amal yang sedikit.&#8221; </em>(al-Hadits)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, <em>memahami obyek dakwah</em></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengetahui bahasa suatu kaum, ia aman dari makar mereka, </em>“ demiian kata pepatah Arab.</p>
<p><em>“Berbicalah kalian kepada mereka sesuai dengan kadar berpikir mereka</em>.” (Al-Hadits)</p>
<p><strong>Keempat</strong>,  <em>menjadikan diri sebagai mushaf berjalan, alat peraga dakwah,  (uswah dan qudwah bagi yang didakwahi)</em></p>
<p style="text-align: right;">أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ</p>
<p><em>“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang  kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al  kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?.” </em>(al-Baqarah (2) : 44).</p>
<p><strong>Kelima</strong>, <em>mengikat hati (dakwah fardiyah) dengan kasih sayang sebelum menjelaskan sesuatu</em></p>
<p style="text-align: right;">
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِي</p>
<p><em>“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam</em>.” (QS: al-Anbiya (21) : 107)</p>
<p><strong>Keenam</strong>, <em>mengenalkan sebelum membebani secara konstan</em></p>
<p><em>“Hai  kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang  bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu  tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama  yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan  suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. keputusan itu hanyalah  kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah  selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak  mengetahui.&#8221; </em>(QS: Yusuf (12) : 39-40)</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, <em>mempermudah bukan mempersulit</em></p>
<p><em>“Permudahlah, jangan dipersulit, besarkan hati jangan membuat orang lari</em>.” (HR. Bukhari).</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, <em>mendahulukan yang prinsip sebelum cabang</em></p>
<p>Katakanlah: &#8220;<em>Sesungguhnya  aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu  menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri;  kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila  sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan  bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras</em>.” [QS: Saba (34) : 46)</p>
<p><strong>Berdua-dua </strong>atau <strong>sendiri-sendiri </strong>maksudnya  ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan keadaan  Muhammad s.a.w. itu Sebaiknya dilakukan dalam keadaan suasana tenang dan  ini tidak dapat dilakukan dalam keadaan beramai-ramai.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, <em>membesarkan hati sebelum memberi ancaman</em></p>
<p><em>“(Yaitu  Tuhan) yang telah menciptakan Aku, maka Dialah yang menunjuki Aku,  Dan  Tuhanku, yang  Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, Dan apabila aku  sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,  Dan yang akan mematikan Aku,  kemudian akan menghidupkan aku (kembali),  Dan yang amat kuinginkan akan  mengampuni kesalahanku pada hari kiamat</em>.&#8221; (QS: Asy Syu’ara (26) : 78-82).</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, <em>mendidik bukan menelanjangi</em></p>
<p><em>“Sesungguhnya  Allah telah memberi wahyu kepadaku agar kalian saling tawadhu’ (rendah  hati), sehingga tidak ada seorang pun yang sombong terhadap yang lain,  dan tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim kepada yang lain</em>.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, <em>memposisikan  diri bagaikan orangtua bagi anak, guru bagi murid, mursyid bagi salik  (penempuh jalan menuju-Nya), panglima bagi prajurit, pemimpin bagi  jamaah, kakak bagi adik</em>.</p>
<p><em>“Aku diutus untuk menjadi guru yang mempermudah jalan bagi murid (menuju Allah SWT).” </em>(al-Hadits). <em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/komunikasi-efektif-dalam-berdakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Sakit</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-sakit/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 05:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom DR. Amir Faishol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3622</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id – Banyak orang tidak merasa nikmatnya kesehatan kecuali setelah sakit. Sementara ketika sehat seringkali seseorang lalai. Lalai akan agungnya Allah yang telah memberikan kesehatan, sehingga selama sehat justru semakin jauh dari Allah. Lalai akan kewajibannya kepada Allah, sehingga selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id – </strong>Banyak orang tidak merasa nikmatnya kesehatan  kecuali setelah sakit. Sementara ketika sehat seringkali seseorang  lalai. Lalai akan agungnya Allah yang telah memberikan kesehatan,  sehingga selama sehat justru semakin jauh dari Allah. Lalai akan  kewajibannya kepada Allah, sehingga selama sehat banyak kewajiban yang  diabaikan. Lalai akan dirinya, sehingga selama sehat banyak mengkonsumsi  sesuatu yang terlarang dan menyebabkan datangnya penyakit. Satu contoh  misalnya rokok. Semua dokter mengatakan bahwa rokok mengandung banyak  penyakit. Di semua iklan ditegaskan bahwa rokok akan menyebabkan  penyakit kanker dan kemandulan. Namun ternyata banyak orang sehat laki  dan perempuan yang secara terang-terangan sengaja merokok. Padahal  ketika penyakit menyerangnya ia tahu apa penderitaan yang harus ia  rasakan. Inilah makna ungkapan pepatah Arab yang sangat terkenal : <em>ash shihhatu taajun ‘alaa ruusil ashihhaa’ laa yadzuuquhuu illal mardha</em> (kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat yang tidak terasa kecuali ketika ia sakit).</p>
<p>Allah  swt  sangat sayang kepada makhluk-Nya. Maka seluruh yang Allah berikan  untuk makhluk-Nya adalah yang terbaik (ath tahyyibaat).  Dan seluruh  yang tidak baik (al khabaaits) Allah haramkan. Allah haramkan khamr  karena merusak akal. Dari sini kita tahu betapa Allah mengajarkan agar  manusia selalu menjaga akalnya supaya tetap menjadi manusia yang normal.  Allah haramkan zina, karena dari perzinaan nasab akan hilang, lebih  dari itu perzinaan banyak menyebabkan timbulnya berbagai penyakit tidak  hanya penyakit fisik tetapi lebih dari itu penyakit mental. Betapa  banyak para pezina menjadi pembunuh. Itulah sebabnya mengapa dalam surah  Al Isra’ Allah menggandengkan ayat larangan atas zina dengan ayat  mengenai pembunuhan. Lain dari itu Allah haramkan babi sebab tugas babi  bukan untuk dimakan, melainkan untuk menyerap bakteri dan kotoran.  Itulah sebabnya mengapa babi suka makan yang kotor-kotor.</p>
<p>Namun  sayangnya panduan keselamatan yang Allah ajarkan, seringkali diabaikan.  Banyak orang tidak suka patuh kepada Allah. Padahal setiap ajaran Allah  pasti benar dan pasti mengantarkan kepada kebahagiaan.  Lebih-lebih  akhir-akhir ini di saat materialisme menguasai jiwa manusia, iman kepada  Allah semakin tipis. Manusia lebih suka bergantung kepada makhluk dari  pada kepada Allah. Coba Anda tanya kepada orang-orang terdekat di  sekitar Anda, siapakah yang pertama kali mereka ingat ketika sakit.  Mereka rata-rata  akan menjawab dokter. Dari sini nampak bahwa dokter  seakan penyebab kesembuhan.  Di manakah Allah <em>asy  syaafii</em> dalam jiwa mereka? Apakah sampai sejauh ini manusia merendahkan Allah?  Apakah sampai setingkat ini manusia merasa independent dari Allah?</p>
<p>Sungguh  tidak mungkin bahagia manusia yang jauh dari Allah. Ingatlah bahwa  ternyata sangat banyak contoh-contoh kelemahan manusia. Dan ini terasa  ketika seseorang sakit. Satu contoh misalnya, saya ketika ditimpa radang  pita suara, saya berkali-kali datang beberapa dokter spesialis THT.  Penelitian mereka lakukan. Lalu mereka tentukan obat. Begitu obat saya  konsumsi ternyata lambung saya terkena dampak obat tersebut. Seketika  saya hentikan obat untuk radang pita suara. Saya segera ke dokter lain  untuk mengobati lambung. Setelah lambung saya sembuh saya kembali  mengkonsumsi obat untuk radang pita suara. Namun ternyata setelah sekian  lama saya konsumsi obat sesuai yang ditentukan dokter, justru suara  saya semakin hilang. Akhirnya saya lari ke dokter alternatif,  akupunktur, tetapi hasilnya masih tidak ada. Alternatif lain saya  datangi ahli refleksiologi, juga tidak ada hasilnya. Terakhir saya  datangi dokter herbalist, dan sampai sekarang saya masih mengkonsumsi  obat herbal. Namun juga belum nampak hasilnya.</p>
<p>Perhatikan apa yang  saya dapatkan dari kenyataan ini adalah bahwa sungguh manusia sangat  lemah. Dan penyakit yang Allah berikan tidak lain untuk mengingatkan  hakikat kelemahan ini. Bahwa manusia harus selalu bergantung kepada  Allah. Bahwa sebaik-baik hamba adalah yang paling banyak bergantung  kepada Allah. Datangnya penyakit adalah salah satu tanda supaya seorang  hamba semakin memperkokoh ketergantungannya kepada Allah.  Bila ini yang  disadari setiap orang yang sakit, sungguh lama kelamaan tidak ada di  muka bumi ini orang berani melawan Allah. Karena paling tidak seseorang  jika tidak terkena penyakit,  minimal ia akan selalu melihat orang-orang  yang sakit. Semuanya mengingatkan akan makna ini. Makna di mana  seseorang benar-benar merasa dan yakin bahwa hanya Allahlah Penyembuh.  Dokter dan obat yang ditentukan tidak pernah menjamin kesembuhan. Karena  itu banyak upaya para dokter yang gagal. Bukankah sudah saatnya manusia  selalu belajar dari setiap penyakit yang dirasakan dan yang disaksikan  di sekitarnya?  <em>Wallahu a’lam bishshswab.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/rahasia-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka Pintu Rizki Yang Barakah</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 05:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3659</guid>
