Di tengah bayang-bayang otomatisasi dan disrupsi kecerdasan buatan (AI), para sarjana baru dituntut untuk memiliki ketangguhan mental dan kontribusi nyata. Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Koordinator Kopertais Wilayah 1 DKI Jakarta dan Banten, Prof. Dr. Hj. Sururin, M.Ag., yang meminta para lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Dirasat Islamiyah (STAI DI) Al-Hikmah untuk menjadi layaknya burung elang, alih-alih sekadar menjadi burung beo.
Pesan mendalam tersebut disampaikannya dalam orasi sambutan pada prosesi Wisuda ke-2 STAIDI Al-Hikmah yang berlangsung khidmat di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), DKI Jakarta, Selasa (12/5/2026). Mengusung tema “Dari Kampus ke Karir: Membangun Masa Depan Indonesia”, acara ini mengukuhkan 247 sarjana dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
Mewakili Koordinator Kopertais Wilayah 1, Prof. Asep Saepudin Jahar yang berhalangan hadir, ia menyampaikan rasa optimisnya melihat wajah para wisudawan. Menurutnya, lulusan STAI DI Al-Hikmah memiliki distingsi atau keunggulan tersendiri yang membedakan mereka dari lulusan kampus lain.
“Tidak cukup dibekali skill, karena bersama Al-Hikmah ada para ustaz yang memberikan kekuatan spiritual. Mengapa saya katakan alumni dari Al-Hikmah Jakarta dengan Dirasat Islamiyah itu mempunyai kekhususan? Karena ada dirasat islamiyah-nya. Saya yakin betul para alumni sudah dibekali tidak hanya keterampilan, tapi juga ketangguhan menghadapi berbagai persoalan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengajak para hadirin untuk merefleksikan peran manusia di masa depan yang serba digital. “Kalau besok semuanya robot, semua pakai AI, terus manusia perannya apa? Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa terus bertahan?” tanyanya secara retoris.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia membagikan konsep psikologi positif dari Martin Seligman, yakni PERMA, yang ia padukan dengan pilar vitalitas fisik dan spiritual:
P – Positive Thinking (Husnuzan): Memiliki optimisme bahwa masa depan akan cerah.
E – Engagement (Keterlibatan): Aktif mengambil peran dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan produktif.
R – Relationship (Kolaborasi/Silaturahim): Membangun relasi lintas batas melalui berbagai media sebagai kunci ketahanan di masa depan.
M – Meaning (Makna): Menjadi manusia yang menebar manfaat bagi sesama (khairunnas anfa’uhum linnas).
A – Accomplishment (Pencapaian): Memiliki target dan rasa sukses dalam setiap fase kehidupan.
Vitalitas: Menjaga kesehatan dan kekuatan untuk beraktivitas, berdakwah, dan beribadah dengan lebih baik.
Sebagai penutup, ia memberikan perumpamaan yang menohok agar para lulusan siap mengemban amanah di tengah masyarakat luas. Ia melarang lulusan STAI DI Al-Hikmah menjadi generasi yang hanya pandai berbicara tanpa aksi nyata.
“Jadilah saudara, terutama para wisudawan dan wisudawati, sebagaimana elang, bukan sebagaimana burung beo. Kalau burung beo… yang banyak sekali bisa ngomong. Jadilah seperti elang. Elang terbang tinggi sehingga saudara punya wawasan yang sangat luas sekali, pergaulan yang luas, relasi yang luas, sehingga bisa menambah kontribusi yang bisa diberikan untuk kemaslahatan umat,” tegasnya.
Kegiatan wisuda yang juga dihadiri oleh para orang tua, wali, dan tamu undangan ini ditutup dengan apresiasi haru. Ia mengingatkan bahwa di balik toga dan gelar sarjana, ada peluh dan doa yang tak terputus. “Saya bisa merasakan bahagianya ketika anak wisuda. Kesuksesan saudara semua, para wisudawan dan wisudawati, tidak lepas dari doa dan jasa orang tua,” pungkasnya.










