Sampaikan Orasi Ilmiah, Prof. Dr. Sukro Muhab, M.Si : 92 Juta Pekerjaan Hilang, Sarjana Wajib Miliki ‘Growth Mindset’

Author picture
Facebook
Twitter
LinkedIn

Era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA) membawa gelombang disrupsi besar bagi dunia tenaga kerja. Hal ini ditegaskan oleh Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI, Prof. Dr. Sukro Muhab, M.Si., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam prosesi Wisuda Ke-2 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Hikmah (STAI DI) Al-Hikmah di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, pada Selasa (12/5/2026).

Mengusung tema “Dari Kampus ke Karir: Membangun Masa Depan Indonesia”, kegiatan yang berjalan khidmat ini menjadi simbolis pengukuhan bagi sekitar 247 sarjana dari program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Kehadiran Prof. Sukro dalam acara tersebut mewakili Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., yang berhalangan hadir karena uzur sakit.

Dalam orasinya, ia memberikan peringatan tajam mengenai skill gap (kesenjangan keterampilan) antara lulusan perguruan tinggi dan realitas industri.

“Kondisi global saat ini dalam dunia kerja kita memang ada masalah. Pertama adalah skill gap. Apa yang dikeluarkan oleh dunia kampus tidak lagi relevan, sekitar 63% lulusan perguruan tinggi tidak relevan dengan kebutuhan di lapangan,” ungkapnya di hadapan para wisudawan, pendamping, dan tamu undangan.

Ia memaparkan bahwa percepatan teknologi akan mengubah lanskap profesi secara drastis dalam satu dekade ke depan. Menurutnya, sebanyak 92 juta jenis pekerjaan konvensional akan lenyap tergerus otomatisasi.

“Nanti tidak ada lagi sopir, 10 tahun lagi Anda manggil mobil, yang hadir adalah mobil tanpa sopir yang parkir di depan rumah Anda karena dilengkapi sensor. Tapi bukan berarti kita pesimis, justru akan muncul 170 juta pekerjaan baru yang tercipta di tahun 2030 yang basisnya adalah digitalisasi,” paparnya.

Lebih lanjut, ia membeberkan sektor-sektor strategis yang akan mendominasi pada 2030, di antaranya energi terbarukan (renewable energy), ekonomi digital, bioteknologi, hingga nanoteknologi. Konsep Green Economy dan Circular Economy juga menjadi sorotan utama, yang ia kaitkan langsung dengan program strategis pemerintah saat ini.

“Semua industri ke depan harus memperhatikan lingkungan dan bebas polusi. Salah satu gagasan presiden adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah stunting, yang juga berdampak pada circular economy karena menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal dari kebutuhan telur, ayam, sayur, beras dari daerah sekitar,” terangnya.

Menyikapi tren global—di mana negara seperti Singapura, Thailand, dan Korea tidak lagi menjadikan gelar sebagai patokan utama, melainkan 73% perusahaan menuntut skill spesifik—Kemnaker kini gencar mengembangkan pelatihan Smart Skill bagi Generasi Z dan Alpha. Pelatihan ini mencakup kecakapan modern, seperti teknik bertani tanpa mencangkul menggunakan sensor digital yang dikontrol melalui ponsel pintar.

Untuk mampu bersaing dan memimpin visi Generasi Emas 2045, ia merumuskan tiga kemampuan mutlak yang harus dikuasai oleh para sarjana STAI DI Al-Hikmah. Ketiga kemampuan tersebut adalah Technical Skill yang didukung digitalisasi, Human Skill (karakter dan soft skill), serta ketanggapan dalam menangkap peluang. Puncaknya, ia menekankan pentingnya revolusi pola pikir atau mindset.

“Yang harus kita rubah adalah mindset diri kita. Jangan memiliki Fixed Mindset (menyerah dengan keadaan dan tidak mau berubah karena merasa sudah ahli). Yang diperlukan ke depan adalah Growth Mindset (cara berpikir yang terus berkembang). Tidak ada kata tidak bisa, kita harus semangat mencari ilmunya supaya bisa dikuasai. Seperti pesan Iqra’, ada motivasi bahwa dengan membaca, ilmu harus kita cari,” pungkasnya.

Pesan tajam sarat makna tersebut menjadi bekal pamungkas bagi ratusan sarjana STAI DI Al-Hikmah. Dengan tuntasnya masa studi, para lulusan kini memikul amanah besar untuk tidak sekadar mencari kerja, melainkan menciptakan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa di tengah pusaran tantangan global.

Berita Lainnya