		<description><![CDATA[إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.<br />
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.</p>
<p>Ikhwani Rahimakumullah!<br />
Predikat iman dan taqwa inilah yang senantiasa kita syukuri, sebab iman dan taqwa itu adalah dua daun pintu bagi terbukanya rizki kita yang penuh barakah, bukan rizki yang haram yang dilaknat Allah.<br />
Al-Qur’an menegaskan (QS:7 Al-Araf: 96)<br />
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.<br />
Ibnu Katsir menjelaskan syarat-syarat iman dan taqwa itu adalah hatinya beriman pada apa yang dibawa oleh Rasulullah, membenarkan dan mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan perbuatan keharaman. (Tafsir III hal: 100)<br />
Ikhwani rahima kumullah!<br />
Diantara buah-buah iman bagi kaum Mukminin antara lain adalah:<br />
<strong>Pertama</strong>, taqwa itu sendiri, menjaga diri dari dosa, ancaman siksa, bahaya dan membuka pintu rizki karena Allah berfirman (QS; Ath Thalaq : 2-3):<br />
Artinya: Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengada-kan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.<br />
Jamaah Jum’ah rahima kumullah<br />
K<strong>edua</strong>, iman membuahkan pula taubat dan istighfar; yang akan menebar rizki untuk kita sekalian.<br />
Amiril Mukminin Umar dalam beristisqa’ atau memohon rizki, hanyalah dengan istighfar (Ruhul Maani, 29/72-73)<br />
Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ أَكْثَرَ الاِسْتغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ غَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ (رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه)</p>
<p>“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka “(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)<br />
Allah menegaskan pula dalam (QS: Hud: 3)<br />
Artinya: Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.<br />
Ikhwani rahima kumullah!<br />
Itulah taubat yang menyesali dan menghentikan dosa dan maksiat kemudian menggantikannya dengan amal shalih dan keridhaan sesama.<br />
<strong>Ketiga: </strong>Iman membuahkan TAWAKKAL, yaitu berusaha dengan disertai sikap menyandarkan diri hanya kepada Allah yang memberikan kesehatan, rizki, manfaat, bahaya, kekayaan, kemiskinan, hidup dan kematian serta segala yang ada, tawakkal ini akan membukakan rizki dari Allah, sebagaimana janjinya dalam QS: 65 At-Thalaq: 3):<br />
Artinya: Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.<br />
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memberikan contoh tentang bertawakkal yang sesungguhnya dengan bersabda:</p>
<p>لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُلِّهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُحُ بِطَانًا (رواه الترمذى).</p>
<p>“Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rizki sebagai-mana rizki-rizki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Timidzi No. 2344).<br />
Ikhwani rahima kumullah!<br />
<strong>Keempat: </strong>Iman dan taqwa membuahkan taqarrub yang berupa rajin mengabdi bahkan sepenuhnya mengabdi beribadah kepada Allah lahir bathin khusu dan khudhu.<br />
Beribadah yang sepenuhnya akan dapat membuka rizki Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :</p>
<p style="text-align: right;">يَقُوْلُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أَمْلأُ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلأُ يَدَيْكَ رِزْقًا، يَا ابْنَ آدَمَ، لاَ تُبَاعِدْنِي فَأَمْلأُ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلأُ يَدَيْكَ شُغْلاً (رواه الحاكم، سلسلة الأحاديث الصحيحة)</p>
<p>“Rabb kalian berkata; Wahai anak Adam! Beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam! Jangan jauhi Aku, sehingga aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan”. (HR. Al-Hakim: Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1359).<br />
Jamaah Jum’ah rahima kumullah<br />
<strong>Kelima: </strong>Iman dan taqwa membimbing hijrah fisabilillah. Perubahan sikap dari yang buruk kepada sikap kebaikan, atau hijrah adalah perpindahan dari negeri kafir, menuju negeri kaum Muslimin, menolong mereka untuk mencapai keridhaan Allah (Tafsir manar, 5: 39)<br />
Hijrah ini membukakan pintu rizki Allah dengan janjiNya dalam surat An-Nisa ayat 100:<br />
Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.<br />
Jamaah Jum’ah rahima kumullah<br />
<strong>Keenam: </strong>Iman dan Taqwa membuahkan gemar berinfaq: Yaitu infaq yang dianjurkan agama, seperti kepada fakir miskin, untuk agama Allah. Infak manjadikan pintu rizki terbuka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji dalam QS: Saba: 39)<br />
Artinya: Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.<br />
Meskipun sedikit, tetap diganti di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir 3/595) jaminan Allah pasti lebih disukai orang yang beriman dari pada harta dunia yang pasti akan binasa (lihat At-Tafsir: Al-Kabir, 25:263) dan berinfak adalah sesuatu yang dicintai Allah (lihat tafsir Takrir wat Tanwir, 22:221).<br />
Para malaikat mendoakan:</p>
<p style="text-align: right;">اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا.</p>
<p>“Ya Allah, berikanlah kepada orang-orang berinfak ganti” (HR. Bukhari No. 1442).<br />
Dari Sabda Rasulullah:</p>
<p style="text-align: right;">فَهَلْ تُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)</p>
<p>“Bukankah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah diantara kalian?” Begitu juga termasuk kelompok dhaif orang-orang yang mempelajari ilmu (lihat tafsir Al-Manar, 3:38).<br />
Ikhwani Rahima kumullah,<br />
<strong>Ketujuh</strong>, Iman dan Taqwa membuahkan pula gemar ber-silaturahmi yaitu berbuat baik kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut, kasih dan melindungi (Muqatul Mafatih, 8/645)<br />
Silaturahim ini menjadi pintu pembuka rizki adalah karena sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَاَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِيْ أَثَرِهِ فَلْيِصِلْ رَحِمَهُ.</p>
<p>“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi”. (HR. Bukhari No. 5985).<br />
Silaturahim ini menyangkut pula kerabat yang belum Islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, buka mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Namun bila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahim ini maka menjauhi adalah yang terbaik, namun tetap kita mohonkan hidayah.<br />
<strong>Kedelapan</strong>, melaksanakan ibadah haji dengan umrah, atau umrah dengan hajji yang tulus hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:</p>
<p style="text-align: right;">تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يُنَفِّيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يُنَفِّي الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحِجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ (أحمد والترمذي والنسائي وابن خزيمة وابن حبان).</p>
<p style="text-align: right;">“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesunguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat hilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga.” (Ahmad No. 3669, Timidzi No. 807, Nasa’I 5:115, Ibnu Khuzaimah No. 464, Ibnu Hibban No. 3693)<br />
Sidang jum’at rahimakumullah!<br />
Terakhir marilah kita simpulkan agar kita senantiasa ingat apa yang menjamin kita untuk memperoleh rizki Allah yang berkah di dunia dan akhirat. Yaitu Taqwallah, Istiqhfar dan Taubat, Tawakal, Taqarrub dengan ibadah, berhijrah, berinfaq, silaturrahim dan segera melaksanakan haji</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}<br />
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.<br />
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Sebagai Jalan Hidup</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 07:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3892</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; &#8220;SETIAP anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi,&#8221; demikian kutip sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim Fitrah Allah  maksudnya ciptaan Allah. Sebab manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span> </span></p>
<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong><em>&#8220;SETIAP anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi</em>,&#8221; demikian kutip sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim</p>
<p>Fitrah  Allah  maksudnya ciptaan Allah. Sebab manusia diciptakan Allah  mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak  beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama  tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan sosial. Jadi <em>gharizah tadayyun </em>adalah permanen, kecenderungan kepada kekafiran adalah susulan.</p>
<p>Batasan  agama yang lurus menurut arahan Allah SWT dan Rasulullah SAW diatas   menggunakan terma fitrah, sedangkan agama yang lain menggunakan istilah  Yahudi, Nasrani dan Majusi. Maka, makna fitrah yang benar adalah Islam  itu sendiri. Agama yang melekat dalam diri manusia sejak di alam rahim  ibu.</p>
