kampus pejuang dakwah

Menyegerakan Amal Kebaikan

alhikmah.ac.id – Penghujung tahun Hijriyah hadir kembali. Seyogiyanya silih berganti waktu menghantarkan orang-orang yang berakal kembali ‘ingat’ kepada Tuhannya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imran: 190-191).

‘Ingat’ kepada Allah SWT menjadi titik tolak seseorang sadar diri dan sadar amal, sadar lahir dan batin. Kesadaran tersebut harus disambut dengan segera beramal, menjauhi kemalasan dan sikap menunda, karena sifat malas dan menunda merupakan penyakit yang bisa membuat seseorang tertinggal dan terbelakang. Ini merupakan sunatullah dalam kehidupan Dunia. Sebagaimana berlaku terhadap individu, juga pada konteks yang lebih luas; masyarakat, Bangsa dan Negara. Sifat malas merupakan diantara penghalang utama dalam menggapai keberhasilan. Dengan kesungguhan saja seseorang belum tentu bisa meraih keinginan, apalagi jika bermalas-malasan. Jika hal ini berlaku pada keinginan-keinginan Duniawi yang notabene capaiannya bersifat fana dan terbatas, maka pasti juga berlaku dalam konteks keinginan ukhrawi yang bermuara pada kehidupan bahagia di Surga kelak. Surga Allah yang amat mahal harganya menuntut seseorang untuk bergegas dan bersungguh-sungguh melakukan kebaikan. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. bersabda: “”Barangsiapa yang takut niscaya ia berjalan di permulaan malam, dan barangsiapa yang berjalan di permulaan malam niscaya ia sampai ke rumah. Ketahuilah, sesungguhnya barang berharga Allah swt itu sangat mahal, ketahuilah, sesungguhnya barang berharga Allah itu adalah surga.” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah pernah mengajarkan satu doa yang senantiasa beliau baca agar terhindar dari malas, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya: “Ya Allah aku berlindung   kepadaMu dari rasa gundah dan rasa sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan sifat malas, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat takut dan sifat pelit, dan aku berlindung kepadaMu dan lilitan hutang dan kesewenangan manusia”.

Musaara’ahFil Khairaat dalam Al-Qur’an

Musara’ahdalam bahasa Indonesia berarti bersegera atau bergegas. Khairaat berarti kebaikan. Kata ‘khairaat’ (kebaikan) mencakup seluruh amal kebaikan tidak terkecuali. Ruang lingkup kebaikan sangat luas. Tidak terbatas kepada satu ibadah tertentu, apakah ibadah mahdhah atau murni (seperti shalat) atau bukan mahdhah (seperti makan, minum, dan lainnya yang bisa bernilai ibadah). Pada satu hari Rasulullah Saw. pernah bertanya kepada para Sahabat: “Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang hari ini puasa? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasul bersabda: “Siapa yang hari ini sudah mengantar jenazah? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasul bersabda: “Siapa yang hari ini telah memberi makan anak orang miskin? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasul Saw. bersabda: “Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar berkata: “Saya”. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Berbagai perbuatan tadi tidak berkumpul pada diri seseorang kecuali ia akan masuk Surga”. (HR. Muslim).

Secara tegas kata variable kata musaara’ah (bersegera) Allah SWT. sebutkan dalam firmanNya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran: 133).

Pada ayat di atas Allah SWT memerintah Umat Islam untuk bersegera melakukan kebaikan agar mendapat ampunan dan Surga yang telah disediakan. Secara eksplisit, ungkapan ini menyimpan penjelasan tentang orientasi dalam bersegera melakukan kebaikan. Petikan ayat berbunyi: “kepada ampunan dan Surga”. Orientasi ini yang seharusnya hadir dalam bergegas melakukan kebaikan. Bukan sekedar orientasi “duniawi” yang bersifat fana.

Allah SWT juga menyebut musaara’ah fil khairaatsebagaisifat para Nabi dan Rasul: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (Al-Anbiyaa’: 90). Juga sebagai sifat orang-orang Mukmin. “Mereka itu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (Al-Mukminun: 61).

Keutamaan Musaara’ah Fil Khairaat

Bergegas melakukan kebaikan seringkali terasa berat, karena seseorang tidak hanya sekedar melakukan kebaikan namun lebih dari itu, ia melakukan kebaikan dengan segera. Sikap segera melakukan kebaikan ini biasanya lebih membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dari sekedar melakukan kebaikan secara ‘biasa-biasa’ saja. Namun lantaran pengorbanan tersebut, Allah SWT juga menyiapkan banyak keutamaan yang akan diraih, diantaranya:

1. Tanda baiknya keimanan seseorang.

Allah SWT berfirman: “Di antara ahli Kitab (yang masuk Islam) itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahalanya), dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran:113-115).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,  mereka itu orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan merekalah orang-orang yang akan segera memperoleh anugerah-anugerah dari Allah”. (Al-Mukminun: 59-61).

2. Penyebab terkabulnya doa.

Allah SWT menjelaskan kisah terkabulnya doa Nabi Zakaria as dan sifat beliau juga para Nabi yang menjadi penyebab terkabulnya doa: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (Al-Anbiyaa: 89-90).

3. Anugerah besar dan jalan menuju Surga

Anugerah besar Allah SWT dan jalan Surga dibentangkan bagi siapa yang bersegera dan berlomba dalam kebaikan. “Dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata”. (Al-Waqi’ah: 10-15).

Bergegas melakukan kebaikan adalah ciri Muslim yang senantiasa insaf. Tipe Muslim seperti ini akan mendapat posisi mulia di sisi Allah SWT. Menjadi Muslim tipe seperti ini adalah pilihan. Sebagaimana ada pilihan menjadi tipe yang lain. Dalam ayat lain dijelaskan: “Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. (Faathir: 32).

Tentunya pilihan menjadi Muslim yang senantiasa bergegas melakukan kebaikan memiliki konsekuensi; pengorbanan, kerja keras, kedisiplinan dan seterusnya. Namun, konsekuensi tersebut tidak sebanding dengan rahmat Allah SWT berupa balasan-balasan mulia tiada tara. Amin ya rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.

H. Ahmad Yani, Lc, MA

Share:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Technorati
kategori: Khutbah Jumat

Artikel berkaitan: