Dr. Muqoddam Cholil, M.A : Warisan Nabi untuk Generasi Z di Era Digital

Author picture
Facebook
Twitter
LinkedIn

​Jakarta Selatan – Generasi Z (Gen Z) memegang peran krusial sebagai pewaris risalah Nabi Muhammad SAW. Namun, peran ini bukan sekadar gelar. Ia menuntut fondasi keimanan yang kuat dan aksi nyata di tengah derasnya tantangan era digital, khususnya ancaman paham sekulerisme.​

Hal tersebut menjadi poin penting yang disampaikan oleh Dr. Muqoddam Cholil, M.A., dalam acara puncak Gebyar Milad Al-Hikmah yang diselenggarakan olh BEM STAI DI Al-Hikmah pada Ahad (23/11). Dalam sambutannya, ia membagikan panduan berharga bagi umat, terutama Gen Z, untuk mempertahankan kualitas diri sebagai ‘Umat Terbaik’.

​Di hadapan para hadirin, Dr. Muqoddam Cholil menegaskan bahwa predikat ‘Umat Terbaik’ tidak boleh hanya menjadi semboyan tanpa makna. Untuk mewujudkan dan mempertahankan gelar tersebut, khususnya bagi anak muda, beliau merangkum empat pilar utama yang harus ditanamkan, diantaranya menanamkan Iman yang Kuat, Iman yang sejati diwujudkan melalui dua hal mendasar, yakni melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) serta beriman sepenuhnya kepada Allah SWT.

Selanjutnya, akhlak mulia, keimanan harus dibungkus dengan perilaku terpuji. Akhlak mulia adalah cerminan dari kekuatan spiritual seseorang. Bijak dalam menata waktu di tengah berbagai distraksi, kemampuan mengatur dan memanfaatkan waktu secara efektif menjadi penentu kemajuan diri. terakhir, semangat perubahan dalam diri untuk terus maju.

“Gen Z harus senantiasa memiliki dorongan kuat untuk melakukan perbaikan dan tidak stagnan dalam berproses,” tegasnya.​

​Dr. Muqoddam Cholil juga menyoroti tantangan terbesar umat Islam saat ini, yaitu mempertahankan keimanan dari infiltrasi pemahaman sekulerisme. Paham yang memisahkan agama dari urusan dunia ini dianggap sebagai ancaman serius yang mengikis fondasi spiritual.

Lebih lanjut, beliau secara spesifik mengingatkan tentang pentingnya etika dalam bermedia sosial. Generasi digital didorong untuk menjadikan media sosial sebagai sarana untuk memberi solusi yang benar. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Hujurat ayat 6, yang menekankan prinsip kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan kabar.

​”Apabila datang kepadamu seseorang yang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. Inilah yang menuntut umat untuk selalu melakukan tabayyun (konfirmasi/klarifikasi) sebelum bertindak,” ujarnya.

​”Semua kegiatan yang telah berjalan dalam Gebyar Milad Al-Hikmah menjadi wujud nyata dari saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sebuah praktik yang akan memperkuat tali persaudaraan dan keimanan umat,” pungkasnya.

Berita Lainnya