<p>Al-Quran mengatakan, “<em>Maka hadapkanlah wajahmu dengan  lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah  menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah  Allah. (Itulah) agama yang lurus (dinul qayyim), tetapi kebanyakan  manusia tidak mengetahui.”</em> (QS. Ar Rum (30) : 3).</p>
<p>Sebelum  menjadi janin, manusia sudah bersyahadat di hadapan Allah SWT. Ketika  lahir diingatkan ulang kalimat tersebut di telinga kanan dengan suara  adzan dan di telinga kiri dengan suara iqamat. Agar dalam kehidupan yang  penuh ujian nanti, tidak sampai tergoda/tergelincir/terperosok ke dalam  jurang kehancuran (<em>darul bawar</em>), dan meninggalkan Islam. Baik, diuji dengan jabatan, kekayaan dan ilmu.</p>
<p><em>“Dan  (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari  sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya  berfirman): &#8220;Bukankah aku ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau  Tuban kami), Kami menjadi saksi&#8221;. (kami lakukan yang demikian itu) agar  di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Kami (Bani Adam)  adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).&#8221; </em>(QS. Al Araf (7) : 172).</p>
<p>Berpaling  dari Islam adalah menyiksa dirinya sendiri. Karena ia melempar dimensi  spiritual di dalam dirinya. Maka kehidupan manusia akan mengalami  kehampaan (krisis makna). Apa yang diburu dan dimilikinya tidak menambah  kebaikan dirinya, keluarganya dan lingkungan sosialnya (tidak barakah).</p>
<p>Jadi,  karunia yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah lazzatur ruh  (keezatan spiritual), lazzatul Iman wal Islam (kenikmatan beriman dan  berislam). Sekalipun kita menggenggam kekayaan dunia tujuh turunan,  kekuasaan yang tanpa pensiun, ilmu yang tinggi (<em>sundhul langit</em>,  Bhs Jawa), kehidupan yang memiliki pengaruh yang besar, popularitas,  tetapi tidak ditemani oleh Islam akan membuat kita kecewa seumur hidup.  Sedangkan, sekalipun kita tinggal di gubug reot, di balik jeruji, di  rumah kontrakan, kehidupan pas-pasan, jika islam bersama kita, justru  disitulah rahasia kemuliaan, dan kebahagiaan kita.</p>
<p>Berbeda dengan <em>dunya </em>(sesuatu yang dekat), <em>mata’ </em>(kepuasaan  sesaat), nikmat dinul Islam hanya diberikan kepada hamba yang  dicintai-Nya. Itulah sebabnya banyak sekali orang yang menyatakan  dirinya secara formal memeluk Islam, tetapi dalam realitas kehidupannya  ada yang merasa tidak nyaman dengan atribut keislaman. Bahkan Islam yang  indah dan mulia tersebut disalahpahami. Dahulu Islam ditambah-tambah.  Kemudian Islam dikurangi. Islam tanpa jihad, Islam tanpa hudud (hukum pidana). Sekarang  ini Islam diberi embel-embel lain. Islam radikal, Islam moderat dll.  Islam masih dipandang belum sempurna. Sehingga memerlukan pengurangan  dan penambahan, sehingga dia tidak merasa at home untuk memakainya.</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinullah</strong></p>
<p>Nama  Muslim bukanlah nama yang diberikan oleh orangtua kita, bukan pula  warisan nama yang diberikan oleh nenek moyang kita, bukan pula nama yang  dibuat oleh Rasulullah SAW. Yang memberi nama seseorang sebagai Muslim  adalah Allah SWT sendiri.<br />
Allah SWT memberi standar (ukuran),  criteria (sifat), status (posisi) orang tertentu yang memenuhi  kelayakan sebagai Muslim. Tentu, Muslim disini adalah Muslim hakiki,  lahir dan batin, <em>hissiyyan wa ma’nawiyyan </em>(penampakan lahiriyah dan batiniyah).</p>
<p>Jadi,  Muslim adalah sebuah nama yang agung, yang bersumber dari Tuhan Yang  Maha Mulia. Sejak sebelum Rasulullah SAW diutus di muka bumi ini.</p>
<p><em>“Dan  berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.  Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu  dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia  (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu  [kitab-kitab yang diturunkan sebelum Rasulullah SAW], dan (begitu pula)  dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan  supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah  sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia  adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik  penolong.” </em>(QS. Al Hajj (22) : 78).</p>
<p>Dahulu para sahabat  sangat bangga menjadi Muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam.  Tiada lagi selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa,  kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku  adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya,  ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak  mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang,  ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan  bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian  dari keluarga Muhammad saw.”</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinul Insaniyyah </strong></p>
<p>Jika  merujuk nama manusia menggunakan istilah ‘Al-Insan’ mengandung  pengertian yang mendalam. Dari kalimat tersebut melahirkan makna turunan  ‘<em>al-Uns’</em> (harmonis). Ini menunjukkan sesungguhnya sifat dasar manusia mudah untuk menjalin komunikasi dengan yang lain (<em>makhluqun madani</em>),  meminjam istilah Ibnu Khaldun. Sesungguhnya inti dinul Islam adalah  pandai bergaul (ad-Dinu huwal mua’amalah). Indikator kecintaan Allah SWT  kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut dicintai orang-orang  terdekatnya.</p>
<p>Jika terhadap komunitas terdekat tidak memiliki jiwa besar. Mustahil  bisa berinteraksi dengan lingkungan social yang lebih luas. Lingkungan  terdekat secara minimal terdiri dari 160 KK. Empat puluh KK arah depan.  Empat puluh KK arah belakang. Empat puluh KK arah kiri. Dan empat puluh  KK arah kanan.</p>
<p>Karena fitrah manusia itu senang kepada perbuatan yang dikenali hati  (al-Ma’ruf). Senang kepada kejujuran, keadilan, keberanian dalam membela  kebenaran, dermawan. Dan tidak senang kepada sesuatu yang diingkari  hati (al-Mungkar). Misalnya, kebohongan, ketidak jujuran, kelemahan,  kikir, egois, mau benar sendiri sekalipun tidak benar.</p>
<p>Jika dalam kehidupan manusia memarginalkan dimensi naluri kepada  sifat-sifat kemanusiaan ini, maka manusia akan menjadi srigala bagi yang  lain. Ia menjadi keras hati, tertutup.Ada sebuah pameo “ Hari ini makan  apa, besok dan lusa makan siapa”.</p>
<p><strong>Islam sebagai Manhajul Hayah</strong></p>
<p>Dalam tata bahasa Arab, Muslim adalah <em>isim fa’il </em>(pelaku) yang berasal dari kata &#8211; <em>aslama-yuslimu-islaman </em>– yang bermakna berserah diri. Dari akar kata aslama melahirkan kata turunan (derivat) – <em>at-Taslim </em>(berserah diri), <em>as-Silmu </em>(damai), <em>salima minal mustaqdzirat </em>(steril dari motivasi yang kotor), <em>as Salamu </em>(kesejahteraan), <em>as-Salamah </em>(keselamatan  lingkungan). Dari turunan terma Al-Islam telah tergambar sistem  kehidupan secara utuh. Yaitu sistem aqidah dan ibadah, sistem sosial,  sistem akhlak, sistem ekonomi, sistem penyelamatan lingkungan.</p>
<p><em>Manhajul hayah </em>artinya  menjadikan  Islam (al-Quran) sebagai panduan aturan kehidupan manusia.  Jadi seorang Muslim adalah orang yang telah menyerahkan jiwa dan  raganya, pikiran, hati dan perilakunya untuk mengabdikan diri sepenuhnya  kepada Allah SWT. Dan ia yakin dengan cara demikian ia akan merasakan  kehidupan yang damai, bisa berbuat dengan tulus, makmur, sejahtera, bisa  menyelamatkan lingkungan social dari berbagai bencana.</p>
<p>Seorang Muslim menjalankan segala aspek kehidupannya dengan merujuk  referensi Islam. Dalam skala kehidupan individu, keluarga, masyarakat,  bangsa. Sejak kelahirannya (<em>fiqh aqiqah</em>) hingga kematiannya (<em>fiqh janazah</em>). Menyangkut system ideology, politik, social budaya, pendidikan, ekonomi, pertahanan kemanan dll.</p>
<p><strong>Islam sebagai Dinul Kaun</strong></p>
<p>Sudah  kita maklumi, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tunduk kepada  suatu peraturan tertentu dan menginduk kepada undang-undang tertentu.  Matahari, bulan dan bintang-bintang semuanya patuh kepada suatu  peraturan yang permanen (tetap), tidak dapat bergeser atau menyeleweng  darinya sedikitpun meskipun seujung rambut (hukum alam).</p>
<p>Bumi berputar mengelilingi sumbunya. Ia tidak dapat beranjak dari  masa, gerak dan jalan yang telah ditetapkan baginya. Air,  udara, cahaya  dan panas semuanya tunduk kepada suatu sistem yang khas (unik).  Benda-benda yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang  tunduk kepada sesuatu ketentuan yang pasti, tidak lahir dan tidak mati  kecuali menurut ketentuan itu.</p>
<p>Demikian pula setiap fase kehidupannya, secara sistematis tunduk  kepada pemilik dan pencipta kehidupan. Sejak fase kehidupannya di rahim  ibu (berupa janin), ia hidup dengan tenang. Ia dilindungi oleh-Nya dari  gangguan suara, panas dan dingin. Kemudian menjadi bayi (shobi), ia  diajari oleh Allah menangis ketika dalam keadaan lapar. Kemudian menuju  masa kecil (thifl). Ia diajari oleh Allah SWT berbicara, merangkak,  berjalan dan berlari. Lalu menuju masa ABG (murahiq). Kemudian melawati  masa dewasa (kuhulah). Dan melewati masa syaikh (umur 40 keatas). Dua  kelemahan yang melekat pada diri anak Adam adalah masa kecil dan masa  tua. Semua fase kehidupan diatas tunduk pada ketentuan Allah SWT.  Siapapun tidak bisa menolaknya. Sekalipun mulutnya mengatakan bahwa  dirinya Yahudi, Nasrani dan Majusi. Jika manusia bisa memilih, tentu ia  ingin tidak melewati masa kecil dan masa tua. Karena masa kecil  merepotkan orang tuanya. Dan masa tua merepotkan anak-anaknya.</p>
<p><strong>Islam sebagau Dinul Hadharah</strong></p>
<p>Islam  yang diturunkan sebagai din, sebenarnya telah memiliki konsep  seminalnya (ilmiah) yang spesifik (unik) sebagai peradaban (kemajuan  hidup secara lahir dan batin). Sebab kata din (<em>dal-yak-nun</em>) itu  sendiri telah mengandung keragaman makna, ketundukan, keberhutangan  manusia kepada Tuhan, struktur kekuasaan, susunan hukum, dan  kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan  mencari pemerintah yang adil. Memiliki makna pula, kecenderungan  manusia secara fitrah kembali kepada Perjanjian Pertama Dengan Allah SWT  ketika di alam rahim ibu.</p>
<p style="text-align: right;">وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي  آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ  أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ  الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab:  &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang  demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya  kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan  Tuhan).&#8221; </em>(QS. Al-A’raf (7) : 172).</p>
<p>Dari din muncul berbagai derivasi (kata turunan), <em>daana </em>(berhutang), <em>da’in </em>(pemberi hutang), <em>dayn</em> (kewajiban), <em>dayunah </em>(hukuman/pengadilan), <em>idanah </em>(keyakinan).  Artinya dalam istilah din itu tersirat sistem kehidupan yang utuh.  Dinul Islam berarti pola kehidupan yang dibingkai oleh spirit Islam.  Paham, perilaku dan kultur kehidupan yang diserap dari nilai-nilai  ilahiyah (ketuhanan).</p>
<p>Karena itulah, pada pesan terakhir Allah pada Nabi Muhammad, menyatakan bahwa Islam sebagai agama (din) yang telah sempurnya.</p>
<p><em>“Pada  hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” </em>(QS. Al-Maidah (5) : 3).</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ  الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ  الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ  وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya  agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih  orang-orang yang telah diberi Al Kitab [yang diturunkan sebelum Al  Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena  kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap  ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”</em> (QS. Ali Imran (3) : 19).</p>
<p>Mudah-mudahan,  kita dan keluarga kita semakin istiqomah untuk berislam dan bangga  kepada pada agama Islam. Sebagaimana Allah telah mengatakan  keridhoannaya pada agama ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/islam-sebagai-jalan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bergegaslah Dalam Kebaikan</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/bergegaslah-dalam-kebaikan/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/bergegaslah-dalam-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 05:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom DR. Amir Faishol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=2985</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id  – “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id  – </strong><em>“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em> Al Abaqarah 148</p>
<p>Dalam ayat ini Allah memerintahkan <em>fastabiqul khahiraat </em>(bersegeralah dalam berbuat baik). Imam An Nawawi dalam kitabnya Riyadhush shalihiin meletakkan bab khusus dengan judul: <em>Babul mubaadarah ilal khairaat wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqbaali ‘alaihi bil jiddi min ghairi taraddud</em> (Bab bersegera dalam melakukan kebaikan, dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ragu sedikitpun). Lalu ayat yang pertama kali disebutkan sebagai dalil adalah ayat di atas. Perhatikan betapa Imam An Nawawi telah memahmi ayat tersebut sebegai berikut:</p>
<p><em>Pertama,</em> bahwa melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda, melainkan harus segera dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Karena itu semasih ada kehidupan, segeralah berbuat baik. Lebih dari itu bahwa kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Karenanya begitu ada kesempatan untuk kebaikan, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan. Karena itu Allah swt. dalam Al Qur’an selalu menggunakan istilah bersegeralah, seperti <em>fastabiquu</em> atau <em>wa saari’uu</em> yang maksudnya sama, bergegas dengan segera, jangan ditunda-tunda lagi untuk berbuat baik atau memohon ampunan Allah swt. Dalam hadist Rasulullah saw. Juga menggunakan istilah <em>baadiruu</em> maksudnya sama, tidak jauh dari bersegera dan bergegas.</p>
<p>Dalam sebuah buku tentang kisah orang-orang saleh terdahulu diceritakan salah seorang dari mereka berpesan: <em>maa ahbabta ayyakuuna ma’aka fil aakhirat if’alhul yaum. Wamaa karihta ayyakuuna ma’aka fil aakhirat utrukul yaum</em> (apa yang kau suka untuk dibawa ke akhirat kerjakan sekarang juga. Dan apa yang kau suka untuk kau tidak suka untuk di bawa ke akhirat tinggalkan sekarang juga). Ini menggambarkan sebuah sikap kesigapan dalam memilah dan memilih perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Tentu secara fitrah tidak ada manusia yang suka membawa dosa-dosa ke akhirat, kecuali orang-orang yang sudah mati hatinya. Karena itu makna <em>fastabiquu</em> pada ayat di atas memang benar-benar sangat penting -kalau tidak mau dikatakan sebuah keniscayaan- untuk selalu kita amalkan.</p>
<p><em>Kedua,</em> bahwa untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolang. Imam An Nawawi mengatakan: <em>wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqabaal ‘alaihi</em>. Ini menunjukkan bahwa kita harus membangun lingkungan yang baik. Lingkungan yang membuat kita terdorong untuk kebaikan. Karena itu dalam hadits yang menceritakan seorang pembunuh seratus orang lalu ia ingin bertaubat, disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan taubat tersebut disyaratkan akan ia meninggalkan lingkungannya yang buruk. Sebab tidak sedikit memang seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. Karena itu Imam An Nawawi menggunakan <em>al hatstsu</em> yang artinya saling mendukung dan memotivasi. Sebab dari lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah.</p>
<p>Lebih dalam jika kita renungkan makna ayat <em>fastabiquu</em> kita akan menemukan makna bahwa di mana kita memang harus menciptakan lingkungan. Sebab dalam kata tersebut terkandung makna “berlombalah”. Dalam perlombaan tidak mungkin sendirian, melainkan harus lebih dari satu atau lebih. Maka jika semua orang berlomba dalam kebaikan, otomatis akan tercipta lingkungan yang baik. Karena dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran,133: <em>wasaari’uu ilaa maghfiratin mirrabbikum</em> di sini Allah swt. menggunakan kalimat <em>wa saari’uu</em> diambil dari kata <em>saa ra’a- yusaa ri’u</em> maksudnya tidak sendirian, melainkan ada orang lain yang juga ikut bergegas. Seperti <em>dhaaraba-yudhaaribu </em>artinya<em> </em>saling memukul. Dalam makna ini tergambar keharusan adanya lingkungan di mana sejumlah orang saling bergegas untuk berbuat baik. Bagitu juga dalam surah Al Hadid, 21, Allah berfirman: <em>saabiquu ilaa maghfiratin mirr rabbikum</em>, kata <em>saabiquu</em> mengandung makna saling berlombalah. Suatu indikasi bahwa menciptakan lingkungan yang baik adalah sebuah keniscayaan.</p>
<p>Langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang baik ini adalah dengan memulai dari diri sendiri dan keluarga. Allah swt. berfirman: <em>quu anfusakum wa ahliikum naaraa</em>. Perhatikan dalam ayat ini, Allah swt hanya focus kepada diri sendisi dan keluarga dan tidak melebar kepada masyarakat luas dan Negara. Mengapa? Sebab inilah jalan terbaik dan praktis untuk memperbaiki sebuah bangsa. Kita harus memulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebuah bangsa apapun hebatnya secara teknologi, tidak akan pernah bisa tegak dengan kokoh bila pribadi dan keluarga yang ada di lamanya sangat rapuh.</p>
<p><em>Ketiga, </em>bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam. Imam An Nawawi mengatakan: <em>bil jiddi min ghairi taraddud</em> . Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya. Rasulullah saw. bersabda: <em>baadiruu fil a’maali fitanan ka qitha’il lailill mudzlim, yushbihur rajulu mu’minan wa yumsii kaafiran, ,wa yumsii mu’minan wa yushbihu kaafiran, yabi’u diinahu bi ‘aradhin minad dunyaa</em> (HR. Muslim). Dalam hadits ini Rasulullah saw. mendorong agar segera beramal sebelum datangnya fitnah, di mana ketika fitnah itu tiba, seseorang tidak akan pernah bisa berbuat baik. Sebab boleh jadi pada saat itu seseorang dipagi harinya masih beriman, tetapi pada sore harinya tiba-tiba menjadi kafir. Atau sebaliknya pada sore harinya masih beriman tetapi pada pagi harinya tiba-tiba menjadi kafir. Agama pada hari itu benar-benar tidak ada harganya, mereka menjual agama hanya dengan sepeser dunia.</p>
<p>Uqbah bin Harits ra. pernah suatu hari bercerita: “Aku shalat Ashar di Madinah di belakang Rasulullah saw. kok tiba-tiba selesai shalat Rasulullah segera keluar melangkahi barisan shaf para sahabat dan menuju kamar salah seorang istrinya. Para sahabat kaget melihat tergesa-gesanya Rasulullah. Lalu Rasulullah keluar, dan kaget ketika melihat para sahabatnya memandangnya penuh keheranan. Rasulullah saw. lalu bersabda: Aku teringat ada sekeping emas dalam kamar, dan aku tidak suka kalau emas tersebut masih bersamaku. Maka aku segera perintahkan untuk dibagikan kepada yang berhak (HR. Bukhari).</p>
<p>Dalam perang Uhud, kesigapan untuk berbuat baik seperti yang dicontohkan Rasulullah barusan, nampak sekali di tengah sahabat-sahabatnya. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa pernah salah seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasul, apa yang akan aku dapatkan jika aku terbunuh dalam peperangan ini? Rasulullah menjawab: Kau pasti dapat surga. Seketika orang tersebut melepaskan kurma yang masih di tangannya, lalu berangkat ke tengah medan tempur dengan tanpa ragu, lalu ia berperang sampai terbunuh. (HR. Bukhari-Muslim). Subhanallah, sebuah kenyataan dalam sejarah, di mana umat Islam harus memiliki kwalitas seperti ini. <em>Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p><a href="http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/07/Bergegaslah-Dalam-Kebaikan.docx">download</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/bergegaslah-dalam-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mensucikan Jiwa dengan Sholat yang Khusyu&#8217;</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/mensucikan-jiwa-dengan-sholat-yang-khusyu/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/mensucikan-jiwa-dengan-sholat-yang-khusyu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 08:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3880</guid>
		<description><![CDATA[alhikmah.ac.id &#8211; Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah Marilah kita senantisa berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam makna yang luas, dengan berusaha  menjalankan apa yang telah dituntunkan agama dan senantiasa meninggalkan apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah</p>
<p>Marilah kita senantisa berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam makna yang luas, dengan berusaha  menjalankan apa yang telah dituntunkan agama dan senantiasa meninggalkan apa yang menjadi larangan-larangan Allah. Berupaya selalu meningkatkan kualitas keimanan dengan meningkatkan kualitas ibadah yang ada, serta berupaya pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah yang dicontohkan baginda Rosulullah saw.</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِب  [الطلاق: 2، 3]</p>
<p>”Barang siapa  yang bertakwa kepada Allah, Allah akan membuka jalan keluar bagi segala urusannya. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tiada ia sangkah.” ( Al-Tholaq : 2-3 )</p>
<p>Rosulullah saw bersabda dalam sebuah hadist Qudsi :</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّى شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّى ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً</p>
<p>”Barang siapa yang mendekat kepadaKu (kata Allah) sejengkal aku akan mendekat kepadanya sehasta, barang siapa yang mendekat kepadaKu sehasta aku akan mendekat kepadanya sedepah. Barang yang datang  kepada-Ku dengan berjalan aku akan  datang kepadanya dengan berlari, barang siapa menemuiku dengan dengan .” (HR. Bukhori-Muslim)</p>
<p>Ma’asyirol Muslimin Hafizhokumullah.</p>
<p>Di tengah aktivitas kita sehari-hari yang sibuk dengan urusan keduniaan, di selah-selah itu juga kita isi dengan ibadah rutin berupa sholat lima waktu. Namun kadang ibadah itu hanya menjadi rutinitas wajib yang kita lakukan. Padahal sholat hendaklah menjadi yang utama, sedangkan rutinitas sehari-hari adalah tambahan belaka. Tujuan sholat yang kita lakukan adalah agar jiwa kita selalu bersih dan suci dari pengaruh-pengaruh atas rutinitas mengarah kepada hal negatif dan keji. Para Rosul ’alaihimusholatu wassalaam diutus kepada umat-umat manusia dari masa ke masa adalah untuk mengingatkan umat manusia kepada ayat-ayat Allah, mengajarkan hidayah-Nya dan mensucikan jiwa dengan  ajaran-Nya,  di dalam doa Nabi Ibrahim untuk anak cucunya surat Al-Baqoroh: 129</p>
<p style="text-align: right;">رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</p>
<p>”Wahai  Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rosul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu  dan mengajarkan kepada mereka  al-Kitab dan himah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS. Al-Baqoroh: 129)</p>
<p style="text-align: right;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا</p>
<p>”Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 9-10)</p>
<p>Penyucian hati dan jiwa hanya bisa dicapai melalui berbagai macam ibadah tertentu apabila dilaksanakan secara sempurna dan memadai. Pada saat itulah terwujud dalam hati sejumlah makna yang menjadikan jiwa tersucikan dan memiliki sejumlah dampak dan pengaruh  pada seluruh anggota badan seperti lisan, mata, telinga dan lainnya.  Diantara pengaruh ibadah tersebut adalah tertanamkan pemahaman tauhid yang benar, sifat ikhlas, sabar, syukur dan jujur kepada Allah dan cinta kepada-Nya, serta terhindarkan dari hal yang bertentangan dengan aturan Allah SWT. Dengan demikian jiwa menjadi tersucikan lalu hasil-hasilnya nampak pada terkendalinya anggota badan sesuai dengan perintah Allah dalam berhubungan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat.</p>
<p>Kaum Muslimin sidang sholat jumat yang berbahagia.</p>
<p>Sarana terbesar dalam penyucian diri adalah sholat, dan pada waktu yang bersamaan sholat merupakan bukti dan ukuran dalam penyucian jiwa. Sholat merupakan sarana dalam berubudiyah kepada Allah, mewujudkan tauhid yang ikhlas dan syukur kepada Allah. Sholat adalah dzikir, gerakan berdiri, ruku, duduk dan sujud. Ia menegakkan ibadah dalam berbagai bentuk utama bagi kondisi fisik. Menegakkan sholat dapat memusnakan  bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan  kepada Allah SWT, di samping merupakan pengakuan terhadap hak pengaturan sesungguhnya oleh zat yang maha kuasa. Menegakkan sholat secara sempurna juga akan dapat memusnakan bibit–bibit ‘ujub, bangga diri dan ghurur bahkan semua bentuk kemungkaran dan sifat-sifat yang keji. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</p>
<p>”Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan kejian dan mungkar”.   (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Sholat akan berfungsi sedemikian rupa apabila ditegakkan dengan semua rukun, sunnah dan adab zhohir maupun bathin yang harus direalisasikan oleh orang yang sholat. Diantara adab zhohir ialah menunaikannya secara sempurna dengan anggota badan, dan diantara adab bathin ialah khusyu’ dalam melaksanakanya. Khusyu’ ialah yang menjadikan sholat memiliki peran yang lebih besar dalam merealisasikan nilai-nilai dan sifat-sifat yang mulia.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون</p>
<p>”Sesungguhnya  beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang–orang yang khusyu’ dalam sholatnya “(QS. Al-Mukminun: 1-2).</p>
<p>Pentingnya kedudukan khusyu’ maka  ketidakberadaannya berarti rusaknya hati. Baik dan rusaknya hati tergantung kepada ada tidaknya khusyu’ ini. Rosulullah saw bersabda :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ فِي الْجسد مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ، أَلا وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p>”Sesungguhnya dalam jasad ada suatu gumpalan; bila gumpalan ini baik maka baik pula seluruh jasad, dan apabila rusak maka rusak pula seluru jasad. Ketahuilah bahwa gumpalan itu adalah hati.” (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Seorang ulama yang banyak mengorbankan hidupnya untuk berdakwah di jalan Allah, Syeikh Said Hawwa suatu ketika menyampaikan: ”Sesungguhnya khusyu’ merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati, jika khusyu’ telah sirna maka berarti hati telah rusak. Bila khusyu’ tidak ada berarti hati telah didominasi berbagai penyakit yang berbahaya dan keadaan yang buruk. Bila hati telah didominasi berbagai penyakit maka telah  kehilangan kecenderungan kepada akhirat. Bila hati telah sampai  kepada  keadaan ini maka tidak ada lagi kebaikan bagi kaum muslimim. ”</p>
<p>Kaum Muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah</p>
<p>Sesungguhnya khusyu&#8217; berkaitan dengan pensucian  hati dari berbagai penyakit dan upaya merealisasikan kesehatannya. Masalah ini merupakan tema yg sangat luas sehingga para ulama memulainya dengan mengajarkan zikir dan hikmah kepada orang yang berjalan menuju Allah sehingga hatinya hidup. Bila hatinya telah hidup berarti mereka telah membersihkannya dari berbagai sifat yangg  tercelah dan menunjukkannya kepada sipat-sipat yang terpuji. Disinilah perlunya pembiasaan hati untuk khusyuk melalui kehadiran bersama Allah dan merenungkan berbagai nilai kehidupan. Khusyuk dalam sholat merupakan ukuran kekhusyukan hati, kekhusyukan seseorang dalam sholat menjadi tanda kekhusyukan hati seseorang.</p>
<p>Kaum Muslimin Hafizhokumullah</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (14)</p>
<p>”Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku”  (QS. Thoha: 14)</p>
<p>Lahiriyah perintah adalah wajib sedangkan lalai adalah lawan ingat. Siapa yang lalai dalam semua sholatnya maka bagaimana mungkin dia bisa mendirikan sholat untuk mengingat Allah SWT. Dalam sebuah hadist Rosulullah Saw bersabda: ”Sesungguhnya sholat itu ketetapan hati dan ketundukan diri”.</p>
<p>Selain sholat terdiri dari zikir, bacaan, rukuk, sujud, berdiri dan duduk, ia pun merupakan dialog dan munajat pada Allah. Bagian ini adalah batin, karena betapa mudahnya bagi orang yang lalai untuk mengerak-gerakkan lisannya, ia tidak menjadi ucapan bila tidak mengekpresikan apa yang di dalam hati, dan ia tidak menjadi  ekpresi jika tidak disertai dengan kehadiran hati.</p>
<p>Apa artinya permohonan dalam firman Allah:  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  ”Tunjukilah kami kejalan yang lurus”.  Jika hati  tetap lalai? Jika tidak dimaksudkan kerendahan hati dan doa, betapa mudahnya diucapkan lisan dengan hati yg lalai, terutama bila telah menjadi kebiasaan.</p>
<p>Kehadiran hati adalah ruh sholat. Batas minimal keberadaan ruh ini ialah kehadiran hati pada saat takbiratul ihram. Bila kurang dari batas minimal ini berarti kesiaan dan kelalaian. Semakin bertambah kehadiran hati semakin bertambah pula ruh tersebut dalam bagian-bagian sholat.</p>
<p>Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Imam Ghozali Rahimahullah seperti yang disebutkan oleh Syeikh Said Hawa dalam kitab Al-Mustakhlash Fii Tazkiyatil Anfus merangkum makna-makna untuk menciptakan kekhusyukan ini dalam enam hal, yaitu: kehadiran hati, tafahhum, ta’zhim, haibah, rojaa’, dan haya’.</p>
<p>Pertama : Kehadiran hati, yang dimaksud menghadirkan hati adalah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak boleh mencampuri dan mengajaknya berbicara, sehingga pengetahuan tentang perbuatan senantiasa menyertainya dan pikirannya tidak berkeliaran kepada selainnya. Selagi pikiran tidak terpalingkan dari apa yang ditekuninya sedangkan hati masih tetap mengingat apa yang tengah dihadapainya dan tidak ada kelalaian dalamnya maka berarti telah tercapai kehadiran hati.</p>
<p>Kedua : Tafahhum atau kefahaman terhadap makna  pembicaraan, merupakan sesuatu di luar kehadiran hati. Bisa jadi hati hadir bersama lafadz atau bisa juga tidak. Peliputan hati terhadap pengetahuan tentang makna lafadz itulah yang dimaksudkan dengan kefahaman. Betapa banyak makna-makna yang halus yang difahami oleh orang yang tengah menunaikan sholat padahal tidak pernah terlintas di dalam hatinya sebelum itu?. Dari sinilah kemudian sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena ia memahamkan banyak hal yang pada gilirannya dapat mencegah perbuatan maksiat.</p>
<p>Sedangkan yang ketiga adalah Ta’zhim atau rasa hormat juga merupakan perkara di luar kehadiaran hati dan kepahaman, sebab bisa jadi seseorang berbicara dengan budaknya dengan hati yang  penuh konsentrasi dan faham akan makna perkataanya tetapi tidak menaruh hormat kepadanya. Dengan demikian ta’zhim merupakan tambahan bagi kehadiran hati dan kefahaman.</p>
<p>Keempat adalah Haibah, ia merupakan rasa takut yang bersumber dari rasa hormat merupakan tambahan bagi ta’zhim, bahkan ia adalah ungkapan tentang rasa takut yang bersumber dari ta’zim karena  orang yang tidak takut  tidak bisa disebut ha’ib, rasa takut dari hewan berbisa seperti ular dan kalajengking atau keburukan perangai seseorang dan sejenisnya termasuk sebab-sebab yang rendah tidak bisa disebut rasa takut yang bersumber dari rasa hormat, sedangkan rasa takut dari orang yang dihormati disebut rasa takut yang bersumber dari rasa hormat</p>
<p>Yang kelima adalah Roja’ atau rasa harap, maka tidak diragukan lagi merupakan tambahan lain untuk menjadi khusyu&#8217;. Betapa banyak orang yang menghormati seorang pejabat atau penguasa tetapi tidak diharapkan rasa balasannya. Sedangkan seorang hamba dengan sholatnya mengharapkan ganjaran Allah sebagaimana ia  takut hukuman ketika melakukan pelanggaran.</p>
<p>Adapun yang keenam Haya’ adalah rasa malu merupakan tambahan bagi semua hal di atas, karena landasannya adalah perasaan selalu kurang sempurna dan selalu berbuat dosa dan salah.</p>
<p>Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah</p>
<p>Faktor penyebab kehadiran hati adalah Himmah atau perhatian utama, karena sesungguhnya hati mengikuti perhatian utama, sehingga ia tidak akan hadir kecuali mengikuti hal-hal yang menjadi perhatian utamanya. Bila ada sesuatu yang menjadi perhatian utama seseorang maka hati pasti akan hadir. Karena hati terbentuk dan terkondisikan dengan perhatian utama tersebut. Apabila hati tidak hadir dalam sholat maka ia tidak akan pasif begitu saja tetapi pasti akan berkeliaran mengikuti urusan dunia yang menjadi perhatian utamanya. Oleh karena itu, tidak ada kiat  dan terapi untuk menghadirkan hati kecuali dengan memalingkan perhatian utama kepada sholat.</p>
<p>Sementara itu perhatian tidak akan terarahkan kepada sholat selagi belum jelas bahwa tujuan yang dicari tergantung kepadanya. Bila hal ini didukung oleh hakekat pengetahuan, keimanan dan pembenaran bahwa akherat lebih baik dan lebih kekal, dan bahwa sholat merupakan  sarana menuju ke sana. Bila hati tidak bisa hadir pada waktu munajat kepada Maha diraja yang di tanganNya segala kekuasaan, maka hal itu adalah kelemahan iman.</p>
<p>Sedangkan faktor penyebab timbulnya kefahaman, setelah kehadiran hati, ialah senantiasa berfikir dan mengarahkan pikiran untuk mengetahui makna, yaitu menghadirkan hati disertai konsentrasi berfikir dan menolak lintasan pikiran yang liar. Sedangkan cara menolak berbagai lintasan pikiran yang menyibukan itu ialah memotong berbagai hal yang menjadi bahan pikirannya, yakni membebaskan diri dari berbagai sebab-sebab yang membuat pikiran tertarik kepadanya. Bila hal ini yang menjadi bahan pikiran itu tidak dilenyapkan  maka pikirannya tidak akan terpalingkan dari padanya.</p>
<p>Kemudian ta’zhim atau rasa hormat merupakan keadaan hati yang lahir dari dua ma’rifat.</p>
<p>Pertama: Ma’rifat atau pengetahuan kita akan kemuliaan dan keagungan Allah yang merupakan salah satu dasar iman. Siapa yang tidak diyakini keagungannya maka jiwa tidak akan mengagungkannya.</p>
<p>Kedua: Ma’rifat atau mengetahui akan kehinaan diri dan statusnya sebagai hamba yang tidak memiliki kuasa apa-apa.</p>
<p>Dari kedua ma’rifat ini lahir rasa pasrah, tidak berdaya, tunduk dan khusyuk, kepada Allah yang diungkapkannya dengan pengagungan kepada Allah, selagi ma’rifat akan kehinaan diri tidak berpadu dengan ma’rifat akan kemuliaan Allah maka pengagungan kepada Allah dan khusyuk tidak akan terpadukan, karena orang yang merasa tidak memerlukan pihak lain dan merasa aman terhadap dirinya bisa saja ia mengetahui sifat-sifat keagungan tetapi kondisinya tidak mencerminkan khusyuk dan ta’zim, sebab syarat yang lain yaitu ma’rifat akan kehinaan dirinya tidak menyertainya.</p>
<p>Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat yang dimuliakan Allah</p>
<p>Sedangkan haibah atau rasa takut yang bersumber dari rasa hormat  dan takut merupakan keadaan jiwa yang lahir dari ma’rifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya. Semakin bertambah pengetahuan sesorang tentang Allah semakin bertambah haibah dan rasa takutnya kepada Allah.</p>
<p>Adapun faktor penyebab timbulnya roja’ atau rasa harap ialah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya,  keluasan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya,  khususnya janji sorga bagi orang yang sholat. Bila telah ada keyakinan kepada janji Allah dan pengetahuan akan kelembuatan-Nya maka pasti akan muncullah perasaan roja dan harap.</p>
<p>Kemudian haya&#8217; atau rasa malu akan muncul melalui perasaan serba kurang sempurna dalam beribadah dan ketidakmampuannya dalam menunaikan hak-hak Allah. Rasa malu ini akan semakin kuat dengan mengetahui kekurang ikhlasannya, keburukan batinnya dan kecenderungannya kepada perolehan dunia dalam semua amal perbuatannya. Disamping pengetahuannya akan segala konsekwensi kemulian Allah, dan bahwa Dia maha mengetahuai rahasia-rahasia dan lintasan hati sampai ke yang sekecil-kecilnya. Berbagai pengetahuan ini apabila benar-benar telah terwujudkan akan melahirkan suatu yang disebut haya’.</p>
<p>Itulah berbagai sebab dari sifat-sifat tersebut. Setiap sifat yang harus diwujudkan maka caranya adalah dengan mewujudkan sebab yang dapat memunculkannya. Ikatan semua sebab tersebut adalah keimanan dan keyakinan. Kekhusyukan hati sangat bergantung kepada ada tidaknya keyakinan.</p>
<p style="text-align: right;">وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ</p>
<p>”Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya”. (Al-Anam : 132)</p>
<p>Apa yang diperoleh setiap orang dari sholatnya sesuai kadar rasa takut, khusyuk, dan ta’zhimnya, karena tempat penilaian Allah adalah hati. Semoga Allah mengaruniakan  kelembutan dan kedermawanan-Nya kepada kita dan memberikan kekhusyukan dalam ibadah kita. Amin ya Rabbal alamain.</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/mensucikan-jiwa-dengan-sholat-yang-khusyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asbabbun Nuzul</title>
		<link>http://alhikmah.ac.id/2012/asbabbun-nuzul/</link>
		<comments>http://alhikmah.ac.id/2012/asbabbun-nuzul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 08:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulumulqur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhikmah.ac.id/?p=3888</guid>
		<description><![CDATA[&#160; PERHATIAN PARA ULAMA TERHADAP ASBABUN NUZUL alhikmah.ac.id &#8211; Para peneliti ilmu-ilmu Qur’an menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang Asbabun Nuzul. Untuk menafsirkan Qur’an ilmu ini diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri mengenai pembahasan dalam bidang itu.  Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong><strong>PERHATIAN PARA ULAMA TERHADAP ASBABUN NUZUL </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>alhikmah.ac.id &#8211; </strong>Para peneliti ilmu-ilmu Qur’an menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang Asbabun Nuzul. Untuk menafsirkan Qur’an ilmu ini diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri mengenai pembahasan dalam bidang itu.  Yang terkenal diantaranya ialah :</p>
<ul>
<li>Ali bin Madini, Guru Bukhari,</li>
<li>Abul Hasan Ali al-Wahidi (427 H)  dalam kitabnya Asbabun Nuzul,</li>
<li>Burhanuddin al-Ja’bari  (732 H) yang meringkaskan kitab al-Wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu.</li>
<li>Syaikhul Islam Ibn Hajar  al-Atsqolani ( 852 H) yang mengarang satu kitab mengenai Asbabun Nuzul.</li>
<li>Jalaluddin As-Suyuti ( 911 H) yang mengatakan tentang dirinya : ` Dalam hal ini, aku telah mengarang satu kitab lengkap, singkat dan sangat baik serta dalam bidang ilmu ini belum aad satu kitab pun menyamainya. Kitab itu aku namakan <em>Lubabul Manqul fi Asbabin Nuzul.</em><strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong>PEDOMAN MENGETAHUI ASBABUN NUZUL </strong></p>
<p>Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbabun nuzul ialah <em>riwayat sahih</em> yang berasal dari Rasulullah SAW atau dari sahabat. Itu disebabkan pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal seperti ini, bila jelas, maka hal itu bukan sekedar pendapat ( ra’y ), tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah).</p>
<p>Al- Wahidi mengatakan : ` Tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar secara langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sunggguh dalam mencarinya.` Inilah jalan yang ditempuh oleh ulama salaf. Mereka amat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu mengenai asbabun nuzul tanpa pengetahuan yang jelas.</p>
<p>Oleh karena itu, yang dapat dijadikan pegangan dalam <em>asbabun nuzul</em> adalah:</p>
<p>1)      Riwayat-ucapan ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asababun nuzul.</p>
<p>2)      As- Suyuti berpendapat : bahwa bila ucapan seorang tabi’in secara jelas menunjukkan asbabun nuzul, maka ucapan itu dapat diterima. Dan mempunyai kedudukan mursal bila penyandaran kepada tabi’in itu benar dan ia termasuk salah seorang imam tafsir yang mengambil ilmunya dari para sahabat, seperti mujahid, Ikrimah dan Said bin Jubair, serta didukung oleh hadis mursal yang lain.</p>
<p><strong></strong><strong>DEFINISI ASBABUN NUZUL </strong></p>
<p>Setelah diteliti sebab turunnya sesuatu ayat itu berkisar pada dua hal:</p>
<p><strong>Pertama :  Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Qur’an mengenai peristiwa itu. </strong></p>
<p>Contoh dalam hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas, yang mengatakan :</p>
<p>&#8221; Ketika turun, ayat :  <em>dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat</em> (QS Hijr 94),  nabi pergi dan naik ke bukit safa , lalu berseru : ` <em>Wahai kaumku </em>!&#8221;. maka mereka berkumpul mendekat ke nabi. Ia berkata lagi : ` <em>bagaimana pendapatmu bila aku beritahukan kepadamu bahwa dibalik gunung itu ada sepasukan berkuda yang hendak menyerangmu, percayakah kamu apa yang aku katakan </em>?  Mereka menjawab : : kami belum pernah melihat engkau berdusta.` Dan nabi melanjutkan: <em>‘aku memperingatkanmu tentang siksa yang pedih</em>,’ ketika itu Abu Lahab berkata : `celakalah engkau; apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini ?’Lalu ia berdiri.  Maka turunlah surah ini :</p>
<p style="text-align: right;">تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) ……..</p>
<p>Artinya : &#8221; <em>celakalah kedua tangan Abu lahab….</em>.(Surat Al-Masad)</p>
<p><strong>Kedua : Bila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Quran menerangkan tentang hukumnya. </strong></p>
<p>Contoh hal ini seperti ketika Khaulah binti Sa’labah dikenakan Zihar oleh suaminya Aus bin Samit.lalu ia datang kepada Rasulullah SAW mengadukan hal itu.</p>
<p>Aisyah berkata : ‘Maha suci Allah yang pendengarannya meliputi segalanya` aku menden gar ucapan Khaulah binti Sa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya, ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW , katanya : Rasulullah SAW suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua, dan tidak beranak lagi ia menjatuhkan zihar kepdaku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu`</p>
<p>Aisyah berkata : ` tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini :</p>
<p style="text-align: right;">قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا</p>
<p>Artinya : <em>Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya ( yakni aus bin samit).`</em>(QS Mujadalah )</p>
<p><strong><em></em></strong>Tidak setiap ayat Quran diturunkan karena adanya timbul suatu peristiwa dan kejadian yang mendahuluinya, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat Qur’an diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab, mengenai akidah iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial.</p>
<p><strong> </strong><strong>PERLUNYA MENGETAHUI ASBABUN NUZUL </strong></p>
<p>Pengetahuan mengenai <em>asbabun nuzul</em> mempunyai banyak faedah yang terpenting diantaranya :</p>
<p>1)      Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syariat terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa sebagai bentuk rahmat terhadap umat. Ini karena setiap peristiwa penting ternyata mendapat jawaban dari al-Quran.</p>
<p>2)      Mengkhususkan ( membatasi ) hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi. Bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum. Ini bagi mereka yang berpendapat bahwa ` yang menjadi pegangan adalah <strong><em>sebab yang khusus dan bukannya lafal yang umum</em></strong>.`</p>
<p>Sebagai contoh dapat dikemukakan disini firman Allah :</p>
<p style="text-align: right;">لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>Artinya : <em>Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.</em>` (al-Imran : 188 ).</p>
<p>Ada beberapa sahabat yang khawatir dengan penjelasan ayat diatas lalu menanyakan pada Ibnu Abbas : sekiranya setiap orang diantar kita yang bergembira dengan apa yang telah dikerjakn dan ingin dipuji dengan perbuatan yang belum dikerjakannya iti akan disiksa, tentulah kita semua akan disiksa.` Ibn Abbas menjawab : ` <em>mengapa kamu berpendapat demikian mengenai ayat ini ? ayat ini turun berkenan dengan ahli kitab</em>.` Kemudian ia membaca ayat sebelumnya yang berkaitan dengan ahli kitab.</p>
<p>3)      Apa bila lafal yang diturunkan itu lafal yang umum  (&#8216;aam) dan terdapat dalil pengkhususannya maka pengetahuan mengenai <em>asbabun nuzul</em> membatasi pengkhususan itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab.</p>
<p>Contoh yang demikian digambarkan dalam dua firman-Nya:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><strong> : Bahwa orang yang menuduh wanita baik-baik berzina tidak akan diampuni</strong></p>
<p>Allah SWT berfirman : `<em>Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman , <strong>mereka kena la`nat di dunia dan akhirat</strong>, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari , lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan </em>.( an-Nur : 23-25 ).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Kedua </em></strong><strong>: Bahwa orang yang menuduh wanita baik-baik berzina, masih bisa diampuni</strong></p>
<p>Allah SWT berfirman : <em>Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.<strong>Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya)</strong>, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em>(QS An-Nuur 4-5)</p>
<p>Sekilas ada pertentangan dari dua ayat di atas, yaitu orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat zina dikatakan tidak akan diampuni dalam ayat yang pertama, dan masih bisa diampuni pada ayat kedua. Maka Ibnu Abbas memberitahukan asbabun nazal ayat yang pertama : bahwa ayat tersebut turun dalam masalah Aisyah dalam peristiwa <em>Haditsul ifk</em>. Maka mereka yang menuduh Aisyah ra berzina tidak akan diampuni dunia akhirat, sementara ayat kedua hukumnya masih berlaku umum, bahwa mereka yang menuduh wanita baik-baik (secara umum) , masih mempunyai kemungkinan taubat dan diampuni. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>4)      Mengetahui sebab nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna Al-Quran Al-Karim menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya.</p>
<p>Contoh dalam masalah ini adalah ayat:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا</p>
<p>Artinya : <em>`Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi`ar Allah . Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya</em>. ( al-Baqarah : 158 ).</p>
<p>Lafal ini secara tekstual tidak menunjukkan bahwa sa’i itu wajib, sebab ketiadaan dosa untuk mengerjakan hal itu menunjukkan `kebolehan` dan bukannya ` kewajiban` sebagian ulama juga berpendapat demikian, karena berpegang kepada arti tekstual ayat itu.</p>
<p>Padahal hukum sebenarnya dari sa&#8217;I adalah wajib, bukan sekedar boleh. Lafal ayat di atas turun karena para sahabat awalnya merasa keberatan bersa’i antara safa dan marwa karena perbuatan itu berasal dari perbuatan jahiliyah. Mereka takut itu masuk pada perbuatan dosa, karenanya Al-Quran turun dengan lafad &#8220;tidak ada dosa&#8221;, untuk menjelaskan tentang bahwa sa&#8217;I bukan seperti apa yang mereka takutkan/khawatirkan.Jadi bukan untuk menjelaskan bahwa hukum sa&#8217;I itu &#8216;boleh&#8217;, karena sa&#8217;I adalah wajib.</p>
<p>5)      Sebab nuzul dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.</p>
<p>Contoh adalah : Bahwa ketika Marwan meminta agar Yazid di baiat, ia berkata: ‘( pembaiatan ini adalah ) tradisi Abu Bakar dan Umar.’ Abdurrahman menolak dan menentang seraya mengatakan : <em>‘Tradisi Hercules dan kaisar’</em>. Maka kata Marwan ; Inilah orang yang dikatakan Allah dalam Qur’an :</p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا</p>
<p>Artinya : <em>Dan orang yang berkata kepada ibu bapaknya: cis bagi kamu berdua….</em>(Al-Ahqof 17)</p>
<p>Maksudnya adalah Marwan menuduh Abdurrahman durhakan dengan menyandarkan pada ayat di atas. Kemudian perkataan Marwan yang demikian itu sampai kepada Aisyah, maka kata Aisyah:  <em>‘Marwan telah berdusta.demi Allah, maksud ayat itu tidaklah demikian, sekiranya aku mau menyebutkan mengenai siapa ayat itu turun, tentulah aku sudah menyebutkannya</em>.</p>
<p><strong></strong><strong>BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR ASBABUN NUZUL</strong></p>
<p>Dalam pembahasan tentang asbabun nuzul, ada juga permasalahan-permasahan lain yang berkaitan dengannya, yang masing-masing mempunyai bahasannya secara khusus, misalnya :</p>
<ul>
<li>Pembahasan Kaidah : <em>Al-Ibroh bi umumi al-lafdhi Laa bi khususi as-sababi</em> ( Yang Menjadi Pegangan Adalah Lafal yang Umum, Bukan Sebab yang Khusus )</li>
<li>Pembahasan seputar redaksi periwayatan asbabun nuzul</li>
<li>Pembahasan seputar banyaknya riwayat dalam asbabun nuzul sebuah ayat</li>
<li>Pembahasan seputar banyaknya ayat yang turun dengan satu sebab yang sama</li>
<li>Pembahasan seputar beberapa ayat yang turun pada seorang yang sama.</li>
</ul>
<p><em>Catatan</em> : Karena waktu yang terbatas dan untuk memudahkan santri, maka untuk pembahasan asbabun nuzul ini yang kita bahas dalam perkuliahan (<em>dirosah</em>) adalah yang berkaitan dengan kaidah : <em>Al-Ibroh bi umumi al-lafdhi Laa bi khususi as-sababi</em> ( Yang Menjadi Pegangan Adalah Lafal yang Umum, Bukan Sebab yang Khusus ). Sehingga diharapkan mahasiswa/santri bisa memperdalam pembahasan lainnya di buku-buku Ulumul Quran yang ada.</p>
<p><strong>KAIDAH :<em> AL-IBROH BI UMUMI AL-LAFDHI LAA BI KHUSUSI AS-SABAB</em></strong></p>
<p><strong>( YANG MENJADI PEGANGAN ADALAH LAFAL YANG UMUM, BUKAN SEBAB YANG KHUSUS ).</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>قاعدة : العبرة بعموم اللفض لا بخصوص السبب</strong><strong></strong></p>
<p>Pertama kali, mari kita membedakan antara dua hal, yaitu antara LAFADZ ayat dan SEBAB turunnya ayat. Begitu pula kita perlu membedakan dengan UMUM dan KHUSUS, yang disebut &#8220;<em>umum&#8221;</em> dalam pembahasan ini adalah (&#8216;aam) yaitu yang mencakup seluruh manusia atau kaum muslimin, sedangkan &#8220;khusus&#8221; yang berkaitan dengan person-person tertentu dan terbatas.</p>
<p>Karenanya, dalam kaitan antara LAFAL ayat dan SEBAB turunnya ayat, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi yang masih-masing mempunyai konsekwensi atau hukumnya masing-masing. Tiga kemungkinan tersebut adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong>Pertama : Apa bila lafal  ayat bersifat umum dan sebab turunnya pun secara umum. Maka yang diambil adalah bahwa hukum ayat tersebut bersifat UMUM </strong></p>
<p>Contoh dalam masalah ini adalah seperti firman Allah SWT :</p>
<p style="text-align: right;">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ …</p>
<p>Artinya : <em>`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . ..</em>`( al-Baqarah : 222 )</p>
<p>Lafadz &#8221; al-mahiid&#8221; di atas bersifat umum yang berarti semua wanita yang haid, begitu pula sebab turunnya ayat itu bersifat umum, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik : bahwa orang-orang Yahudi pada waktu itu, ketika istri-istri mereka sedang haidh mereka mengusirnya dari rumah, dan tidak memberi mereka makan minum dan tidak berhubungan badan dengan mereka. Maka Rasulullah pun ditanya masalah ini. Maka turunlah ayat di atas, dan Rasulullah SAW  bersabda : <em>&#8221; Lakukan apa saja selain jimak &#8220;</em> .</p>
<p>Jadi peristiswa atau pertanyaan dari sahabat kepada Rasul bersifat umum, mereka menanyakan secara umum tentang bergaul dengan istri-istri mereka yang haid secara umum, bukan satu dua perempuan atau istri mereka secara khusus. Karenanya, hukum ini juga berlaku umum bagi semua wanita haid.</p>
<p><strong>Kedua : Apabila lafal ayat bersifat khusus dan sebab turunnya pun khusus pada perseorangan tertentu, maka yang diambil adalah bahwa hukum ayat tersebut bersifat KHUSUS</strong></p>
<p>Contoh dalam hal ini adalah firman Allah SWT:</p>
<p>وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21</p>
<p>Artinya : `<em>Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu ni`mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha TInggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.`</em> ( al-Lail : 17-21 )</p>
<p>Ayat-ayat diatas diturunkan mengenai Abu Bakar. Kata al-atqa ( orang yang paling taqwa ) menurut tasyrif terbentuk <em>af’al </em>untuk menunjukkan arti <em>superlatif, tafdil</em> yang disertai al-‘adiyah ( kata sandang yang menunjukkan bahwa kata yang dimasukinya itu telah diketahui maksudnya ), sehingga ia dikhususkan bagi orang yang karenanya ayat itu diturunkan. Jadi secara lafal memang khusus dan sebabnya adalah khusus, karena itu ayat ini harus ditafsiri khusus tentang Abu Bakar As-Shiddiq, bukan umum kepada kaum muslimin.</p>
<p><strong>Ketiga : Jika sebab ayat itu adalah hal khusus berkaitan dengan orang tertentu, sedang lafal ayat yang turun berbentuk umum.</strong></p>
<p>Dalam kasus inilah, kaidah diatas menjadi perdebatan di antara ulama ushul, apakah yang dijadikan pegangan adalah &#8220;lafal yang umum&#8221; ataukah &#8220;sebab yang khusus&#8221; . Berikut masing-masing pendapat dan dalil-dalinya.</p>
<p><strong>1) </strong><strong>Jumhur ulama berpendapat : </strong> bahwa yang menjadi pegangan adalah lafal yang umum dan bukan sebab yang khusus, sehingga hukum/pelajaran yang diambil adalah umum berlaku pada semua orang.</p>
<p>Misalnya :  ayat <em>Li’an</em> (prosesi sumpah antara suami istri untuk menolak dari tuduhan zina) yang turun mengenai tuduhan Hilal bin Umaah kepada isterinya :</p>
<p>Dari Ibn Abbas, Hilal bin Umayah menuduh isterinya telah berbuat zina dengan Syuraik bin Sahma dihadapan Nabi.</p>
<p>Maka Nabi berkata          : ‘<em> Harus ada bukti, bila tidak maka punggungmu yang didera.</em>’</p>
<p>Hilal berkata                       : ‘Wahai Rasulullah , apa bila salah seorang diantara kami melihat seorang laki-laki mendatangi isterinya; apakah ia harus mencari bukti `.</p>
<p>Rasulullah menjawab     : <em>‘Harus ada bukti, bila tidak maka punggungmu akan yang didera.’</em></p>
<p>Hilal berkata                       <img src='http://alhikmah.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> emi yang mengutus engkau dengan kebenaran, sesungguhnya perkataanku itu benar dan Allah benar-benar akan menurunkan apa yang membebaskan punggungku dari dera.’</p>
<p>Maka turunlah Jibril as dan menurunkan kepada Nabi ayat :</p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9)</p>
<p><em>Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la&#8217;nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar</em>. (QS Nuur 6-9)</p>
<p>Hukum yang diambil dari lafal yang umum ini : &#8221; <em>walladzi yarmuuna azwajahum</em>&#8221; ( dan orang-orang yang menuduh isterinya ) tidak hanya khusus mengenai peristiwa Hilal bin Umayyah, tetapi diterapkan pula pada kasus yang serupa lainnya tanpa memerlukan dalil lain. Inilah pendapat yang kuat dan paling sahih. Pendapat ini sesuai dengan keumuman ( universalitas ) hukum-hukum syariat.</p>
<p>Dan ini pulalah jalan yang ditempuh para sahabat dan para mujtahid umat ini. Mereka menerapkan hukum ayat tertentu kepada peristiwa-peristiwa lain yang bukan merupakan sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Misalnya ayat zihar dalam kasus Aus bin Samit, atau Salamah bin Sakhr sesuai dengan riwayat mengenai hal itu berbeda-beda. Berdalil dengan keumuman redaksi ayat-ayat yang diturunkan untuk sebab-sebab khusus sudah populer dikalangan ahli.</p>
<p><strong>2) </strong><strong>Segolongan ulama berpendapat</strong> :  bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafal yang umum, karena lafal yang umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus. Oleh karena itu untuk dapat diberlakukan kepada kasus selain sebab diperlukan dalil lain seperti <em>qiyas</em> dan sebagainya, sehingga pemindahan riwayat sebab yang khusus itu mengandung faedah; dan sebab tersebut sesuai dengan musababnya seperti halnya pertanyaan dengan jawabannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhikmah.ac.id/2012/asbabbun-nuzul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

